DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Terbongkar?


__ADS_3

Sementara itu, di rumah, Mae memikirkan Alif, ia menanyakan keberadaan Alif pada Andra yang sedang bermain catur dengan temannya.


"Gua kagak tau, enggak bilang apa-apa tuh anak," jawab Andra dengan mata tetap fokus ke anak caturnya.


"Kapan sih kamu tau soal anak?"


"Ck!" decak Andra, setelah itu Andra tak menghiraukan Mae lagi.


Mae pun mencoba menghubungi Alif dan panggilannya tak dijawab olehnya.


"Apa jangan-jangan mereka ketemuan?" tanyanya pada diri sendiri.


Mae pun kembali gelisah, ia takut dengan mimpi-mimpi buruk yang belakangan ini menghantuinya.


****


Tepat jam 9 malam, Alif keluar dari rumah mewah itu, perasaannya menjadi lega setelah lulus dari semua pertanyaan Dhev dan Dhev merestui hubungan mereka, Dhev meminta pada Alif untuk menjaga Fai dengan baik, tentunya banyak lagi yang Dhev minta termasuk jangan berbuat macam-macam selama masih pacaran.


Alif pun mengiyakan dan dalam hatinya, sekarang hanya memikirkan restu dari Mae yang belum didapat.


Fai menemani Alif yang memarkirkan motornya dan di saat itu juga rombongan Dhev, Nala dan Fakhri keluar dari rumah bersamaan.


Fai menanyakan apa yang terjadi setelah melihat wajah panik keluarganya.


"Tante kamu, sayang! Dia kritis!" kata Nala seraya membuka pintu mobil dan Nala tidak lupa mengajak Fai untuk ikut.


"Alif, ayo ikut!" kata Fai seraya menahan tangan Alif dan Alif pun mengiyakan, ia mengatakan kalau akan mengikutinya dari belakang.


Fai pun tak berpikir panjang lagi, ia segera membonceng motor butut Alif dan Fakhri yang berada di mobil Dhev hanya bisa menahan perasaan tidak sukanya pada pasangan baru itu.


Dhev tak mau ribut soal anaknya yang tak ikut masuk ke mobilnya, ia membunyikan klakson pada Alif dan mengatakan untuk hati-hati.


Sekarang, semua orang sudah menuju ke rumah sakit, di sana, Amira tak kuasa melihat anaknya pun kembali kritis, Amira jatuh pingsan dan sekarang dirawat di rumah sakit yang sama.


Sesampainya di sana, Alif dan Fai tiba lebih dulu, keduanya bebas hambatan dan Alif pintar mencari jalan alternatif supaya cepat sampai.


Fai menggandeng tangan Alif membawanya ke ruang rawat Nindy dan sesampainya di sana, Nindy yang seolah merasakan kehadiran putranya itu kembali berhasil melewati masa kritisnya.


Dalam komanya, Doni menguatkan Nindy dan tidak bosan meminta Nindy untuk bangun demi Fakhrinya.


Nindy hanya bisa menggenggam tangan Doni, tak ingin berpisah darinya.


"Aku menunggumu di surga, jaga cinta kita supaya tetap utuh," pinta Doni dan Nindy pun membuka mata, hanya membuka mata dan air matanya mengalir.


Dokter menjelaskan pada Fai kalau tantenya mengalami trauma paska kecelakaan.

__ADS_1


Melihat itu, Alif merasa tidak tega dan baru menyadari kalau wanita yang waktu lalu dijenguknya bersama Arnold adalah ibu dari Fakhri dan Alif mengira kalau Fakhri adalah anak Arnold.


"Apa Fakhri anak om Arnold?" tanyanya dalam hati.


Fai dan Alif mendekat, Nindy pun berusaha menggerakkan jarinya tetapi terasa sangat sulit.


"Jarinya bergerak!" seru Fai yang melihatnya dan dokter pun kembali memeriksa.


Dokter mengatakan kalau ini kemajuan dan kemungkinan Nindy akan secepatnya sadar dari koma.


Bertepatan dengan rombongan Dhev yang baru saja tiba, Fakhri yang masih berdiri di pintu itu merasa senang mendengarnya.


Fakhri segera meminta jalan pada Fai dan Alif, ia menggenggam tangan ibunya dan meminta padanya untuk kuat dan segera bangun.


Mendengar itu, Nindy kembali kejang dan meminta semua orang untuk keluar dari ruangan itu.


Semua orang menangis dan Alif pun ikut bersedih hati, Alif mendoakan Nindy supaya bisa sembuh dan kembali berkumpul dengan keluarganya.


Seolah doanya langsung dikabulkan Nindy pun kembali tenang.


Di luar, Fai menguatkan Fakhri dan Fakhri pun memeluk sepupunya itu. Begitu juga dengan Nala dan Dhev yang saling berpelukan. Sementara Alif melihat Nindy dari celah kaca pintu ruangan ibu kandungnya.


Lalu, Dhev dan Nala teringat dengan keadaan Amira, Dhev dan Nala meninggalkan rombongan anak-anak untuk ke ruang rawat Amira, sesampainya di ruang rawat Amira, Nala mengatakan kalau Nindy baik-baik saja.


Amira yang sempat sesak nafas itu kembali lega dan mengucap mengucap syukur.


Tentunya di sana banyak hal yang dibahas oleh dokter, dokter laki-laki itu juga mengatakan kalau Nindy kembali kritis, dirinya tidak dapat menjamin kalau Nindy akan kembali berhasil melewatinya dengan baik.


Dhev terlihat lesu setelah dokter sudah begitu pasrah dengan keadaan adiknya. Dhev pun kembali ke ruangan Nindy. Di sana, Dhev menggenggam tangan adiknya.


"Bangunlah, kakak memaafkan kamu! Kita mulai semua dari awal, lihat, anak-anak sudah besar, mereka sudah dewasa, mungkin sebentar lagi mereka akan segera menikah setelah bertemu jodohnya," kata Dhev dan tak terasa air matanya menetes mengenai tangan adiknya.


Dhev meminta pada semua anak-anak untuk pulang karena hari sudah malam.


Dhev menunggu Nindy dan Nala menunggu Amira.


Sebelum pergi, Alif pamit pada Dhev dan pada Nindy.


"Tante, cepat bangun, sekarang Alif pamit dulu, lain waktu akan datang untuk menjenguk lagi."


Nindy pun kembali merespon, kali ini dua jarinya yang dapat digerakkan.


Tetapi, hanya Fakhri yang menyadari itu dan Fakhri memilih untuk diam, ia kembali harus merasakan cemburu dan kali ini karena seolah Nindy merespon Alif sedangkan Nindy tidak pernah meresponnya.


"Mah, Fakhri pulang dulu, besok Fakhri datang lagi," kata Fakhri yang kemudian mencium punggung tangan Nindy.

__ADS_1


****


Singkat cerita, setelah mengantarkan Fai pulang dengan selamat, sekarang Alif sudah sampai di rumah dan mendapatkan pertanyaan dari Mae.


"Dari mana kamu?"


"Ibunya teman Alif sakit, bu. Dirawat di rumah sakit," jawab Alif seraya mencium punggung tangan Mae.


"Enggak bohong?"


"Bu, beneran, dia sakit udah lama, Alif baru sempet jenguk." setelah itu, Alif pun meninggalkan Mae, tak ingin Mae bertanya semakin banyak lagi.


Dan seperti biasa, Mae kembali tidak tenang, disetiap ia memejamkan mata untuk tidur selalu bayangan Fai dan Alif yang datang.


Kali ini, bukan hanya Alif dan Fai yang datang dalam mimpinya, di sana ada Nindy yang ikut menyalahkan.


"Kamu jahat, Mae! Jahat! Lihat dari ulahmu! Anak dan keponakan ku saling jatuh cinta!" kata Nindy yang mengenakan pakaian serba putih.


Mae pun kembali bangun dan kali ini ia hanya terdiam, tidak histeris.


Mae teringat dengan Nindy yang tergeletak di rumah sakit, Ia akan menemuinya besok dan meminta maaf selagi Nindy masih ada, begitulah pikir Mae.


****


Benar saja, pagi-pagi sekali Mae sudah tidak ada di rumah, wanita itu pergi ke rumah sakit untuk menemui Nindy.


Di kamar itu, awalnya Mae hanya menatap Nindy yang terbaring lemah.


"Bangun kamu! Semalam kamu menyalahkan ku! Kamu enggak pernah tau gimana rasanya jadi aku! Aku hanya ingin yang terbaik buat anakku! Sekolah tinggi dah hidup berkecukupan, bebas dari bapaknya yang hanya mementingkan dirinya sendiri!" kata Mae dengan sisi egoisnya.


Lalu, Mae menangis dan tersadar kalau dirinya bersalah, semua berawal dari keegoisannya.


Mae pun duduk di kursi yang tersedia.


Ia mengajak Nindy untuk berbicara baik-baik. Mae menggenggam tangan Nindy dengan erat.


"Maafkan aku, mbak! Aku enggak ada niat jahat sama kamu! Bahkan aku merawat anak kamu dengan baik! Dan karena kebodohan ku, anakku sendiri yang ku tukar tak pernah mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya!" ucap Mae yang kemudian menangis tersedu.


"Bangun, mbak! Berikan kasih sayang itu pada Fakhri seperti aku memberikan kasih sayang untuk Alif! Selain kehidupan yang layak, aku juga mau Fakhri merasakan kasih sayang dari ibunya!" lirih Mae dan tanpa Mae sadari kalau Fakhri sudah mendengar semua, Fakhri berdiri di pintu dan sekarang menutup pintu itu dengan keras membuat Mae sadar kalau ada yang menguping.


Mae bangun dan keluar dari ruangan itu untuk melihat siapa yang mengetahui rahasianya.


Mae melihat Fakhri yang berlari membuat Mae hanya bisa meratapi kesedihannya.


Mae terduduk dan menangisi Fakhri yang sudah pasti akan membencinya.

__ADS_1


Bersambung.


Like dan komen ya all. Like itu gratis kok 🤗🤗


__ADS_2