DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Berlalu Dengan Baik


__ADS_3

Perlahan, seiring berjalannya waktu, Mamih Jimin menerima cucu angkatnya. Ririn mengambil anak dari panti asuhan Dhev dan Nala.


Mamih Jimin yang berwajah kesal itu meminta untuk menggendong Adila, ya, anak yang di adopsi oleh Ririn adalah perempuan dan diberi nama Adila.


Ririn ingin Adila dan Fai berteman baik seperti dirinya dan Nala, mengambil pengalaman yang pernah ia lewati, Ririn ingin menjadi orang tua yang baik dan mengerti anaknya.


Ririn pun memberikan Adila yang sedang digendongnya itu pada mamih mertuanya. Ririn berharap walau sekarang mamihnya tidak terseyum, tetapi untuk keesokan harinya akan tersenyum dan menerima Adila sebagai cucunya.


"Namamu siapa?" tanya mamih pada balita yang digendongnya.


Anak kecil itu tidak menjawab melainkan menarik hidung Mamih Jimin yang mancung lalu tertawa.


Melihat tawa balita itu membuat wanita tersebut sedikit ikut tersenyum. Jimin dan Ririn yang memperhatikan itu pun ikut tersenyum.


Sedikit demi sedikit, Mamih Jimin mulai belajar menerima, ia pun tidak menceritakan perihal Siti pada anak dan menantunya itu. Merasa malu, gadis desa yang ia banggakan ternyata mencuri uangnya.


Tetapi, bukan berarti mereka tidak tau, mereka tau dari papih yang bercerita.


****


Waktu terus berlalu, Dhev dan Arnold mulai terbiasa hidup bersama sebagai atasan dan bawahan, Arnold bekerja dengan serius, ia ingin membuktikan pada Dhev kalau dirinya layak untuk Fakhri.


Apakah Arnold juga akan membuktikan kalau dirinya layak untuk Nindy?


Jimin yang mengetahui kalau Arnold menjadi asisten pribadi Dhev itu merasa tidak terima, ia takut Arnold akan sering menemui istrinya atau bertemu dengan tidak sengaja.


Tetapi, Dhev meyakinkan kalau memang Ririn mencintai Jimin, maka Jimin tidak perlu khawatir. Ririn akan setia padanya, begitulah tutur Dhev.


Jimin sempat tidak percaya yang ada dipikirannya adalah membayangkan kebersamaan Ririn dan Arnold di masa lalu.


Jimin pun ingin menguji kesetiaan Ririn, ia mengatakan kalau sudah menunggu di resto, ingin mengajak makan malam anak dan istrinya di luar.


Tetapi yang di temui Ririn adalah Arnold di resto tersebut.


Jimin dan Dhev yang memperhatikan keduanya dari tempat tersembunyi itu tetap mengawasi, bahkan Jimin akan rela melepaskan Ririn apa bila memang Arnold adalah kebahagiaannya.


Melihat siapa yang menunggu Ririn yang menggendong Adila pun menghampiri, membuat Jimin sudah berpikiran yang macam-macam.


Dhev menahan bahu Jimin, meminta untuk menyaksikan sampai akhir.


Dari layar monitor yang mereka lihat dan dengar, Ririn menjelaskan pada Arnold kalau dirinya dan Jimin sudah melewati masa sulit pernikahan, walau kedepannya ada aral melintang, Ririn dan Jimin sudah saling berjanji akan melewatinya bersama.

__ADS_1


Ririn menjelaskan kalau rumah tangganya bahagia, Jimin sangat mencintainya dan menerima segala kekurangan Ririn.


Arnold hanya terdiam, ia tersadar kalau cintanya pada Ririn kini tidak bisa bersemi lagi, ia kalah cepat oleh Jimin karena harus terkurung di penjara waktu itu.


Arnold pun meminta untuk menggendong Adila dan Ririn pun memberikannya.


"Namanya Adila." Ririn memberitahu.


Arnold hanya mengangguk lalu mencium gadis kecil itu.


"Selamat atas kebahagiaan ibu kamu!" kata Arnold pada Adila dan Adila pun ingin kembali pada ibunya, ia tidak betah berlama-lama dengan Arnold.


Setelah itu, Arnold pamit pada Ririn, ia sudah bertekad akan melupakan cintanya pada Ririn.


Dhev dan Jimin yang melihat itu merasa lega, keduanya sudah bisa memastikan kesetiaan Ririn, Jimin berharap selamanya Ririn akan setia.


****


Sekarang, 17 tahun berlalu. Anak-anak yang dulunya bayi sekarang sudah menjadi remaja, Fai menjadi gadis cantik, sedikit tomboi seperti ibunya di masa muda dulu, ia pintar seperti Kenzo dan ayahnya, polos seperti ibunya, Kenzo sangat menyayangi Fai, selalu melindunginya dari incaran para pria yang hanya ingin memanfaatkan kecantikan dan kebaikan hatinya.


Kenzo tumbuh seperti Dhev, ia meniru semua yang ada di diri ayahnya, tegas, galak dan penyayang pada keluarga, tetapi, tidak memberi ampun pada siapapun yang menyakiti keluarganya.


Bukan hanya Kenzo, tetapi juga ada Fakhri yang selama ini ikut memasang badan untuk melindungi saudara sepupunya. Ia menggantikan Kenzo menjaga Fai selama di sekolah.


Fakhri tumbuh menjadi pribadi yang baik, penyayang dan juga penurut, ia selalu menuruti apapun yang Dhev dan Nala katakan. Ia menganggap keduanya adalah orang tuanya.


Fakhri juga dekat dengan Arnold yang ia ketahui sebagai paman sekretaris, atau paman kepercayaan Dhev.


Arnold memberikan perhatian pada Fakhri walau terkadang Arnold merasa kalau dirinya dan Fakhri sangat berbeda, Arnold menganggap kalau itu adalah hasil didikan Nala dan Dhev.


Bagaimana dengan kabar Nindy? Nindy masih belum bangun, walau Fakhri setiap hari mengajaknya berbicara, tetapi Nindy tetap menutup matanya. Hanya air mata yang sesekali keluar dari pelupuk matanya.


****


Sementara Alif, ia tumbuh menjadi anak yang keras, ia sering tidak mendengarkan ucapan orang, tawuran, mencuri, berbohong dan selalu melawan ucapan bapaknya yang tak pernah merawatnya. Tentu saja, apa yang dia perbuat sekarang ini adalah hasil dari mencontoh bapaknya.


Tetapi, walau begitu, Alif mendengarkan ucapan Arnold, ia pernah tertangkap karena mencuri rokok dan kebetulan Arnold melintas di area warung tersebut.


Arnold yang menolong Alif dan memberikan jaminan kalau Alif tidak akan mencuri lagi.


Sekarang, Alif bekerja pada Arnold setelah pulang sekolah, bekerja di cuci steam motornya. Sekarang, tempat cuci motor itu sudah pindah tempat, tidak di samping rumah lagi, bukan hanya cuci motor tetapi lengkap dengan salon mobil.

__ADS_1


Arnold mempercayakan urusan salon mobilnya pada temannya yang dulu ditemuinya di penjara, pria muda yang membuat dirinya sedikit terbuka hatinya dan jadilah Arnold seperti sekarang ini, Arnold kembali menjadi Arnold yang dulu.


Sepulang bekerja, Arnold memilih untuk ke salon mobilnya lebih dulu.


Di sana Alif yang baru saja selesai merawat mobil langganan itu menghampiri Arnold yang duduk di kursi panjang, matanya memperhatikan Alif, balita yang dulunya terbiasa ia tolong dan sampai sekarang hubungan baik tetap terjalin membuat keduanya selalu bertemu.


"Om, kenapa om masih kerja? Kan om udah kaya, banyak uang?" tanya Alif yang sudah duduk di samping Arnold, kedekatan Alif dan Arnold tidak dipertanyakan oleh karyawan yang lain, karena memang Arnold menyayangi Alif.


"Dhev enggak bisa hidup tanpa om, jadi om tetap kerja jadi asisten pribadinya!"


"Alif penasaran sama Om Dhev. Seperti apa sih orangnya, kayanya keras lebih keras dari om, ya?"


Mendengar itu Arnold pun menepuk bahu Alif.


"Ya, benar. Om keras tapi masih kalah keras sama dia!"


Lalu, Arnold pun mengeluarkan uang dari dompetnya. Ia meminta Alif untuk membelikan makan malam dan satu bungkus rokok kesukaannya.


"Alif mau rokok juga boleh enggak, om?" tanya Alif seraya menerima uang itu.


"Iya, belilah!" jawab Arnold seraya memperhatikan Alif.


Alif pun bangun dari duduknya, ia membeli nasi padang untuknya dan Arnold, begitu lah keseharian Alif dan Arnold.


Keesokan harinya, karena hari libur, tentu saja Jimin dan Ririn membawa Adila ke Bogor, di sana, pagi-pagi sekali, Mamih Jimin sudah membangunkan Adila.


Wanita itu membawa Adila jalan-jalan pagi untuk melihat perkebunannya yang luas.


"Kamu tau, ini semua nanti akan menjadi milik kamu!" kata Omahnya.


"Tapi...," Adila menggantung kalimatnya.


"Jangan seperti papah kamu! Menolak untuk mengurus perkebunan yang selama ini dapat membesarkannya!"


"Baik, Omah," lirih Adila kemudian, ia takut membuat Omahnya marah lebih baik mengiyakan saja, mencari aman. Padahal Adila sendiri lebih suka menjadi model.


Bersambung.


Like dan komen, ya. Jangan lupa difavoritkan juga.


Gift/votenya membuat Author makin semangat, terimakasih dukungannya❤

__ADS_1


__ADS_2