
"Maaf, mungkin aku salah ngomong jadi dikira ngusir," jawab Nala.
"Emang bener yang dibilang sama Kak Nala, gue harus banyak istirahat. Tadi ke salon, besok fitting baju, gue capek, harus istirahat biar tetap bugar pas acara nanti," timpal Nindy.
Mika hanya menghela nafas, bahkan sekarang Nindy lebih memihak Nala, padahal, sebelumnya, Nindy sangat mendorong niatan Mika untuk menjadi kakak iparnya.
"Iya udah, gue pamit, sampai ketemu di acara nanti," kata Mika, gadis berambut panjang dan terkuncir rapi itu bangun dari duduk, keluar dari kamar Nindy.
"Aku juga harus memandikan Ken, kamu jangan terlalu lelah," kata Nala dan Nindy pun menganggukkan kepala.
Seraya menunggu Ken mandi, Nala memeriksa tas dan pelajaran Ken.
Di rasa sudah cukup lama, Nala meminta pada Ken untuk menyelesaikan mandinya.
"Nanti, Bu. Masih seru!"
"Dingin, Ken. Jangan lama-lama!" kata Nala dari balik pintu.
Nala melihat jam di dinding kamar Ken, 20 menit lagi Dhev segera pulang.
"Ken, 5 menit lagi!"
"Iya, Bu."
Sebelum lima menit, Nala sudah kembali berteriak.
"Waktunya habis, Ken!" Nala mengetuk pintu kamar mandi.
"Kok cepet banget!" gumam Ken seraya keluar dari bak mandinya.
"Kamu seru main air, jadi waktu terasa cepat! Lagian jari kamu pasti udah keriput kaya nenek-nenek! Kamu mau keriput, Ken?"
"Enggak! Ken kan masih anak-anak!" kata Ken seraya membuka pintu kamar mandi.
"Handukan yang kering, jangan becek-becek, takut kepleset!" Nala mengingatkan.
"Iya ibuku yang bawel," kata Ken seraya memeluk Nala, merasa dingin dan membutuhkan pelukan hangat. Nala pun membalas, memeluk Ken, mengusap punggung putranya.
"Kan, mandinya kelamaan, jadi dingin, cepat handukan dan ganti baju!" perintah Nala dan bukan anak-anak namanya kalau segera memakai baju setelah mandi.
Ken membuka lemarinya, drama lebih dulu, bingung ingin memakai baju yang mana.
"Ken mau pakai yang mana, kalau bisa, besok disiapkan dulu baru mandi," kata Nala. Ya, Nala ingin mengajarkan Ken untuk mandiri, tidak semua harus disiapkan.
Ken juga harus belajar memilih kesukaannya.
****
Di restoran yang sudah dijanjikan, Jimin menunggu Ririn dan tidak lama kemudian, Ririn pun menampakkan batang hidungnya.
"Dia sepertinya seumuran dengan Arnold," batin Ririn setelah melihat Jimin.
"Duduk!" Jimin mempersilahkan.
__ADS_1
Ririn pun menganggukkan kepala lalu duduk.
"Langsung aja, gue mau lo jadi pacar pura-pura gue!" kata Jimin seraya menatap Ririn.
Tak ingin membuang waktu, itu lah Jimin, ada kalanya untuk serius dan ada kalanya slengean.
"Ok, tapi bayarannya harus sesuai!" kata Ririn.
"Soal bayaran tenang!" kata Jimin.
Setelah itu, keduanya makan sore bersama, setelahnya, Jimin mengajak Ririn ke apartemennya, guna untuk langsung bekerja sesuai dengan apa yang Jimin perintahkan.
Sesampainya di apartemen, Jimin sudah ditunggu oleh kedua orang tuanya.
"Assalamu'alaikum," seru Jimin seraya masuk dan tangannya menggandeng tangan Ririn.
"Mih, Pih. Kenalin, Ririn. Pacar Jims!" kata Jimin seraya memperkenalkan satu sama lain.
Kedua orang tua Jimin memperhatikan Ririn dari ujung kaki sampai ke ujung, memang terlihat cantik, imut dan wajahnya terlihat polos.
"Tapi... bagaimana dengan Siti Aisyah? Anak tetangga Mamih."
"Itu salah Mamih, dari dulu Jimin udah bilang enggak suka sama dia, mamih lihat dong, selera Jims yang seperti ini, bukan yang kampungan kaya dia!" kata Jimin seraya mendarat di sofa ruang tamu. Jimin juga mempersilahkan Ririn untuk duduk di sampingnya.
Terlihat mesra layaknya sepasang kekasih sungguhan.
"Sayang, ambilkan aku minum," kata Jimin pada Ririn, Ririn melirik pada Jimin, pasalnya, ini adalah hari pertama bagi Ririn masuk ke apartemen itu dan sudah langsung disuruh-suruh.
"Minuman dingin, di kulkas!" Jimin menatap Ririn seraya menganggukkan kepala.
Dan Ririn memperhatikan setiap ruangan yang ia lewati, tak sengaja matanya menangkap sebuah foto yang terpajang di atas televisi, di ruang tengah, foto itu memperlihatkan kebersamaan Jimin, Dhev dan Arnold.
"Dia seperti Dhev dan Arnold," gumam Ririn.
Ririn pun melanjutkan langkah kakinya, dalam hati kembali teringat dengan pria itu yang sempat mengisi hatinya lalu menghilang tanpa kabar.
"Apa Jimin tau di mana Arnold?" tanyanya pada diri sendiri, Ririn menjadi tidak fokus saat mengambilkan air dingin di kulkas.
Ririn terdiam dan duduk di kursi meja makan.
"Kenapa aku harus memikirkan orang yang hilang tanpa kabar? Biarlah... yang pergi tak usah dicari!" batin Ririn.
Dan Jimin yang sudah kehausan itu merasa tidak sabar, menyusul Ririn ke dapur.
"Hey, kenapa malah bengong, kita lagi akting ini!" kata Jimin seraya menepuk bahu Ririn.
Ririn pun menoleh pada Jimin, terlihat, ibu dan bapak Jimin juga mengekori.
"Bagaimana aku tidak bengong, pacarku dijodohkan dengan wanita desa yang lebih baik dari aku, aku takut kehilangan kamu!" ucap Ririn dan Jimin pun membulatkan mata.
Ririn memilih untuk bangun dan keluar dari apartemen Jimin.
Dan disaat berbalik badan, Jimin baru mengerti dan memuji akting Ririn sangat oke.
__ADS_1
"Mih, Pih. Kalian lihat, apa kalian tidak ingin anak satu-satunya kalian ini bahagia dengan cintanya?" tanya Jimin dengan memasang wajah memelas.
"Yang kalian takutkan selama selama ini adalah kenormalan Jims, kan? Jims normal, buktinya Jims punya pacar, cantik lagi!" kata Jimin seraya pura-pura mengejar Ririn.
"Sudah lah, Mih. Yang penting anak kita bahagia, siapa tau setelah menikah nanti dia mau jadi penerus di perkebunan kita, lebih baik kita restui saja mereka," kata Papih Jimin.
"Gimana dengan Siti Aisyah, Pih?"
"Kita bicarakan saja apa adanya," jawab Papih Jimin seraya mengusap lengan istrinya yang berbadan bahenol itu.
****
Doni baru saja selesai dengan mandinya, keluar dari kamar dengan mengusap rambutnya yang basah menggunakan handuk kecil.
Doni tidak menyadari kalau sedang diperhatikan oleh ibunya.
"Don," lirih Ibu Doni.
Doni pun melihat kearahnya.
"Iya, Bu."
"Calon kamu kan lagi hamil, biasanya, orang hamil itu ada keinginan makan sesuatu, biasa di sebut ngidam. Ibu perhatikan, kamu tidak begitu perhatian dengan dia, kasihan dia!"
"Tapi... Non Nindy tidak meminta apapun, Bu. Mungkin bayi dalam kandungannya itu mengerti dan tidak mau merepotkan orang tuanya," jawab Doni dengan entengnya.
Dan Doni pun mendapatkan pukulan di lengannya dari ibu.
Pluk!
"Kamu ini gimana to, le! Coba kamu telepon, tanyakan, dia mau apa!" perintah ibu dan Doni hanya tersenyum yang dipaksakan.
"Iya, Iya!" jawab Doni.
****
"Udah mau malem gini, di mana kita mau nyari rujak?" tanya Nala yang sedang duduk di ruang tengah bersama Nindy, Kenzo dan Amira, semua orang baru saja makan malam dan sekarang sedang menunggu guru les Ken datang.
"Iya enggak tau, tapi aku lagi pengen makan yang seger-seger," lirih Nindy.
Amira bangun dari duduk, akan meminta pada Dadang untuk mencarikannya.
Baru saja Amira bangun dari duduk, Doni sudah datang membawakan rujak.
"Assalamu'alaikum, Nyonya." Doni memberikan salam dan menganggukkan kepala.
Waalaikumsalam," sahut Amira.
"Maaf, bukannya lancang, saya membawakan rujak serut dan potong, tapi sayang tidak tau Nona Nindy menyukai yang mana," kata Doni seraya memberikan bingkisan itu.
"Kalau begitu, saya permisi," kata Doni setelah memberikan bingkisan itu.
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan difavoritkan, ya. Bagi yang berkenan, di persilahkan untuk vote gratisnya, Gift juga boleh, terimakasih atas segala bentuk dukungannya☺