DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Ciuman Pertama


__ADS_3

"Ini semua gara-gara Jimin!" gerutu Dhev yang kemudian meraih handuknya, tetapi senjata Dhev masih juga berdiri tegak, Dhev terpaksa harus menjinakkannya sendiri di kamar mandi.


Selesai dengan urusannya, Dhev merasa lega dan melanjutkan mandinya.


****


Di kamar, Kenzo tengah memeluk Nala, merasa sedih dan terus meminta maaf pada Nala.


"Tante, Ken minta maaf, Ken enggak tau kalau Tante enggak bisa berenang," lirih Ken yang sedang memeluk Nala.


"Iya, enggak papa, tapi jangan diulangi, ya!" Nala membalas pelukan Ken.


Lalu, Ken dan Nala melihat ke arah pintu, di sana sudah ada Amira yang baru saja kembali dan terlihat membawa barang belanjaan.


"Kebetulan sekali, ada Nala juga, ini Ibu belikan baju-baju baru untuk kamu, tentu aja Omah juga tidak melupakan cucu tersayang," kata Amira seraya meletakkan belanjaan itu di sofa kamar Kenzo.


Nala yang sedang duduk di kursi meja rias itu melepaskan pelukan Ken dan Ken berjalan menghampiri Amira, mencium punggung tangannya lalu membuka bingkisan yang dibawakan oleh Amira.


Amira membelikan baju baru untuk cucunya.


Amira yang sedari tadi memperhatikan raut wajah Ken yang terlihat sedih itu bertanya.


"Cucu omah kenapa? Kan Tante Nala sudah ada," kata Amira seraya membelai wajah tampan Ken.


"Tadi habis bercanda, tapi Ken-nya nangis sendiri," timpal Nala seraya bangun dari duduk, mendekat ke Amira yang duduk di sofa, meraih punggung tangan Amira lalu menciumnya.


"Pasti Ken berulah lagi!"


"Enggak omah, Ken cuma ngajak main, tapi tante tenggelam," lirih Ken, pria kecil itu masih merasa bersalah.


Amira terkejut dan menanyakan keadaan Nala.


"Enggak papa, Nala baik-baik aja kok, Bu."


Amira mengucap syukur.


"Untung ada ayah, ayah yang menolong tante, ayah juga mencium tante di bibir," kata Kenzo membuat Nala dan Amira saling menatap.


Nala menyentuh bibirnya, merasa telah kehilangan ciuman pertamanya dan ciuman itu telah diambil oleh Dhev.


Sedangkan Amira memikirkan ucapan teman-temannya yang mengatakan kalau Dhev juga lelaki normal.


"Astaga," geram Amira, wanita sudah berumur itu bangun dari duduk dan pergi ke kamar sebelah, kamar Dhev.


Amira membuka begitu saja pintu kamar Dhev, untungnya, Dhev yang baru selesai mandi itu sudah mengenakan celana santai, tetapi belum sempat mengenakan bajunya.


"Astaga, Mamah, kalau mau masuk itu ketika pintu dulu," protes Dhev seraya memakai kaos oblongnya yang berwarna putih.

__ADS_1


"Biar saja, waktu kamu kecil juga mamah yang mandikan," jawab Amira dengan ketusnya.


"Beda Mah, dulu Dhev masih anak-anak, sekarang Dhev sudah dewasa." Dhev membela diri.


"Sudah, bukan itu yang mau mamah bahas."


"Lalu?" tanya Dhev seraya menyisir rambutnya di depan cermin besar yang ada di kamarnya.


"Kamu mencium bibir Nala, Dhev?"


Deg, sudah bersusah payah melupakan rasa itu, rasa saat kedua bibir itu saling bertemu sekarang Amira mengingatkannya.


Dan Dhev merasa kalau itu bukanlah ciuman pun membela diri.


"Mah, itu nafas buatan, pertolongan pertama saat orang tenggelam," jawab Dhev seraya menatap Amira dari cerminnya.


"Sama saja, bibir ketemu bibir itu sudah-" Amira tidak melanjutkan ucapannya karena Dhev memotongnya.


"Mah, mamah mau Nala kehabisan nafas terus mati?"


"Astaga, ya bukan begitu juga! Kamu harus tanggung jawab!" kata Amira berhasil membuat Dhev melongo.


"Bertanggung jawab apa, Mah? Mamah harusnya minta Ken untuk tanggung jawab, dia yang membuat Nala tenggelam bukan Dhev."


"Susah ngomong sama kamu, nggak mau ngalah!" kata Amira dan Jimin yang berada di pintu kamar Dhev itu menimpali.


Amira dan Dhev melihat ke arah pintu dan ternyata bukan hanya Jimin yang ada di sana, sudah ada Nala dan Kenzo yang sempat mendengarkan percakapan antara Amira dan Dhev.


Dhev yang merasa tersudutkan itu memilih untuk keluar dari kamar.


"Kalian semua sekutu!" kata Dhev sebelum pergi menuruni tangga.


Kemana Dhev akan pergi?


****


Dan Nala mengajak Ken untuk makan siang, gadis itu tidak ingin Ken telat makan.


"Nala," panggil Amira saat melihat Nala berbalik badan.


Setelah itu, Amira meminta pada Ken dan Jimin untuk ke meja makan terlebih dulu.


Sekarang hanya ada berdua, Nala dan Amira.


"Ibu minta maaf ya, sayang," kata Amira seraya meraih dua tangan Nala.


"Untuk apa, Bu?" Nala menatap lekat mata Amira.

__ADS_1


"Karena Dhev," lirih Amira seraya menatap Nala.


"Benar kata om, kalau om telat memberikan pertolongan, bisa-bisa nyawa Nala sudah hilang," jawab Nala mencoba berpikir dengan jernih, walau dalam hatinya merasa tidak rela kalau ciuman pertamanya itu diambil saat dirinya sedang tidak sadarkan diri.


Sekarang, Amira menggandeng tangan Nala, membawanya turun ke lantai bawah untuk berkumpul bersama dengan yang lain, hanya Dhev tidak ada di sana, entah kemana pria itu pergi.


****


Di hotel, Nindy sedang berusaha menghubungi Arnold yang tidak ada kabar.


"Kemana sih dia, gue chat cuma ceklis aja!" gerutu Nindy seraya memperhatikan layar ponselnya.


Nindy masih berusaha berpikir positif tentang Arnold.


"Mungkin ponselnya kehabisan daya, sudah, lebih baik gue balik ke Jakarta, gue harus temuin dia!" kata Nindy seraya bangun dari berbaringnya.


Nindy mulai mengemasi barangnya dan menutupi lehernya yang masih tersisa bekas kemerahan itu dengan menggunakan baju yang memiliki kerah tinggi.


****


Tawaran yang menjanjikan dari si bos mulai menggoyahkan pendirian Ririn yang mengatakan kalau dirinya tidak akan pernah kembali pada Arnold. Karena kenyataannya, Ririn sekarang mau bekerja sama dengan si bos menjadi kesayangannya.


"Benar, apalagi yang harus gue jaga? Gue juga butuh duit, buat kontrakan dan sehari-hari keluarga gue, lagian gue enggak melayani banyak orang, cuma satu," Ririn berbicara dalam hati.


Sekarang, Ririn sudah berada di hotel yang dijanjikan oleh Arnold.


Tidak lama, pria yang membelinya itu sudah datang.


Arnold merasa senang telah melihat gadisnya kembali. Arnold pun segera memeluk Ririn yang menyambut kedatangannya.


Selepas berpelukan, Ririn segera menawarkan dirinya, membuka kancing bajunya tanpa Arnold pinta.


"Sepertinya sudah ada yang tidak sabar, apa lo merindukan gue?" tanya Arnold seraya menahan tangan Ririn supaya tidak membuka bajunya sekarang.


"Bukannya ini yang lo mau? Gue dibayar buat ini," kata Ririn seraya menatap bibir Arnold yang tepat berada di depan matanya.


"Gue enggak terbiasa melakukan ini di siang hari, bagaimana kalau kita jalan dulu," ajak Arnold seraya kembali mengancingkan baju Ririn.


Ririn merasa tersanjung mendapatkan perlakuan lembut seperti itu, merasa tidak menyesal untuk melayaninya dan mendapatkan uang yang cukup banyak.


Arnold membawa Ririn berkeliling Kota Jakarta dan membelikan barang-barang mahal untuknya.


"Sebenarnya apa pekerjaan pria ini?" Ririn mulai ingin tau tentang Arnold.


Bersambung.


Dukung terus author dengan vote, like dan komen. Jangan lupa untuk difavoritkan juga, ya. Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2