DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Suka Bilang Suka


__ADS_3

Malam ini, Dhev kembali menginap di apartemen Jimin. Keduanya bermain ps bersama, mengenang masa muda dulu.


Berbeda dengan dulu, mereka selalu bertiga dengan Arnold dan sekarang hanya berdua saja.


Teringat dengan Arnold membuat Dhev teringat dengan kematian Antoni di penjara. Kabar yang didengar adalah Antoni meninggal karena mendapatkan perlakuan buruk dari para napi lainnya.


Dan setelah itu lah Arnold berubah menjadi dingin dan selalu mencari gara-gara dengan keluarga Dhev.


Padahal, keluarga Dhev sudah berbaik hati untuk tetap membiayai sekolah Arnold sampai ke Universitas.


Dan Arnold yang sampai sekarang masih menyimpan dendam itu sedang berada di sebuah hotel, di Semarang bersama Nindy.


"Gue takut," ucap Nindy yang sudah berada di bawah selimut putih tanpa busana lagi, terlihat bekas kemerahan di area leher dan dadanya, sedangkan Arnold sedang melepaskan celana jeans.


"Takut apa? Gue bakal lakuinnya pelan-pelan!" jawab Arnold seraya melemparkan celana jeans itu ke sembarang arah.


Sekarang, Arnold sudah berada di atas Nindy, tidak sabar ingin segera menanam benih di rahimnya.


Arnold mengecup bibir tipis Nindy dan tidak ada balasan membuat Arnold bertanya.


"Kenapa?" Arnold mengangkat dagu Nindy, pria itu bersabar demi melancarkan aksinya untuk mempermainkan adik Dhev.


"Gue takut hamil," lirih Nindy seraya menatap bibir Arnold yang berada sangat dekat dengan wajahnya.


"Ngelakuin sekali nggak bikin hamil, Nin!"


"Tapi...," Nindy tidak melanjutkan perkataannya karena Arnold kembali memberikan rangsangan di leher dan di belakang telinga Nindy membuat gadis itu menggigit bibir bawahnya menahan hasrat yang sedang menggelora.


"Tapi apa?" lirih Arnold dengan sengaja menyapukan nafasnya di leher jenjang Nindy.


Nindy menjawabnya dengan menggelengkan kapala, memejamkan mata, sedangkan Arnold sudah tahu betul kalau Nindy sudah berada di bawah permainannya.


"Tapi apa?" Arnold bertanya sekali lagi, "kalau lo nggak mau nyenengin gue biar gue cari cewek lain, gue udah nggak tahan," lanjut Arnold seraya melepaskan Nindy, pria itu yang sudah tanpa busana berdiri membelakangi Nindy.


Arnold yakin dengan Nindy yang sudah terang*sang itu akan meminta dengan sendirinya. Benar saja, Nindy bangun dan memeluk Arnold dari belakang.


Nindy yang mengira kalau mood Arnold sudah rusak itu berusaha mengembalikannya dengan memuji milik Arnold yang terlihat besar dan kuat.


"Gue takut, habisnya... lihat belalai kamu sangat panjang dan kuat! Ini baru pertama kalinya gue ngeliat secara langsung." Nindy memainkan tangannya di dada bidang Arnold.


"Semua wanita yang sudah merasakan senjata ini pasti akan tergila-gila sama gue dan gue yakin kalau lo nggak bakalan nyesel!" ucap Arnold seraya berbalik badan, pria itu membopong Nindy, membawanya kembali ke ranjang dan permainan panas pun di mulai.


Benar saja apa yang dikatakan oleh Arnold, siapa yang sudah bermain dengannya tidak akan menyesal bahkan ingin mengulanginya lagi dan itu juga berlaku pada Ririn.

__ADS_1


****


Di kos Darwin, Darwin melihat kalau Ririn tidak menikmati permainan yang baru saja mereka lakukan, dengan bodohnya Ririn mengingat permainannya dengan Arnold malam itu.


Ririn menyukai gaya Arnold yang terbilang liar dan tidak membosankan, sudah begitu milik Arnold sangat kuat dan tahan lama.


"Astaga, kenapa gue inget sama lelaki breng*sek itu!" batin Ririn yang sedang memunguti pakaiannya.


Ririn terlihat biasa saja, tidak ada senyum di wajahnya seolah menyesal telah melakukan itu dengan Darwin.


Darwin yang sudah memakai pakaiannya kembali itu mengira kalau Ririn lapar sehingga kekasihnya itu terlihat murung.


"Lo laper nggak? Gue mau cari makan biar sekalian," kata Darwin seraya membantu Ririn mengenakan branya.


Ririn membalasnya dengan menggelengkan kepala. Memaksakan untuk tersenyum, karena walau bagaimana pun Darwin lah kekasihnya bukan pria itu yang usianya jauh lebih tua.


"Gue mau pulang aja, besok juga gue harus kerja," kata Ririn seraya merangkulkan lengannya di bahu Darwin.


Melihat Ririn sudah tersenyum kembali membuat Darwin ikut merasa senang dan mengiyakan permintaan, Darwin mengantarkan Ririn pulang di jam 23.00 wib.


Di perjalanan, Darwin menanyakan kapan Ririn akan siap untuk menikah, Darwin ingin segera memperistri Ririn tetapi orang tua Ririn menginginkan kalau putrinya akan menikah dengan orang berada.


"Nunggu lo sukses," jawab Ririn yang memeluk Darwin belakang.


Sesampainya di kontrakan Ririn, Darwin dan Ririn mendapatkan pertanyaan dari Adelia yang sudah menunggu di depan pintu.


"Dari mana saja kalian, lihat ini jam berapa?"


"Maaf, Tan. Tadi kami habis nonton bioskop," lirih Darwin seraya meraih tangan calon mertuanya itu.


"Iya udah, pulang sana. Besok jangan lupa jemput gue!" kata Ririn seraya mendorong bahu Darwin supaya cepat pergi dari kontrakan.


****


Di apartemen, Dhev sesekali memperhatikan Nala yang sudah tertidur, Nala tertidur di sofa dengan tangan masih memeluk snacknya.


Dhev menggelengkan kepala merasa kalau gadis itu teledor dan kurang menjaga diri.


"Untung kamu ketemunya sama orang baik, kalau ketemunya sama bajingan bisa-bisa kamu sudah habis," batin Dhev, pria itu kembali fokus pada permainannya.


"Kenapa? Kalau lo naksir bilang aja!" kata Jimin yang memperhatikan Dhev.


"Apaan sih! Emang lo kie gue pedofil!"

__ADS_1


"Ck, emangnya Nala bayi sampai lo dibilang pedofil! Lagian... kasian dia, ayahnya baru meninggal," kata Jimin dan Dhev hanya diam saja.


Dhev tidak tau harus menjawab apa, lalu Dhev membulatkan matanya saat melihat Jimin menyentuh Nala, Jimin berniat untuk memindahkan Nala ke kamarnya.


"Ngapain lo?" tanya Dhev seraya menahan tangan Jimin.


"Ya elah, gue mau mindahin ke kamar doang!"


"Biar gue aja!" kata Dhev seraya menyingkirkan tangan Jimin.


Dhev dan Jimin saling menatap.


"Kalian ngapain?" tanya Nala yang terbangun saat mendengar suara berisik di depan matanya.


Dhev dan Jimin segera melepaskan tangannya dari lengan Nala.


Nala bangun dan meletakkan snack yang sedari tadi dipeluknya itu ke meja.


"Nite, Om!" Nala pergi meninggalkan Dhev dan Jimin yang berdiri di tempatnya.


"Lo sih, berisik!" kata Jimin seraya menjatuhkan dirinya duduk di sofa panjang.


"Lo asal pegang-pegang aja! Emang siapa lo?" cibir Dhev yang kemudian menarik Jimin supaya turun dari sofa, Dhev akan menginap lagi malam ini.


"Siapa lo? Emang lo siapanya?" Jimin bertanya balik seraya melemparkan bantal sofa pada Dhev.


"Gue bukan siapa-siapanya, tapi gue nggak tau kenapa jadi begini," batin Dhev, pria itu memeluk bantal yang baru saja ditangkapnya.


"Lo ngapain nggak pulang?"


"Jagain lo, gue takut sahabat gue satu-satunya jadi penjahat kelamin!" jawab Dhev dengan memejamkan matanya.


"Alesan, bilang aja lo mikirin Nala, Kan!" batin Jimin. Pria itu meninggalkan Dhev, masuk ke kamarnya.


Jimin menjatuhkan dirinya di ranjang, menggelengkan kepala.


"Dhev, Dhev. Kalau suka lo bilang aja, lagian Nala gadis yang baik, kalian terlihat serasi," ucapnya.




Bersambung.

__ADS_1


Dukung author dengan klik like, komen dan difavoritkan, ya. Terimakasih.


__ADS_2