
Melihat itu, Fai menutup mulutnya, ia terkejut dengan apa yang dilihat.
Dila pun tk tinggal diam, dia mengambil jus milik Ken lalu menyiramkannya pada Bila tepat di dadanya yang montok.
Tentu saja, perlawanan dari Adila membuat Bila meradang dan mengeluarkan tanduk.
"Astaga!" ucap Ken, pria itu berdiri.
Dan Ken yang merasa kalau akan terjadi peperangan diantara Adila dan Bila itu pun bangun dari duduk. Ia menarik lengan Bila membawanya pergi dari resto. Sialnya, semua makanan itu belum Ke bayar dan saat Adila akan pergi seorang pelayan menahannya.
Melihat itu, Fai pun segera datang, ia membayar semua tagihan kakaknya, demi pertemanannya dengan Adila yang selalu berkorban untuknya.
"Tenang, Dil. Udah gue bayar!" kata Fai dengan cengengesan.
Sementara Adila menatap Fai seolah ingin memakannya hidup-hidup.
"Ayo kita belanja baju, terus kita benerin penampilan lo!" kata Fai seraya membawa Adila bersamanya.
"Lo emang harus tanggung jawab Fai!" kata Adila.
"Iya, iya. Sekarang, tarik nafas terus keluarkan!" kata Fai, ia takut kalau Adila akan merajuk padanya.
Setelah mendapatkan baju ganti dan membetulkan penampilannya, sekarang, Adila dan Fai menunggu pria tersebut di sebuah kafe.
Tetapi, pria itu tidak datang, rupanya, pria itu sempat melihat Adila yang tadi Bergelayut manja di lengan Kenzo. Pria itu mengirimkan fotonya pada Adila dan mengatakan kalau tidak jadi datang.
Setelah itu, nomor Adila langsung diblokir oleh pria itu. Fai hanya bisa menertawakan Adila yang terlihat kesal.
"Sebagai gantinya! Gue bakal ambil abang lo!" kata Adila dengan serius seraya menatap Fai.
"Ok. Kalau lo berhasil dapatin abang gue, gue traktir lo ke Bali 3 hari!"
"Ok, kalau gue enggak bisa taklukin abang lo, gue traktir lo makan selama sebulan di restoran!"
"Ok, deal ya!" Fai dan Adila bersalaman.
Setelah itu, Fai dan Adila pun kembali pulang, Adila mengantarkan Fai lebih dulu.
****
Di tepi jalan, Ken menepikan mobilnya karena sedang bertengkar dengan Bila.
"Aku mau kamu pilih, Ken! Kamu urus adik-adik kamu yang nyebelin itu atau kita putus!" ancam Bila.
"Aku yakin nanti mereka capek sendiri! Lagian mereka itu anak-anak. Kalau mereka udah punya pacar pasti sibuk sama urusannya sendiri! Kamu sabar, ya!" ucap Ken seraya merapikan anak rambut Bila dan Bila menyingkirkan tangan Ken.
"Terus aja belain dia, kita belum nikah aja kamu enggak pernah belain aku! Apalagi nanti kalau udah nikah!" kata Bila seraya menatap Ken.
Setelah mengatakan itu, Bila pun keluar dari mobil Ken.
__ADS_1
"Bila, biar aku antar!" kata Ken yang mengikuti Bila turun dari mobil. Tetapi, Ken tetap tidak di hiraukan oleh Bila yang sekarang sudah mendapatkan taksi. Bila mengatakan alamat tujuannya yaitu ke kantor tempatnya bekerja.
Melihat pujaan hatinya itu merajuk, Ken pun ingin memberi pelajaran pada Adila dan Fai.
"Kalian, awas saja!" geram Ken seraya kembali ke mobil.
****
Sementara itu, di parkiran kampus ada Fakhri yang baru saja menaiki motornya. Pria itu berniat untuk mencuci motor di tempat Arnold, ia ingin menemui Alif. Ada tujuan apa Fakhri menemui Alif?
Singkat cerita, sekarang, Fakhri sudah berada di salon tersebut dan karyawan lain yang menghampirinya.
"Saya cari Alif, biar dia yang cuci motor saya!" kata Fakhri seraya melepaskan helem dan sarung tangannya.
"Oh, Mas Alifnya lagi makan siang, Mas! Biar saya aja yang cuci, sama aja bersihnya kok."
"Saya tunggu Alif aja!" Setelah itu Fakhri pun turun dari motornya, ia duduk di kursi panjang yang tersedia di salon itu.
Dan Alif yang sedang makan siang di warung langganannya itu mendapatkan panggilan dari temannya, temannya mengatakan kalau ada yang menunggu Alif.
Alif pun bertanya siapa yang menunggu tetapi temannya itu tidak mengenal, Alif pun segera menghabiskan makan siangnya, tidak lupa membayar lebih dulu.
"Berapa, Bu?" tanya Alif seraya merogoh sakunya mengambil dompetnya yang lusuh.
"Lima belas aja, Mas!" jawab si ibu.
Alif pun segera membayar lalu pergi dari warung nasi itu.
Alif pun menghampirinya, "Fakhri! Ada apa?" tanya Alif yang sekarang duduk di sampingnya.
"Cuci motor gue!" kata Fakhri seraya terus fokus ke layar ponsel.
Alif pun bangun dan segera mencuci motor yang terparkir di antrian tanpa bertanya mana motor Fakhri.
"Itu bukan motor gue!" kaya Fakhri dari tempat duduknya.
"Yang mana?"
"Yang paling bagus! Masa motor gue jelek!" jawabnya.
"Oh!" Alif hanya membulatkan mulutnya, ternyata walau Fakhri adalah sepupu Fai yang ramah tetapi sangat berbeda dengan Fai.
Di sela-sela mencucinya, Fakhri mendekati Alif. Menanyakan ada hubungan apa antara Alif dan Arnold.
"Hanya berhubungan dengan baik, gue kerja di sini, udah gitu aja!" jawab Alif apa adanya.
" Lo tau, motor ini pemberian Paman, gue harap lo sadar akan posisi lo di sini! Lo cuma pekerja," ucap Fakhri yang seolah mengingatkan siapa diri Alif yang sebenarnya.
Alif tak menanggapi, tak ingin membuat ribut di tempat kerjanya. Alif berpikir mungkin Fakhri hanya cemburu melihat kedekatannya dengan Arnold.
__ADS_1
"Dengar, Paman itu adalah Paman terbaik di dunia, gue enggak rela kalau Paman sampai cuma dimanfaatin doang sama karyawannya yang pandai cari muka!"
Merasa tak bisa didiamkan, Alif pun mulai bertanya, siapa yang Fakhri maksud mencari muka.
"Maksud lo siapa yang cari muka?" tanya Alif seraya bangun dari berjongkoknya.
"Siapa lagi!" jawab Fakhri seraya ikut berdiri.
"Gue kenal sama om dari kecil, udah wajar kalau om baik sama gue dan gue baik sama om! Kenapa? Lo cemburu?"
"Enggak usah nyolot deh lo!" jawab Fakhri.
"Yang mulai duluan siapa?"
Alif dan Fakhri saling menatap tajam, lalu karyawan lainnya yang memperhatikan itu merasa kalau akan perkelahian.
Karyawan yang sedang tidak ada pekerjaan pun mendekati Alif dan Fakhri.
Karyawan itu membawa Alif untuk masuk sementara mencuci motornya dilanjutkan oleh karyawan lain.
Alif merasa sebal pada Fakhri si orang kaya yang sombong, begitu lah pikir Alif.
****
Setelah jam kerja selesai, Alif langsung pulang tanpa menunggu Arnold dan Arnold pun mengira kalau Alif kelelahan dan tidak menunggunya, tidak menemani makan malam dan merokok bersama.
Arnold pun mengirim pesan pada Fakhri yang ia kira sebagai anaknya.
"Fakhri, bagaimana kuliahmu?"
Mendapatkan perhatian itu, layaknya dari orang tua yang bertanya tentang anaknya membuat Fakhri merasa senang.
Fakhri pun membalas dengan cepat, tidak ingin membuat Arnold menunggu lama.
Dan di tempat lain, Alif sedang duduk bersama teman-temannya yang begajulan. Merokok bersama dan meminum bersama.
"Lif, makasih traktirannya!" kata teman Alif.
"Ya, sama-sama!" jawab Alif yang masih merasa sebal. Ia masih merasa direndahkan oleh Fakhri.
"Beberapa hari ini, gue kenal anak-anak orang kaya," ucap Alif yang masih tersadar karena tidak banyak minum.
"Terus? Harga diri lo diinjak-injak?" tanya salah satu teman Alif yang sudah setengah teler.
"Iya, dia takut kalau gue akan ambil kebahagiaannya! Lo tau kan Om Arnold, dewa penolong gue? Dia cemburu sama kedekatan gue!" ucap Alif yang kemudian menenggak minuman dari botolnya langsung.
"Kalau gitu, langsung aja lo ambil apa yang dia punya!" saran temannya itu.
Alif pun seolah memikirkan maksud dari temannya itu.
__ADS_1
Apakah Alif akan mengikuti sarannya. Bersambung.
Jangan lupa like, komen dan difavoritkan, ya. Vote/giftnya juga biar makin semangat upp 🤗