
"Kamu akan mengerti setelah dewasa nanti, Ken!" kata Jimin yang berdiri di belakang Ken.
"Jimin, awas lo! Jangan racuni anak dan istriku!" kata Dhev yang sudah duduk di bangku kemudinya.
****
Selesai mengantar Ken, Nala meminta pada Dadang untuk diantarkan ke apotek. Di sana, Nala membeli tespek.
Sesampainya di rumah, Nala menyimpan tespek itu di laci nakas, akan menggunakannya esok hari saat baru bangun tidur, sesuai dengan petunjuk.
Setelah itu, Nala merapikan kamarnya, mengganti sepreinya dengan yang baru, walau sudah menjadi nyonya tak membuat Nala berlagak, ia tetap melakukan tugasnya sebagai istri dan ibu rumah tangga yang baik.
Baru saja selesai, Nala mendengar Amira mengetuk pintu. Nala segera membukanya.
"Ibu," lirih Nala, menantunya itu mempersilahkan Amira untuk masuk.
"Di sini aja," jawab Amira, "Ibu sama Nindy mau ke salon, ikut, yuk!" lanjutnya.
"Boleh, sebentar, Nala ambil tas dulu," kata Nala.
Dan ketiga wanita itu melakukan perawatan di salon.
Sementara itu, di apartemen Doni, orang tuanya sedang sibuk menyiapkan hantaran untuk Nindy.
Doni mengeluarkan Dana yang cukup banyak demi menjaga nama baik Nindy. Dan kehamilan Nindy tentunya tidak ada yang mengetahui selain pihak keluarga dan pihak Doni.
Sebentar lagi pernikahan itu akan dilaksanakan dan Doni sudah berlapang dada, berniat untuk membantu Dhev.
****
Di kampus, Ririn yang baru saja tiba itu harus menanggung malu lantaran anak dari bandot yang dikencaninya itu berada di kampus yang sama dan Ririn tidak mengetahui kalau rekaman kejadian kemarin sudah tersebar.
Sebuah tong sampah dituang untuk Ririn oleh gadis yang usianya sebaya dengannya, gadis itu dibantu oleh tiga orang temannya.
Aksi itu menjadi pusat perhatian dan Ririn pun merasa tidak terima diperlakukan seperti itu.
"Setan! Beraninya lo!" teriak Ririn, gadis itu merasa jijik karena rambut dan badannya sudah terkena sampah.
"Sampah masyarakat emang pantesnya ya sama sampah! Iya nggak gaes?" seru si anak bandot dengan menggebu.
Gadis itu sangat membenci Ririn karena telah membuat ibunya menangis.
Ririn melayangkan tangannya, ingin menampar gadis itu, tetapi dengan sigap gadis berbadan kurus tersebut menangkap tangan Ririn sebelum mendarat di pipinya.
Dengan menahan tangan Ririn, ia terus mengolok-olok Ririn.
"Hei semua orang, tandain ini muka! Bibit calon pelakor! Masih kecil aja udah jual diri! Jaga keluarga kalian masing-masing!" serunya dengan mengangkat tangan Ririn.
Ririn yang sudah terpojokkan itu hanya bisa menangis, melepaskan tangannya dari genggaman tangan gadis itu.
__ADS_1
Ririn berlari, meninggalkan kerumunan itu dan tidak masuk kelas hari ini, bahkan untuk menampakkan batang hidungnya saja mungkin Ririn malu. Entah, apakah Ririn akan bermuka tembok dengan tetap kuliah di kampus tersebut atau memilih untuk mundur dan akan menerima takdirnya sebagai wanita penghibur.
Ririn yang bau dan berantakan itu berlari untuk bersembunyi di balik pohon. Duduk sendirian, menangis sesenggukan.
Di tengah sedihnya itu, Ririn mendengar suara Darwin yang ternyata mengikutinya.
"Lo bisa cerita sama gue, gue masih selalu ada buat lo!" kata Darwin yang ternyata sudah duduk di sampingnya.
Ririn hanya menoleh, gadis berpenampilan feminim tu tidak menjawab, hanya air matanya yang mengalir.
"Jangan dekat-dekat gue! Gue ini sampah!" kata Ririn seraya bangun lalu berjalan meninggalkan Darwin.
Darwin menatap kepergian Ririn, pria yang belum dapat melupakan cinta pertamanya itu mengiba, seandainya Ririn mau kembali padanya, sudah pasti dirinya akan menerima dan melupakan masa lalu.
Tetapi, Ririn merasa tidak pantas dan Darwin hanya pria biasa, sedangkan target Ririn sekarang adalah pria beruang, tidak perduli itu suami orang atau bukan.
Ririn membersihkan dirinya di toilet umum. Dan setelah bersih, Ririn keluar dari sana. Ririn mengeluarkan ponselnya yang sedari tadi bergetar di dalam tas.
Nomor tidak di kenal terus menghubungi Ririn dan Ririn mengira kalau itu adalah teror dari anak atau istri si bandot.
"Kalau penting juga dia bakal kirim pesan!" gumam Ririn seraya kembali memasukkan ponsel itu ke tas selempangnya.
Dan benar saja, Jimin yang membutuhkan jasanya itu mengirim pesan.
"Cantik, boleh kenalan? Gue langsung aja, gue butuh jasa lo!"
"Mumpung orderan di luar kelab! Semua uang masuk ke kantong gue!" batin Ririn seraya membaca pesan itu.
"Jasa gue mahal!" balas Ririn.
"Kita ketemu aja dulu, baru bahas harga, bagaimana?"
"Ok, kapan dan di mana?"
"Sabar cantik!" jawab Jimin.
"Dih, buaya darat nih keknya!" kata Ririn dalam hati.
Ririn tidak membalas pesan itu, sengaja ingin membuat Jimin semakin penasaran dengannya.
Jimin pun kembali mengirim pesan.
"Sore ini di resto xxx."
"Ok!" balas Ririn singkat.
****
Sore ini, keluarga Amira kedatangan tamu yang dianggapnya masih sebagai besan. Tamu itu adalah Nana dan Mika.
__ADS_1
Keduanya datang karena mendengar pernikahan Nindy yang tiba-tiba.
"Iya, tiba-tiba saja Dhev menjodohkan Nindy dengan anak buahnya, mungkin karena Nindy sudah cukup dewasa, makanya Dhev menjodohkan mereka," jawab Amira, wanita itu dengan santai menyembunyikan kebohongannya, mengambil teh hangat yang sudah tersedia di meja ruang tamu.
"Saya sudan khawatir, takut ada gosip yang tidak-tidak. Jeng tau sendiri, zaman sekarang nikah mendadak dikira hamil, pacaran lama-lama dikira main-main, enggak pacaran atau belum ketemu jodohnya dikira enggak laku."
Mendengar itu Amira hanya tersenyum.
"Diminum tehnya." Amira mempersilahkan Nana untuk meminumnya.
Begitu juga Mika yang masih ikut duduk bersama para orang tua. Merasa tidak nyambung dengan obrolan keduanya, Mika memilih untuk menemui calon pengantin.
"Tante, Mika mau ketemu sama Nindy dulu, ya," kata Mika dan setelah Amira menganggukkan kepala, Mika pun bangun dari duduk, berjalan ke kamar Nindy.
Di sana, Mika melihat Nindy sedang bersama Nala dan juga Kenzo.
Kenzo sedang mencoba setelan jasnya.
"Keponakan tante tampan sekali," kata Mika seraya ikut bergabung.
"Terimakasih, Tante. Bagus enggak?" tanya Ke seraya menunjukkan jas yang dikenakan.
"Bagus dong!" jawab Mika seraya mensejajarkan tingginya dengan Ken. Mengacak pucuk kepala Ken.
"Siapa dulu yang menyiapkan! Ibu!" kata Ken seraya berjalan ke arah Nala dan memeluknya.
Melihat itu, Mika jelas saja tidak suka, yang diharapkan adalah Kenzo tidak menerima ibu baru, tapi ini justru sebaliknya.
Mika tersenyum yang dipaksakan.
Tidak ingin menanggapi Ken dan Nala, Mika memilih untuk memperhatikan Nindy yang terlihat pucat.
"Nin, lo pucat banget!" kata Mika, gadis itu duduk di ranjang.
Nindy yang sedari duduk di ranjang itu hanya tersenyum. Menyembunyikan rahasianya.
"Mungkin Nindy terlalu lelah, calon pengantin harus banyak istirahat," timpal Nala yang duduk di bangku meja rias.
Mika meliriknya.
"Gue ngomong sama Nindy, bukan sama lo!" batin Mika.
"Kenapa? Lo ngusir gue?" tanya Mika pada Nala.
Bersambung.
Jangan lupa like, komen dan difavoritkan, ya.
Terimakasih sudah membaca, mendukung dengan gift/vote/like dan komen.
__ADS_1