DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Kasih Tak Sampai


__ADS_3

Keesokan harinya, Mae semalam tak melihat Alif pun bertanya saat keduanya sedang sarapan.


"Semalam kamu kemana, Lif? Ibu tunggu sampai larut!"


"Alif semalam pergi sama Om Arnold, bu," jawab Alif seraya mengambil tumis tahu campur tauge di piring.


Mae hanya mengangguk, ia tidak melarang dengan kedekatan Alif dan Arnold, baginya yang bisa membuat Alif bahagia lakukan, karena Mae sendiri masih ingat betul, kehidupan dan penderitaan Alif bermula saat ia tukar dengan anaknya sendiri.


Di saat Alif dan Mae sedang sarapan, datang Andra yang ikut bergabung, Mae pun mengambilkan nasi juga lauknya.


"Bosen, enggak ada apa sesekali makan enak! Lo kan kerja, bagi-bagi sini duitnya!" kata Andra pada Alif.


Alif pun menggebrak meja makan itu. "Kalaupun gue punya duit itu bukan buat lo! Tapi buat ibu!" jawab Alif seraya menatap tajam Andra.


"Alah, ibu lo juga kerja, jangan pelit-pelit lo sama orang tua, enggak berkah entar lo!"


"Tergantung, gimana dulu orang tuanya!" jawab Alif yang kemudian meninggalkan meja makan, ia sudah tidak berselera lagi untuk sarapan. Alif memilih untuk berangkat ke salon mobil.


Sementara itu, Mae merasa pusing, pusing melihat anak dan bapak yang tidak pernah ada akurnya.


"Mas, jangan begitu sama Alif, dia anak kamu, apa masih kurang aku udah kerja banting tulang untuk keluarga kita bisa makan?"


"Alah, belain terus anak kamu!" ucap Andra seraya sedikit mendorong piring sarapannya. Ia merasa bosan setiap hari bertemu dengan tempe dan tahu.


"Yang penting kita itu sehat, makan apa aja pasti terasa enak di lidah, itupun kalau kita pandai bersyukur," kata Mae yang kembali mengambilkan piring sarapan Andra.


Andra menerima sarapan itu karena tidak mungkin akan kuat menahan lapar seharian saat ditinggal kerja oleh Mae.


"Pinter ceramah kamu sekarang!" ucap Andra seraya mengambil kerupuk di kalengnya.


Mae yang merasa dapat meluluhkan hati suaminya itu hanya menjawab dengan senyum.


****


"Bang, bubur ayam ya, komplit!" kata Alif yang akhirnya membeli bubur ayam tidak jauh dari salon mobilnya.


Lalu, Alif menganggukkan kepala pada pengendara mobil yang tak lain adalah Arnold, pria itu membunyikan klakson dan melambaikan tangannya pada Alif.


Setelah itu, Arnold pun melanjutkan perjalanannya untuk bekerja.


Sesampainya di kantor, ternyata Dhev tiba lebih dulu.


Melihat itu, Dhev memanggil Arnold.


"Sini lo!"


"Apa?"


"Push up, 50 kali!"


"Gue resign!" jawab Arnold seraya meninggalkan Dhev, lalu Dhev mengejar Arnold dan mengatakan kalau dirinya hanya bergurau.


"Ingat umur, Dhev! Usia kita bukan muda lagi!"


"Lo aja udah tua, masih bujang lagi! Jangan-jangan lo masih nunggu jandanya Ririn, ya?" tanya Dhev yang berjalan beriringan dengan Arnold.


"Sembarangan! Emangnya lo mau do'ain Jimin cepet mati?" tanya Arnold seraya memukul Dhev dengan berkas yang di bawanya.


"Eh, ingat ya. Di kantor gue atasan lo!" ucap Dhev yang tak terima dipukul oleh Arnold.

__ADS_1


Bukannya berhenti, tetapi Arnold merangkul dan meninju pinggang Dhev.


Persahabatan Dhev dan Arnold sudah kembali setelah Arnold berhasil menunjukkan kalau dirinya memang sudah kembali.


Tetapi tidak dengan Jimin, pria itu masih jaga jarak dengan Arnold. Ia takut kalau Arnold akan menikung istrinya.


****


Di luar gerbang kampus di mana Fai dan Fakhri kuliah, ada Mae sedang duduk di halte, Mae ingin sekedar melihat Fakhri dari kejauhan.


Benar saja, Fakhri yang mengendarai moge itu melintas di depan halte dan Mae menatapnya penuh rindu. Ingin membelai tetapi tangan tak sampai.


"Seandainya kamu ikut ibu, kamu enggak akan mendapatkan ini semua, hanya kesengsaraan yang bisa ibu beri, Nak!" ucap Mae dalam hati.


"Alif, maafkan ibu udah menukar hidup mu dengan Fakhri!" Mae masih berbicara di dalam hati.


Setelah melihat anaknya, Mae kembali pulang, sekarang, dirinya bukan lagi bekerja sebagai buruh laundry karena pemiliknya harus pindah dan Mae pun sekarang menjadi buruh cuci dari rumah ke rumah.


Lalu bagaimana dengan Adelia yang dulu satu seprofesi dengannya.


Adelia sekarang hidup enak karena Jimin menanggung semua beban hidup mereka, membayarkan sewa rumah dan menjamin kesehariannya.


Jimin melakukan itu supaya Papah mertuanya berhenti meminta uang pada istrinya.


Sekarang, Ririn dan Jimin tidak lagi tinggal di apartemen, mereka membeli rumah dan semua foto milik Arnold sudah ia singkirkan, Jimin tidak ingin Ririn melihat Arnold.


Sekarang, Ririn sedang dipijit, ia merasa lelah setelah kemarin harus menemani mamih mertuanya dan setibanya di Jakarta ia harus menghadiri acara ulang tahun Nala sampai larut malam.


Ririn membuka ponselnya, ia mengirim foto selfienya pada Nala.


"Enak banget, sini!" tulis Ririn.


"Jangan pergi dulu ibu urutnya!" kata Nala dan Ririn pun menyampaikan itu pada ibu urut langganannya.


"Tapi saya ada urut di tempat lain setelah, neng!"


"Nanti ya, bi. Tunggu temen saya dulu, sebentar lagi sampai kok!" kata Ririn.


"Ya sudah, enggak papa saya nunggu, nanti uangnya ditambah ya, neng!"


"Soal bayaran tenang aja, bi!" kata Ririn.


"Baik, neng," jawab ibu urut.


****


Singkat cerita, di kampus. Setelah jam pelajaran selesai, Adila mengajak Fai untuk ikut bersamanya.


"Kemana?" tanya Fai yang berjalan di sampingnya.


"Gue mau kenalan sama cowok! Tapi enggak berani kalau pergi sendiri!"


"Idih, ogah! Entar gue jadi nyamuk!" kata Fai seraya fokus ke layar ponselnya.


"Biasanya juga gitu!"


"Kali ini ogah!"


Setelah itu, Fai segera mencari Fakhri ke kelasnya dan ternyata Fakhri belum selesai.

__ADS_1


Fai pun mengirim pesan pada Fakhri, mengatakan kalau dirinya akan pulang bersama dengan Adila.


"Dil, enak banget sih, lo udah di kasih mobil!" kata Fai yang sekarang sudah duduk di bangku samping kemudi.


"Papah yang beliin, kalau mamah mah enggak ijinin!" kata Adila seraya menyalakan mesin mobilnya.


Sekarang, ke dua gadis itu menuju mall di mana Adila membuat janji.


Sesampainya di sana, Adila melihat Kenzo dan Bila yang sedang makan siang bersama di salah satu restoran.


"Fai, itu kaya abang lo!" kata Adila seraya mengarahkan wajah Fai ke arah kakaknya sedang menyuapi Bila.


"Iishh, nenek lampir itu! Gue enggak suka sama dia!" kata Fai.


"Bilang aja lo cemburu!" timpal Adila yang kemudian berjalan mendahului Fai yang masih terdiam.


Fai pun segera mengejar Adila dan menahan lengannya.


"Dil, tolong, pisahin mereka!"


"Ya ampun, ntar gue dicap sebagai pelakor gimana?"


"Selama janur kuning belum melengkung!" kata Fai dengan yakin.


Adila hanya menggelengkan kepala.


"Fai, gue ke sini mau ngedate!"


"Sambil nunggu cowok itu dateng!" kata Fai yang masih berusaha membujuk Adila.


Adila pun hanya menatap Fai datar.


Setelah itu Adila berjalan menuju ke resto di mana Kenzo berada.


Dengan pedenya Adila duduk di samping Ken.


"Abang! Katanya mau jemput tapi malah ketemu di sini?" tanya Adila pada Ken.


Belum sempat menjawab, Bila sudah lebih dulu bertanya.


"Anak kecil. Ngapain lo di sini?"


"Gue itu penggemarnya abang! Jadi jangan larang gue buat deket sama abang selama abang masih melajang!"


"Dil. Tolong, kali ini jangan ganggu!" ucap Ken dan bukannya pergi tetapi Adila semakin merapatkan duduknya dengan Ken, ia Bergelayut manja di lengan Ken.


Melihat itu membuat Bila merasa gerah, ia mengambil jus yang ada di depannya lalu menyiramkannya di kepala Adila.


"Bila, kok kamu kasar sih!" ucap Ken seraya bangun berdiri. Ia terkejut dengan apa yang Bila lakukan.


"Siapa yang tahan lihat cewek gatel godain pacarnya?"


"Dia anak kecil. Aku juga enggak ada hubungan apa-apa sama dia!" ucap Ken.


Sementara itu Adila merasa syok. Ia tak menyangka kali ini akan mendapatkan siraman di kepalanya bukan siraman di hatinya alias siraman qolbu.


Bersambung.


Like dan komen ya all 🤗.

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca


__ADS_2