
Keesokan harinya.
Untuk mengisi waktu luang di akhir pekan, Dhev mengajak keluarga kecilnya jalan-jalan, sekalian mengantar Ken yang sekarang hobi berkuda.
Bahkan, Dhev membelikan kuda untuknya sebagai hadiah ulang tahun yang ke 8.
Karena semalam baru saja demam, Dhev dan Nala tidak membawa Fakhri membuat Fakhri merasa kesepian karena di rumah hanya bersama dengan suster, ia sudah mulai terbiasa dengan Nala dan Fai.
****
Sementara di laundry, Alif yang sedang merasa ingin sangat tahu itu tidak dapat diam, ia begitu aktif, pintar dan lincah.
Mungkin karena sewaktu hamil Nindy dan Doni sangat menjaganya, memberikan nutrisi yang baik selama kehamilan itu dan setelah anak itu lahir, ia justru diambil oleh orang lain.
Alif yang sedang belajar berjalan itu keluar dari kios dan Maesaroh sedang melayani konsumen sehingga tidak begitu memperhatikan Alif.
Entah seperti jodoh dengan Arnold, pria itu yang baru saja membelikan diapers untuk ibunya kembali melihat Alif yang sedang mengejar anak kucing di jalanan.
"Itu kan anak kecil yang kemarin?" Arnold pun menepikan motornya. Ia menangkap Alif yang hampir ke tengah jalan raya.
"Astaga! Ibunya teledor banget, sih!" gerutu Arnold. Arnold sendiri merasa heran dengan dirinya, ia yang biasanya tidak menyukai anak kecil itu entah mengapa bisa begitu perduli dengan Alif.
"Alif!" teriak Mae yang mencari-cari Alif, Mae sendiri sudah terlihat panik saat tak kunjung menemukan anaknya.
Arnold yang menggendong Alif jadi mengetahui nama anak tersebut.
"Oh, nama kamu Alif, nama yang bagus, kenalin, nama gue Om Arnold!"
Arnold sendiri ingin memberikan efek jera pada Mae yang kembali didapati teledor olehnya, Dhev membawa Alif melipir ke warung untuk membeli es krim.
Mae mulai menangis dan bertanya pada orang yang ditemuinya.
"Lihat anak balita baru belajar jalan enggak?"
"Anak kecil banyak, bu! Ibu cari yang mana?" tanya bapak-bapak yang sedang berjualan gorengan di tepi jalan.
Mae mulai frustasi dan Arnold yang memperhatikan itu mulai tak tega. Ia keluar dari persembunyiannya dan terlihat Alif yang pertama kalinya makan es krim itu sangat menikmati.
"Ini anak lo! Jaga baik-baik! Untung ketemu sama gue! Kalau ketemu sama culik gimana?" tanya Arnold seraya memberikan Alif pada Mae.
Tetapi, agaknya Alif sangat menyukai Arnold, ia menggenggam erat jaket Arnold sehingga jaket Arnold terkena noda es krim.
Alif menolak untuk ikut bersama dengan Mae dan Mae yang mendapati anaknya baru saja makan es krim itu sangat marah.
Bagaimana tidak, bayi umur satu tahun belum saatnya untuk memakan es krim.
"Mana gue tau! Gue taunya anak kecil suka es krim jadi gue beliin es!" kata Arnold seraya melepaskan tangan Alif yang masih menggenggam jaketnya.
Setelah itu, Arnold pergi meninggalkan Alif yang masih memperhatikannya.
__ADS_1
"Ah, jaket gue jadi kotor, mana baru pake lagi!" kata Arnold seraya tetap fokus mengendarai motornya.
****
Hari libur telah usai.
Sekarang waktunya orang-orang kembali sibuk dengan pekerjaannya.
Pagi ini, Dhev lebih dulu tiba di kantor dari pada Arnold.
Dhev baru saja turun dari mobil itu dan melihat motor Arnold yang mengarah ke parkiran motor ingin mengerjainya lebih dulu.
Setelah parkir, Arnold melihat dari spion motornya kalau Dhev sedang memperhatikannya.
Dhev memanggil salah satu satpam untuk memberitahu Arnold kalau dirinya sedang menunggu.
"Baik!" kata satpam tersebut yang kemudian pergi ke tempat Arnold yah sedang melepaskan helm.
"Pak, anda ditunggu Tuan Dhev!"
Arnold hanya menjawab dengan anggukkan kepala.
Pria itu mengerti pasti Dhev memiliki akal untuk mengerjainya.
"Ada apa?" tanya Arnold yang sudah berada di depan Dhev.
"Kenapa telat?" tanya Dhev dan Arnold pun melihat ke jam tangannya.
"Kalau gue tiba lebih dulu berarti lo telat! Cepat pushup! 50 kali!" perintah Dhev.
"Yang bener aja lo!" protes Arnold yang terdiam, ia memperhatikan Dhev yang pergi berlalu.
"Awasi dia, hitung pushupnya!" perintah Dhev pada satpam yang sedang berjaga.
"Siap!" jawab satpam itu.
"Yang ada juga lo yang push up, tuh lihat perut lo udah mulai buncit!" gerutu Arnold seraya melepaskan jaket dan kemejanya. Ia tidak ingin kemejanya yang wangi itu terkena keringat di pagi hari.
****
Selesai dengan push up, Arnold segera memakai kembali kemejanya, ia masuk ke kantor dengan santainya walaupun menjadi pusat perhatian karyawan yang lain.
"Sialan Dhev!" batin Arnold seraya terus berjalan menuju lift yang akan membawanya ke lantai paling atas.
Sesampainya di ruangan, telepon di meja Arnold itu sudah berbunyi, tentu saja itu adalah Dhev yang memanggilnya.
Arnold pun segera ke ruangan Dhev. Tidak lupa mengetuk pintu karena tidak ingin dilempar sesuatu lagi oleh Dhev.
"Buatkan kopi hitam! Gulanya satu setengah sendok aja!" perintah Dhev tanpa melihat ke arah Arnold.
__ADS_1
Arnold pun keluar dari ruangan, ia menuju ke pantry. Sesampainya di sana, Arnold lupa menanyakan menggunakan sendok makan atau sendok teh.
Tetapi, Arnold pikir kalau hanya satu setengah sendok teh pasti akan terasa pahit.
Arnold pun menggunakan sendok makan.
Selesai membuatkan kopi, sekarang Arnold membawakan kopi itu ke ruangan Dhev. Meletakkan kopi itu di meja Dhev.
"Kopinya!" kata Arnold, kemudian pria itu melangkah keluar tetapi langkahnya terhenti saat Dhev memprotes rasa kopi yang terlalu manis.
"Lo mau gue kena diabet, ya?" tanya Dhev yang baru saja mencicipi kopi buatan Arnold.
"Kan udah sesuai permintaan lo!"
"Ini terlalu manis! Buatkan yang baru!" perintah Dhev, ia tak mau tau jawaban Arnold.
Arnold pun kembali ke pantry, di sana ia menggerutu.
"Bener-bener jadi jongos gue!" kata Arnold seraya mengambil kopi lalu tidak lupa menambahkan gula untuk kopi Dhev.
Sesampainya di ruangan Dhev, Dhev meminta pada Arnold untuk mencicipi kopi tersebut. Dhev takut kalau kopi itu sudah dibubuhi sesuatu oleh Arnold.
Dengan wajah kesal, Arnold menyeruput kopi itu. "Gue baik-baik aja! Aman nih kopi!"
"Lo boleh keluar! Jangan lupa! Banyak yang harus lo pelajari!" ucap Dhev.
Dan beruntung, kali ini rasanya sesuai dengan keinginan Dhev.
"Ok, jangan lupa, setiap bikin kopi gue mau yang kaya gini!"
Arnold yang baru sampai pintu itupun tak menanggapi ucapan Dhev.
****
Di rumah Mamih Jimin, ia sedang memerintahkan seseorang untuk mencari tau siapa orang tua Ririn yang sebenarnya. Orang suruhannya itu dengan cepat mendapatkan informasi yang diminta olehnya.
Lelaki yang mengenakan pakaian ala detektif itu memberikan dua lembar foto, satu foto Papah Ririn dan yang satunya adalah foto Mamah Ririn.
"Ok, berarti saya ditipu mentah-mentah!" ucapnya, terlihat raut wajah yang kecewa darinya.
Sudah kecewa tak kunjung mendapatkan cucu dan sekarang harus menerima kenyataan kalau anak dan menantunya itu tidak jujur.
Mamih Jimin pun merencanakan sesuatu.
Rencana apa yang akan dibuat oleh Mamih Jimin untuk membongkar rahasia Ririn?
Bersambung.
Like dan komen ya😇
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca, jangan lupa dukung karya ini dengan vote gratis/giftnya, ya. Sampai jumpa di episode selanjutnya ☺