DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Pura-pura Menikah?


__ADS_3

"Untung masih ada uang dari Jimin, enggak perlu repot kedepannya, seenggaknya beberapa bulan ke depan!" batin Ririn.


Gadis itu berdiri di halte menunggu bus, Ririn pulang ke kosnya, di sana Ririn kembali mencari kos-kosan dengan harga yang lebih murah.


Setelah mencari online, Ririn pun mendapatkan yang menurutnya sesuai.


Ririn bersiap untuk melihat kos tersebut, baru keluar dari kosnya, Ririn sudah mendapatkan panggilan dari Jimin.


Ririn menerima panggilan itu.


"Di mana?" tanya Jimin.


"Di jalan!"


"Gue jemput, ada hal penting yang harus kita bicarakan! Kirim alamat lo sekarang!"


"Ok!" jawab Ririn. Setelah itu, Ririn mengirim pesan untuk Jimin.


Menunggu sekitar 30 menit, Ririn merasa jenuh, sekarang, yang ditunggunya sudah datang.


Jimin memberikan helm untuk Ririn.


"Kemana?" tanya Ririn.


"Cari tempat tongkrongan! Mumpung libur kita santai dulu!" ajak Jimin dan Ririn pun menurut.


Gadis yang mengenakan setelan celana jeans dan kaos T-sert berwarna hitam dilapisi dengan jaket kulit itu mulai membonceng motor Jimin.


Jimin membawa Ririn ke kafe untuk membahas soal pernikahan.


Sesampainya di sana, Jimin memesan minuman dingin dan juga camilan.


Seraya menunggu pesanannya datang, Jimin langsung mengutarakan niatnya.


"Nikah sama gue, pura-pura aja! Gue juga enggak mau terikat sama pernikahan, lo butuh uang, gue butuh status!" kata Jimin, pria itu menatap Ririn yang juga memperhatikannya.


"Berapa perbulan? Tapi enggak melakukan hubungan suami dan istri kan?" tanya Ririn yang duduk di depan Jimin.


"Tergantung keadaan nanti! Jujur aja gue juga pemain kaya lo!"


"Tapi gue udah taubat! Gue mau jadi manusia bener!" jawab Ririn.


Gadis itu bangun dari duduknya, merasa semua orang sama saja, dapat membelinya dengan uang.


"Hay... ini kan sudah perjanjian, lagi pula ini pura-pura!" kata Jimin seraya menarik lengan Ririn.


"Gue mau cari uang dengan cara yang halal! Kecuali lo bisa janji kita bisa, kalau memang pura-pura itu hanya untuk status jangan minta lebih!" kata Ririn seraya melepaskan tangan Jimin.


"Ok, baiklah! Nanti gue bikin perjanjian itu!" kata Jimin seraya melepaskan tangannya.


"Jangan berat sebelah! Gue mau perjanjian yang adil!" kata Ririn seraya kembali duduk.


"Ck, umur doang kecil, ternyata enggak gampang dibohongin!" batin Jimin.

__ADS_1


"Ok... ok!"


****


Doni dan Nindy sedang bersiap untuk pulang ke apartemen dan ternyata di sana sudah ditunggu oleh ibu dan bapak mertuanya.


Amira, Nala dan Ken mendampingi Nindy, mereka semua sudah menunggu di lobby hotel. Sementara Dhev, pria itu memilih untuk bersantai di rumah.


Amira dan Nala tidak dapat memaksa Dhev untuk ikut karena Dhev masih sebal dengan Nindy.


Nindy pun tidak menanyakannya lagi, hanya bisa berharap, suatu saat Dhev akan memaafkannya.


Sekarang, Doni dan Nindy keluar dari kamar hotel.


"Biar saya yang bawa, Nona!" kata Doni seraya meraih tas Nindy.


"Terimakasih, tapi jangan panggil aku Nona lagi! Terdengar sangat aneh!" kata Nindy seraya memberikan tas yang berisi baju itu.


"Begitu, ya...," Doni menganggukkan kepala, berpikir, akan memanggil adik bosnya ini seperti apa.


****


Sekarang, semua orang sudah berkumpul dan Nala memberikan titipan dari Dhev untuk Doni.


Dhev menitipkan kunci mobil pada Nala, tidak lama kemudian, Doni menerima pesan dari Dhev.


"Sebagai hadiah pernikahan," isi pesan Dhev.


"Astaga, terimakasih," batin Doni.


Setelah membalas pesan itu, Doni pun mengajak semua orang untuk segera bergegas.


Nindy berada satu mobil dengan Doni.


"Terimakasih, sudah menyelamatkan reputasi keluarga kami," kata Nindy seraya menatap Doni yang fokus mengemudi.


Doni hanya tersenyum.


"Maaf juga, gara-gara aku, kamu jadi terjebak dalam pernikahan ini," lirih Nindy seraya menatap ke depan, merasa tidak enak hati pada Doni.


"Tidak apa, mungkin ini sudah takdir," jawab Doni, padahal, dalam hatinya merasa bingung akan dibawa kemana pernikahan ini.


Sementara itu, Dadang mengikuti mobil Doni dan sesampainya di apartemen, Nindy disambut dengan hangat oleh keluarga barunya.


Mungkin akan berbeda cerita kalau ibu dan ayah mertuanya itu mengetahui kebenarannya.


"Silahkan duduk," kata Ibu Doni pada Amira dan rombongan.


Amira dan rombongan pun duduk di sofa ruang tamu.


Setelah mengobrol santai, sekarang, Amira menyampaikan pesannya sebagai seorang ibu.


"Saya menitipkan Nindy, anak saya, semoga dapat diterima dengan baik di sini, mohon bimbingannya juga karena dia anak yang sedikit manja, bisanya hanya merepotkan," kata Amira seraya menggenggam tangan besannya.

__ADS_1


"Kami pasti menerimanya dengan baik, lagi pula itu sudah menjadi tanggung jawab kami, sudah sepantasnya harus menjaga Nindy yang sekarang sudah menjadi anggota keluarga," jawab Ibu Doni.


****


Sementara itu, Doni membawa Nindy yang terlihat sangat pucat untuk beristirahat di kamar.


"Maaf, untuk sementara, kita berada di satu kamar dulu," kata Doni seraya meletakkan tas Nindy di tepi ranjang.


Nindy hanya diam, gadis itu tidak tau kalau besok mertuanya sudah harus kembali ke kampung, pikirnya, ibu dan bapak mertuanya akan tetap tinggal.


"Besok, Ibu dan Bapak sudah harus kembali ke kampung, di sana harus mengurus sawah," kata Doni. Dan sawah itu di beli setelah kerja keras Doni selama mengabdi pada Dhev.


Nindy hanya diam, mendengarkan saja. Selain pusing juga tidak mengerti harus menjawab apa.


****


Nala yang sedang berada di apartemen itu mendapatkan pesan dari Ririn.


"La, aku butuh kamu! Bisa ketemu enggak?" tanya Ririn.


"Bisa, tapi enggak sekarang, aku lagi di apartemen Pak Doni sama Nindy," balas Nala.


Belum sempat Ririn membalas, Nala sudah kembali mengirim pesan, menanyakan kenapa kemarin tidak datang.


"Bukan enggak datang, tapi enggak boleh masuk!" gumam Ririn seraya menatap layar ponselnya.


"Iya, aku sibuk. Maaf, ya. Kamu nungguin aku?"


Dan Nala yang sedang bertamu itu merasa tidak sopan apabila harus terus bermain ponsel. Gadis itu memasukkan ponselnya kembali ke tas. Pikirnya akan membalas nanti kalau sudah tidak sibuk.


****


Dhev yang sedang bekerja di ruang kerjanya itu mendapatkan pesan dari Jimin.


"Dhev, gue mau merit!"


Dhev sedikit terkejut setelah membaca pesan itu.


"Udah berubah pikiran?" tanya Dhev.


"Mendesak, Dhev! Tunggu aja undangannya!" balas Jimin.


Setelah itu, Jimin kembali mengerjakan aktivitasnya yang sedang membuat perjanjian, perjanjian itu sederhana, hanya mengatakan kalau kedua belah pihak tidak boleh mengatur atau sebagaimana layaknya sepasang suami istri sungguhan.


Di sini Jimin merasa Ririn yang diuntungkan, pasalnya, gadis itu hanya menerima status baru saja tanpa mengerjakan apapun karena memang bukan istri sungguhan tetapi menerima gaji setiap bulannya.


Jimin kembali berpikir, merasa akan rugi kalau Ririn tidak melakukan apapun, setidaknya harus memasak, mencuci baju dan pekerjaan rumah lainnya.


Bersambung.


Jangan lupa like, komen dan difavoritkan, ya. Terimakasih atas dukungannya, yang belum dukung, ayo divote/gift ✌


Sampai jumpa di episode selanjutnya.

__ADS_1


Selamat hari raya merdeka🇲🇨, selamat ulang tahun Indonesia 🇮🇩


__ADS_2