DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Salah Paham


__ADS_3


Visual Nindy



Visual Doni


****


Selesai dengan pesta, sekarang, Ririn dan Jimin sudah kembali ke apartemen.


Di sana, keduanya terpaksa satu kamar karena orang tua Jim masih berada di apartemen.


Keduanya sedang memisahkan kado pernikahan yang ada.


"Dari teman lo khusus buat lo!" kata Jim seraya memilih kado yang berada di meja.


Meja itu terletak di dekat ranjang.


"Iya, udah tau, gue penasaran sama kado dari Nala," jawab Ririn seraya mencarinya.


Setelah menemukan, Ririn segera mengambil kotak pipih itu.


"Pipih banget gini, isinya apa ya," gumam Ririn seraya membolak-balikan kado itu.


"Paling seprei," jawab Jimin seraya terkekeh.


"Sembarangan, masa seprei ringan banget kaya gini!"


"Sini biar gue buka!" kata Jimin seraya merebutnya.


"Pelan-pelan!" kata Ririn.


Dan saat itu juga bertepatan dengan kedua orang tua Jim yang sedang menguping.


"Pih, kayanya anak kita udah enggak sabar!" bisik mamih Jimin.


"Seharusnya, tadi papih kasih jamu kuat dulu ya, mih," timpal papih.


"Iya sudah, ayo pergi, takut ganggu!" ajak mamih Jimin yang dijawab dengan anggukan oleh suaminya.


Sementara itu, di dalam sedang membuka kado tersebut.


Ririn merasa senang karena mendapatkan kado berlian.


"Ini asli bukan?" tanya Ririn seraya memperhatikan kalung itu.


"Masa iya, istrinya Dhev bawa barang KW!" celetuk Jimin.


Ririn pun segera memakai kalung itu, tidak lupa mengirim pesan pada Nala, mengucapkan terimakasih dan sangat menyukai kado tersebut.


Teringat dengan kalung membuat Jimin ingat juga dengan mas kawin yang diberikan.


"Rin, dengar ya. Karena kita nikahnya bohongan berarti mas kawin itu juga bohongan! Mana sini kembaliin ke gue!" kata Jimin yang sedang duduk di tengah ranjang, Ririn yang berada di sampingnya itu melirik.


"Astaga, masa mas kawin diminta lagi! Jatah gue lah itu!"


Ririn merasa tidak terima dengan ucapan Jim.


"Jatah lo, kecuali lo mau bobok sama gue!" kata Jimin asal jeplak.

__ADS_1


Ririn pun menggelengkan kepala.


"Ingat ya, enggak ada kata bobok bareng! Itu perjanjian kita di awal!" Ririn mengingatkan.


"Gue enggak janji, ingat, gue juga lelaki normal!" kata Jimin seraya turun dari ranjang dan mulai membuka jasnya.


"Mau ngapain?" tanya Ririn, padahal Jimin hanya berniat untuk berganti baju.


"Kenapa? Lo pengen ya?" ledek Jimin dan Ririn terlihat menutupi dadanya menggunakan dua telapak tangannya, menatap Jimin datar.


"Ck! Lepek gitu, apanya yang mau dinikmati!"


"Apa? Lepek? Denger ya, lepek gini juga pernah bikin dia tergila-gila sama gue!"


"Mana, sini coba liat!" kata Jimin seraya kembali ke ranjang dan bersiap membuka gaun Ririn.


Ririn pun turun dari ranjang, menghindari Jimin.


"Kalau lo mau ini juga, gue mau tambah, sebulan kurang lah 30 juta!"


"Dasar kancil!" timpal Jimin.


Dan perdebatan mereka tidak akan selesai sebelum Jim tertidur, pria itu terus saja mengganggu Ririn yang tak mau mengganti pakaiannya.


Bagaimana akan mengganti kalau pakaian yang tersedia semua sangat seksi.


Ririn takut akan mengundang hasrat Jim.


****


Di rumah Amira, Ken masih diam pada semua orang. Sekarang, Ken sudah berada di kamar. Ken sedang dibacakan dongeng oleh Resa.


"Apa benar kata Tante Mika?" tanya Ken dalam hatinya. Pria kecil itu merasa kalau dirinya sudah tersisih padahal bayi itu belum lahir.


Ken yang kesal itu melempar buku dongeng yang berada di tangan Resa, perlakuan Ken membuat Resa menjadi bingung.


"Kenapa, Tuan? Apa Tuan tidak suka dongengnya?" tanya Resa seraya mengambil buku dongeng yang terlempar sampai ke pintu.


"Keluar!" teriak Ken pada Resa.


Dan teriakan Ken terdengar oleh Nala yang sedang meminum susu hamil.


"Sayang, kenapa dengan Ken?" tanya Nala pada Dhev.


"Entah, biar ku lihat!" kata Dhev, pria yang duduk di tepi ranjang itu bangun untuk melihat putranya.


Dhev bertanya pada Resa yang berdiri baru keluar dari kamar Ken.


"Ada apa?" tanya Dhev yang seraya menutup pintu kamarnya.


"Maaf, Tuan, Tidak tau, tiba-tiba saja Tuan Ken mengamuk," jawab Resa yang menundukkan kepala.


"Ya sudah, kamu boleh istirahat!"


"Baik, terimakasih," kata Resa yang kemudian pergi dari depan kamar Ken.


Dhev pun masuk dan terlihat Ken sedang mengacak-ngacak kamarnya.


"Sedang apa kamu?" tanya Dhev yang berdiri di pintu, menatap tajam anaknya yang sedang mengamuk.


"Kenapa? Ayah tidak perduli kan sama Ken? Lalu, kenapa ayah bertanya apa yang Ken lakukan?" jawab Kenzo dengan nada sedikit tinggi.

__ADS_1


"Tidak baik bicara seperti itu, Ken!"


"Nyenyenye!" jawab Ken seraya meloncat ke ranjang, tak mau perdulikan ucapan ayahnya.


Dhev yang kesal itu memilih untuk membanting pintu saat keluar dari kamar Ken.


Suara pintu itu mengundang pertanyaan bagi yang mendengar dan Ken menutup telinganya menggunakan tangan.


Bagi Ken, perlakuan Dhev yang seperti itu adalah hal biasa, karena sebelum ada Nala sikap Dhev lebih keras lagi terhadapnya juga terkadang mengabaikan Ken.


"Ada apa?" tanya Nala yang berdiri di pintu kamar.


"Anka itu, mulai lagi dengan kenakalannya!" jawab Dhev seraya menyuruh Nala masuk ke kamar.


"Pasti ada sesuatu, Mas!" kata Nala.


Nala memutar balikan badannya untuk keluar kamar dan langkahnya terhenti saat Dhev memanggilnya.


"Biarkan dia! Jangan manjakan, nanti jadi kebiasaan!" kata Dhev yang mendarat di ranjang.


"Tapi...," lirih Nala.


"Kamu enggak dengar aku bilang apa?" tanya Dhev.


Nala pun kembali ke ranjang. Berpikir akan menemui Ken setelah Dhev tertidur.


Benar saja, setelah Dhev pulas, Nala pergi ke kamar Ken dan ternyata kamar itu sudah terkunci dari dalam.


"Sayang," lirih Nala seraya mengetuk pintu itu pelan.


Ken tak mendengar karena sudah tertidur pulas setelah menangis.


"Ken, maafkan Ibu." lirih Nala, ia mengerti kekecewaan anaknya yang biasa ia urus dan sekarang Nala merasa kalau dirinya hanya memikirkan diri sendiri.


Nala pun kembali ke kamar dan ternyata Dhev memperhatikan dari pintu.


"Sudah ku bilang, biarkan, kenapa kamu engga mau dengar!"


"Mungkin Ken marah karena tidak jadi berkuda," kata Nala, gadis itu merasa takut saat melihat wajah Dhev yang sepertinya sedang menahan marah.


"Enggak semua yang dia mau harus di dapatkan sekarang juga, Nala! Masih ada hari lain! Ingat itu! Aku enggak cuma memikirkan Ken, tetapi memikirkan semua!" ucap Dhev.


Pria itu masuk ke kamar dan kembali mendarat di ranjang, tidur dengan membelakangi Nala.


Dhev merasa kalau Nala tidak mendengarkan ucapannya dan itu membuat Dhev kesal, padahal Dhev sudah mementingkan kesehatan untuk kebaikan Nala dan bayinya.


Nala pun menyusul ke ranjang.


"Mas," lirih Nala seraya menatap suaminya.


"Hmm," jawab Dhev.


"Aku minta maaf, mungkin Ken merasa kaget, kemarin kita ada buat dia, sekarang aku malah lemes terus dan enggak ngurus dia lagi." Nala mengerti letak kesalahannya.


"Dia enggak bahas itu, dia mau berkuda," kata Dhev yang masih membelakangi Nala.


"Lain kali-" ucapan Nala terpotong karena Dhev berbalik badan dan menatapnya tajam.


Bersambung.


Jangan lupa tinggalkan Like dan komentar ya. Terimakasih ❣️

__ADS_1


__ADS_2