DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Ken Mengganggu!


__ADS_3

Selesai mengurus Ken, Nala yang masih merasa canggung dan belum begitu mengerti apa yang diinginkan oleh suaminya itu melongokkan kepala di kamar, terlihat Dhev tertidur dengan masih mengenakan sepatu dan kemejanya, Nala masuk untuk melepaskan sepatu itu.


****


Di kantor, Doni sedang mengerjakan apa yang diinginkan oleh bosnya.


"Tuan, Tuan... kenapa sama istri aja pakai daftar seperti ini, harus sedetail mungkin, ingat itu Doni, itu pun kalau kamu enggak mau kena omel sama bos!" Doni berbicara sendiri.


Doni yang sudah mengerti apa yang diinginkan oleh bosnya itu membuat sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Dhev.


Daftar yang harus dilakukan sebagai istri Tuan Dhev.


1.Menemani Dhev tidur.


2.Menyiapkan baju ganti, lengkap!


3.Memakaikan dasi.


4.Mengantar Dhev bekerja sampai ke pintu.


5.Menyambut Dhev pulang.


6.Ikut masuk ke kamar dan turun lagi saat akan makan malam.


7.Menyiapkan minum untuk di kamar.


8.Menyiapkan cemilan dan mengantarkan ke ruang kerja apabila sedang lembur di rumah.


9.Memeluk Ken berarti harus memeluk ayahnya.


10.Mencium Ken berarti harus mencium ayahnya.


11.Jangan lupakan bekal.


12.Patuh dengan apa yang diucapkan oleh suami.


13.Harus selalu meminta izin suami.


14.Menyayangi suami adalah tugas istri.


15.Tidak boleh menolak!


Sekian.


Setelah selesai dengan itu, Doni akan mengantarkannya setelah pulang bekerja.


****


Tanpa terasa, Dhev yang kelelahan itu tertidur sampai sore.


Dhev bangun saat Nala membangunkannya.


"Om," lirih Nala seraya menggoyangkan kaki Dhev.


Dhev yang sudah bangun itu diam saja karena masih mendengar Nala memanggilnya om.


"Om," lirih Nala. Masih dengan menggoyangkan kaki Dhev.


"Telinga ku sakit, ini semua gara-gara kamu masih manggil aku 'om'!" kata Dhev seraya memasukkan jari telunjuknya ke telinga. Masih dengan posisi tengkurap dan tak mau menatap Nala.

__ADS_1


"Abang, Kakak, Mas, Aa? Om mau panggilan yang mana?" tanya Nala dengan polosnya.


Mendengar itu adalah kesempatan bagi Dhev untuk kembali menggoda istri kecilnya.


"Seperti kamu manggil Ken!"


"Sayang?" lirih Nala, gadis yang masih berdiri di tepi ranjang itu terdengar malu-malu saat mengucapkan kalimat itu.


Dengan semangat, Dhev segera bangun dari tidurnya.


"Bagus!" kata Dhev.


Pria itu berdiri di depan Nala dengan senyum yang merekah. Nala merasa bingung dengan Dhev. Merasa kalau Dhev sangat aneh.


"Buka!" kata Dhev seraya mata yang menunjukkan kancing kemejanya.


"Buka apa, Om? Eh... sayang." Nala merona dan Dhev sangat gemas saat melihat pipi merah tomat itu.


"Kancing, kancing kemeja ku, apalagi, aku harus mengganti pakaianku!" kata Dhev.


Baru saja Nala mengangkat tangannya, akan menuruti perintah suaminya, sudah datang Kenzo yang tiba-tiba masuk ke kamar.


"Tanteeeee! Pensil warna aku ketinggalan!" teriak Kenzo dan Nala segera menurunkan tangan, membatalkan niatnya.


Sementara Dhev merasa sangat terganggu dengan kedatangan anaknya yang tiba-tiba.


"Aku ngurus Ken dulu," kata Nala seraya menatap Dhev.


Dhev menahan lengan Nala. "Lain kali kunci pintunya," bisik Dhev di telinga Nala.


Nala hanya tersenyum kikuk saat lagi-lagi Dhev berbisik.


Ke segera keluar dari kamar Dhev.


"Di bawah sudah ada Pak Doni," kata Nala memberitahu.


"Hmmm," jawab Dhev singkat. Pria itu membatalkan niatnya untuk berganti pakaian santai. Mengikuti langkah Nala dan Kenzo.


Nala masuk ke kamar Ken dan Dhev turun ke lantai bawah.


Terlihat Jimin yang baru saja datang, Dhev dengan semangat menuruni tangga dan segera melingkarkan lengannya di leher Jimin dengan erat.


"Beraninya lo! Kenapa makan bekal gue!" geram Dhev yang semakin mengencangkan lengannya.


"Ampun, Dhev. Gue enggak bisa nafas!" pekik Jimin seraya berusaha melepaskan tangan Dhev.


Lalu, Jimin meminta tolong pada Nala yang sedang turun ke bawah bersama dengan Ken.


Jimin melambaikan tangannya.


"Om, nanti Om Jimin kehabisan nafas gimana?" tanya Nala, terlihat raut khawatir karena wajah Jimin sudah memerah.


Bukannya melepaskan, tetapi Dhev semakin mengencangkan lengannya, itu semua karena Nala memanggilnya 'om'.


"Astaga, sepertinya dia akan membunuh Om Jim!" batin Nala.


Nala pun reflek, berteriak memanggil sayang. "Sayang! Kamu akan membunuhnya!" Nala merasa malu sekali karena berteriak memanggil Dhev sayang di depan semua orang.


Dan barulah Dhev melepaskan lengannya. Dan Jimin berjalan cepat ke arah Nala yang sudah sampai di lantai bawah.

__ADS_1


"Terimakasih, sayang." Jimin sudah membuka tangannya ingin memeluk Nala.


Tetapi, Ken berdiri di depan Nala, tidak ingin Jimin seenaknya memeluk tantenya.


Bagi Ken hanya dirinya yang boleh memeluk Nala.


"Persis kaya bapaknya!" gerutu Jimin.


"Ehem," Doni yang sedari tadi memperhatikan itu akhirnya mengeluarkan suaranya.


"Tuan, ini pesanan anda, saya permisi," kata Doni seraya menyerahkan selembar catatan yang diminta oleh Dhev.


Dhev menerima itu, membacanya lalu tersenyum.


"Bagus!" kata Dhev yang merasa puas dengan kerjaan Doni.


Jimin yang merasa penasaran itu pun ingin tau. Mencoba merebut kertas itu dari Dhev tetapi Dhev dengan sigap menyimpan kertas itu sehingga Jimin tidak perlu tau.


Sementara Nala sedang mencari pensil warna milik Ken yang siapa tau tertinggal di mobil.


Di tengah keseruan Dhev dan Jimin datang Mika yang baru selesai memasak makan malam.


"Kebetulan lagi kumpul, ayo makan," kata Mika yang masih memakai celemek.


Dhev dan Jimin melihat kearahnya.


"Kebetulan, gue belum makan!" kata Jimin seraya menepuk bahu Dhev. Padahal, hari ini Dhev sangat ingin makan masakan dari Nala.


****


Di tengah transaksinya, Arnold merasa sebal karena mendengar kata polisi dari anak buahnya yang melihat dua orang datang ke tempat kosong itu. Anak buah Arnold sudah tau kalau itu pasti polisi.


"Sial, kenapa ada yang tau di sini bakal ada transaksi!" gerutu Arnold dalam hati, pria itu yang berada di gedung terbengkalai bergegas pergi saat mencium aroma polisi semakin dekat.


"Bubar!" kata Arnold pada para calon pembelinya yang merupakan pemuda dan pemudi.


Arnold dan anak buahnya berlari menyelamatkan diri, melompat dari gedung yang tidak terlalu tinggi itu ke semak-semak yang berada di belakang gedung.


"Di sana!" seru salah satu polisi yang mendengar suara krasak krusuk dari Arnold dan anak buahnya.


Polisi itu kehilangan jejak Arnold dan anak buahnya yang sudah tidak terlihat.


"Sial, berarti pesan itu bukan pesan kaleng-kaleng! Ada transaksi sungguhan di sini, tapi siapa dia yang mengirim pesan itu?"


"Entah lah, kita selidiki!" jawab rekan polisi.


****


Arnold kembali ke rumah dengan tangan dan leher yang bentol-bentol karena terkena ulat bulu.


"Sial, gatel banget!" gerutu Arnold seraya terus menggaruk lengan dan lehernya.


"Apa ini ulah Dhev, dia sengaja ingin membalas ku dengan cara mengusikku?" batin Arnold.


Bersambung.


Jangan lupa like dan komen, juga difavoritkan, ya. Terimakasih.


Yang masih punya vote gratis, yuk di vote Nala dan Dhevnya ☺

__ADS_1


__ADS_2