DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Merasa Malu


__ADS_3

Sesampainya di kos, Jimin yang sudah mengetahui kronologinya itu bertanya, "Kok dia masih hidup, Ken?" tanyanya seraya menunjuk Rama yang sudah bonyok.


"Enggak boleh dimampusin sama Adila, Om!" jawab Ken seraya mengusap ujung bibirnya yang memar.


Dan Adila sekarang sudah berada di pelukan Ririn. Ririn berusaha menenangkan anaknya.


Sebelum digelandang oleh polisi, Jimin menyempatkan untuk menamparnya dengan keras.


"Bonus!" kata Jimin dengan jengkelnya dan Rama selain mendapatkan sakit juga mendapatkan rasa malu karena telah menjadi tontonan malam ini.


Jimin meyakinkan anaknya kalau malam ini tidak ada yang merekam dan menjamin tidak akan tersebar vidio apapun tentang tragedi malam ini.


Selesai mengurus Rama, Jimin meminta pada Kenzo untuk kembali ke rumah orang tuanya.


"Ken malu, Om!" lirih Kenzo, sekarang, semua orang masih berada di depan kantor polisi.


"Kenapa malu! Cukup minta maaf dan dengarkan ucapan orang tua!" kata Jimin seraya menepuk bahu Kenzo.


Ken pun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Dalam hati, ia masih merasa malu untuk menemui orang tuanya karena yang diucapkan oleh ayahnya adalah benar.


****


Malam ini, Nala yang tertidur itu terbangun karena mimpinya, baginya mimpi itu sangat menjengkelkan dan seketika ia mencubit pinggang suaminya.


"Auu!" pekik Dhev yang sedang tertidur.


"Kenapa? Kok aku dicubit!" protes Dhev seraya mengusap pinggang itu.


"Kamu nyebelin!" gerutu Nala seraya mengerucutkan bibirnya.


Dhev pun tidak mengerti apa yang terjadi, ia tidak merasa berbuat apa-apa tetapi istrinya tiba-tiba merajuk.


"Apaan sih? Kok kamu jadi enggak jelas, yang?" tanya Dhev, ia merasa penasaran dan merubah posisinya menjadi duduk.


"Katakan, ada apa?" tanya Dhev seraya membawa Nala ke pelukan.


"Kamu jahat banget, sih! Jalan-jalan aku enggak diajak!"


"Astaga, kapan? Mana pernah aku pergi jauh tanpa kamu?" tanya Dhev yang merasa heran.


"Barusan!" lirih Nala seraya memainkan kerah kaos Dhev, memelintir kerah itu dengan telunjuknya.


"Astaga, kamu mimpi?"


Nala pun menganggukkan kepala sedangkan Dhev menggelengkan kepala.


"Habisnya, walaupun itu mimpi tapi kerasa beneran, nyebelinnya juga beneran!"


Dhev menahan tawa lalu kembali membawa istrinya berbaring. Mendekapnya penuh cinta dan sayang.


"Cuma mimpi, mana mungkin aku pergi tanpa kamu!" lirih Dhev.

__ADS_1


"Beneran, ya!"


"Iya, sayang! Udah tidur. Udah malam!" kata Dhev seraya mengusap pucuk rambut istrinya.


****


Keesokan harinya, setelah mendengar kabar tentang Adila, Dhev membawa Nala dan Fai untuk menjenguknya.


Dhev yang sedang dipakaikan dasi oleh Nala itu menggelengkan kepala dan merasa beruntung karena Ken datang tepat waktu.


"Emang mereka jodoh mungkin!" kata Dhev dan Nala mengiyakan.


Nala juga meminta pada Dhev untuk membujuk Ken pulang.


"Kenapa harus dibujuk? Kan udah aku bilang, kalau ucapan ku benar, dia memang seharusnya pulang!"


"Pasti dia ada rasa malu, Mas!" kata Nala seraya mengeratkan dasi dan membuat Dhev sedikit terbatuk.


"Kamu mau bunuh aku, ya?"


"Habisnya, bujuk anak sendiri aja enggak mau!" kata Nala yang kemudian keluar dari kamar, Dhev pun mengikutinya dan mengatakan akan membawa Ken kembali.


Singkat cerita, sekarang keluarga Dhev sudah berada di rumah Jimin.


Dan Fai berada di kamar Adila yang masih sedih, Fai menghibur sahabatnya dan Fai hanya bisa menangis.


Ia merasa bodoh karena mau saja menemui Rama kemarin setelah dari salon mobil.


Sedangkan Adila merasa sedih dan malu karena tubuhnya sudah dijamah oleh orang yang bukan suaminya.


Dan tentu saja, Adila tidak menceritakan itu pada Fai.


Semua orang mengetahui kalau dirinya hanya difoto saja.


****


Di rumah Alif, Mae menanyakan hubungannya dengan Fai.


"Alif, kamu benar udah putus sama Fai, kan?"


"Iya, bu," lirih Alif, pria yang sedang sarapan itu tak berani menatap wajah ibunya.


"Baguslah, gadis baik dan cantik bukan cuma Fai doang!" kata Mae dan Alif hanya mendengarkan saja.


"Tapi yang namanya cinta enggak bisa dipaksakan, bu!" batin Alif, ia tak berani menjawab karena Mae baru saja kembali sehat.


Alif takut kalau kesehatan Mae akan menurun kembali.


Sementara itu, Fakhri dan Nindy sedang berada di apartemen lamanya.


Di sana Nindy kembali menangis saat teringat dengan semua kebaikan almarhum suaminya.


Nindy pun mendoakan surga untuk Doni.

__ADS_1


Sementara Fakhri sedang memikirkan hal lain, dirinya tau kalau sewaktu di dalam kandungan dan semua foto lama Nindy sewaktu hamil itu bukanlah dirinya. Alif lah yang berada di kandungan Nindy dan Alif hanya menikmati kekayaan orang tuanya saat di dalam kandungan.


Fakhri hanya diam, bahkan namanya saja sebenarnya itu untuk Alif, Doni yang memberikan nama itu sewaktu pertama kali melihat Fakhri yang sesungguhnya.


Apakah ada rasa bersalah di dalam diri Fakhri?


"Kamu kenapa, Nak?" tanya Nindy dengan suara lirih.


Nindy yang duduk kursi roda dan di dorong oleh suster itu baru saja keluar dari kamar Doni, ia baru saja membuka jendela kamar tersebut.


"Sudah banyak yang berubah, bahkan semua foto sekarang sudah tersimpan rapi!" kata Nindy yang kemudian memperhatikan foto lamanya kembali.


"Apa mamah cuma perduli sama foto lama itu? Sedangkan ada Fakhri di sini, mah! Fakhri juga rindu mamah, tapi Fakhri seolah tak merasakan kalau mamah merindukan Fakhri!" kata Fakhri seraya bangun dari duduknya.


Pria itu pergi keluar dari apartemen meninggalkan Nindy bersama suster.


"Kenapa dengannya?" tanya Nindy pada diri sendiri.


Nindy pun merenung dan memikirkan ucapan anaknya.


Sekarang, Nindy mengerti kalau Fakhri ingin perhatiannya sedangkan semenjak membuka mata Nindy hanya menangisi kepergian suaminya.


Sekarang, Nindy meminta pada suster untuk kembali ke rumah Dhev.


****


Di perjalanan saat mengirim paket, Kenzo bertemu dengan Bila yang sedang naik mobil mewah, Bila bersama dengan Kenji.


Melihat mantan kekasih tanpa kata putus itu membuat Bila menurunkan kaca mobilnya.


"Ken?" panggil Bila yang memakai kaca mata hitam dan terlihat Kenji yang sedang menyetir itu juga melihat sekilas ke arah Kenzo.


Tentu saja, Bila menertawakan Ken yang masih dengan pendiriannya.


"Ken... Ken! Untung lah gue pergi dari pada bertahan, eh sekarang taunya jadi kurir!" kata Bila dan Ken pun hanya diam saja, ia memilih untuk tetap fokus ke jalannya.


Dan dengan isengnya, Kenji membuat Kenzo terkejut dengan seolah akan menyerempetnya.


Tentu saja, Ken kehilangan keseimbangan dan itu membuat Kenzo terjatuh, barang-barang bawaannya pun ikut terjatuh.


Melihat itu seolah menjadi hiburan bagi Bila dan Kenji.


Keduanya menertawakan Kenzo yang terlihat bodoh.


"Kalian!" geram Kenzo seraya menatap kepergian mereka.


Beruntung, jalanan tidak begitu ramai dan tidak ada kendaraan dari belakang sehingga Ken tidak mengalami luka parah.


Bersambung, setelah di rendahkan seperti itu, apakah akan membuat Ken kembali ke keluarganya?


Like dan komen ya🤗


sampai jumpa di episode selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2