
Selesai dengan makan, Alif mengajak Fai untuk duduk di luar dan keduanya sekarang duduk di bangku taman samping rumah.
Fai seolah rindu berat dengan kekasihnya sehingga melingkarkan lengannya begitu erat di lengan Alif.
"Ada apa? Katanya mau ngomong?" tanya Fai dengan wajah yang begitu dekat dan Alif memundurkan wajah itu menggunakan telapak tangannya supaya agak mundur.
"Jangan deket-deket! Gue takut khilaf!" kata Alif dan Fai semakin menggoda dengan mengedipkan matanya.
"Gimana gue mau ngomong kalau lo gini terus, Fai?"
"Ok... ok, gue serius sekarang!" kata Fai seraya membenarkan posisi duduknya dan tidak lagi memeluk lengan Alif.
"Begini, belakangan ini pasti kita susah buat ketemu dan gue mau jujur kalau hubungan kita itu terhalang restu sama ibu!"
Mendengar itu, Fai sudah tidak kaget lagi, karena dari awal dirinya sudah tau kalau Mae tidak menyukainya.
Dan yang membuat Fai kecewa adalah ketidak jujuran Alif.
"Kenapa enggak bilang dari awal? Terus kemarin sama hari ini lo udah bohongin gue, pasti! Ayo ngaku!" kata Fai seraya menatap tajam Alif.
Alif hanya bisa tersenyum dan meminta maaf.
"Gue maafin dan kita berjuang bersama buat dapatin restu ibu!" kata Fai dan Alif sangat senang mendengarnya karena itu adalah jawaban yang Alif inginkan.
"Iya, lagian kita masih muda, umur juga masih belasan, masih banyak waktu buat yakinin ibu kalau kita berjodoh!" kata Fai, ia tersenyum manis padanya.
"Makasih!" kata Alif yang kemudian memberanikan diri untuk mengecup kening Fai dan ini adalah pertama kali baginya mencium seorang gadis.
Begitu juga dengan Fai, ini adalah pertama kalinya ada lelaki asing selain Dhev dan Kenzo yang menciumnya.
Fai merasakan cinta yang tulus dari seorang Alif.
****
Tidak lama kemudian, Dhev dan Nala pulang, malam ini begitu lengkap kebahagiaan Fai, ia melihat Dhev dan Nala berhasil membawa Ken pulang.
"Udah malem kamu belum tidur?" tanya Nala seraya meletakkan tas tangannya di meja ruang tengah.
"Habis ada tamu, baru aja pergi!" jawab Fai.
"Siapa?" tanya Dhev yang sedang melepaskan jaketnya.
"Alif," jawab Fai singkat, Fai kemudian memperhatikan penampilan kakaknya.
"Ini beneran kakak? Kakak bisa juga pakai pakaian yang biasa aja, enggak alergi kan? Sekarang enggak boleh sombong lagi sama Alif, ya!" kata Fai seraya menyentuh kemeja Ken yang biasa saja.
__ADS_1
"Kalian pacaran?" tanya Ken mencari jawaban.
"Iya, ayah udah kasih restu, kakak enggak boleh macem-macem!" kata Fai yang kemudian pergi ke kamar, meninggalkan Ken, Nala dan Dhev.
"Kenapa ayah ijinin mereka pacaran?" tanya Ken seraya ikut duduk di sofa, di samping Nala.
"Dia pria yang baik! Sekarang, tante kamu juga udah bangun, anak itu yang pertama kali melihat Nindy bangun."
Ken tak menjawab atau bertanya lagi, baginya apapun yang dikatakan Dhev sekarang adalah benar, Bila contohnya.
****
"Gimana? Enggak nyesel kan terima perjodohan ini? Dia tampan, juga sederajat dengan keluarga kita! Enggak kaya cowok bajingan itu!" kata Jimin pada Adila yang sudah berada di kamar, Adila yang duduk di bangku belajarnya itu hanya bisa diam.
Gadis itu merasa malu untuk membahas soal perjodohan bahkan Jimin sudah menentukan tanggal untuk keduanya.
"Begini, ada yang ingin papah sampaikan!" kata Jimin seraya menatap Adila dan Ririn secara bergantian.
Ririn yang tadinya duduk di samping Jimin itu bangun, ia memeluk Adila yang kemudian mengusap lengannya.
"Papah enggak bisa jadi wali nikah kamu," lirih Jimin seraya menundukkan kepala.
Sementara Adila, ia menatap Jimin dan Ririn bergantian.
"Mungkin sudah saatnya kamu tau, kamu sudah dewasa sekarang, nak!" kata Ririn, Ririn pun menganggukkan kepala pada Jimin meminta padanya untuk melanjutkan apa yang ingin disampaikan.
"Kami bukan orang tua kandungmu!" kata Jimin seraya menatap Adila.
Adila meneteskan air matanya, ia tak percaya dengan ucapan papahnya dan menganggap kalau ia sedang berbohong.
"Papah bohong, kan?" tanya Adila seraya menatap Jimin dan Ririn bergantian.
"Enggak, kami enggak bohong, kamu udah dewasa dan mau menikah, maka dari itu ini adalah waktu yang tepat untuk memberitahu, kami enggak mau kamu nanya kenapa papah enggak jadi wali nikah nanti," jawab Ririn.
Adila pun bangun dari duduk, ia berdiri di tepi jendela, lalu menanyakan siapa orang tua kandungnya.
"Kami tidak tau dan tidak pernah mencari tau siapa orang tua kamu, karena semenjak kami menemukan kamu di panti, bagi kami, kami adalah orang tua kamu!" jawab Ririn seraya menatap Adila.
Adila pun berlari ke arah Ririn lalu memeluknya.
"Terimakasih udah baik sama Adila!" tangisan pun pecah, Jimin memilih untuk keluar sementara Ririn menunjukkan barang-barang masa kecil Adila sewaktu baru datang ke keluarga barunya.
Dalam hati, Adila sangat beruntung karena memiliki orang tua yang sangat menyayanginya, bahkan selama ini tak terlihat kalau dirinya adalah anak pungut.
****
__ADS_1
Keesokan paginya, Alif sedang bersiap karena akan pergi ke taman kotak bersama Fai untuk berlari pagi.
"Pergi sama siapa?" tanya Mae seraya ikut duduk di samping Alif yang sedang memakai sepatunya.
"Sama temen, bu." jawab Alif seraya melanjutkan ap yah sedang dikerjakan.
"Yakin sama temen? Anak ibu enggak pandai bohong, kan?" sindir Mae seraya membawa wajah Alif supaya menatapnya.
Alif hanya menjawab dengan senyum.
Setelah itu, Alif pun pamit pada Mae. Di jalan, Alif merasa bersalah dan berdosa karena telah berbohong pada Mae.
"Maafin Alif, bu," batin Alif seraya fokus mengendarai motornya.
Sesampainya di taman kota, Alif melihat Fai sudah berdiri di depan pintu taman, kali ini Fai tidak sendiri, Fai ditemani oleh Kenzo dan Adila.
Ken ingin menghilangkan trauma pada Adila dan mengembalikan rasa percaya dirinya.
Setelah semua berkumpul, sebelum berolahraga mereka memilih untuk sarapan bubur ayam terlebih dulu dan kali ini Ken yang mentraktir.
Sebenarnya, Alif sangat ingin mentraktir Fai tetapi ia merasa minder dan takut dianggap kalau meremehkan keluarga mereka.
Setelah selesai sarapan, layaknya seorang kakak, Kenzo memberi nasehat pada Alif yang mengencani adiknya.
Sama seperti apa yang Dhev minta dan Alif pun mengiyakan, ia berjanji akan menjaga Fai dan tidak akan mengotorinya.
"Bagus!" kata Ken seraya menepuk bahu Alif.
Alif merasa senang karena restu dari pihak Fai sudah ia kantongi.
****
Di rumah Mae, ia kedatangan tamu yang sangat di rindukan.
Mae yang sedang mengunci pintu itu di kejutkan oleh Fakhri yang tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya.
"Fakhri!"
"Gua enggak lama-lama di sini, gua cuma mau ngasih tau kalau Alif dan Fai masih hubungan! Ini semua tanggung jawab lu! Dosa mereka akan jadi tanggung jawab lu!" kata Fakhri dengan sengaja menekankan kalimat dosa Fai dan Alif yang memiliki hubungan darah.
Mae hanya terdiam, ia bahkan tak melihat sosok anaknya di diri Fakhri yang memiliki ikatan darah dengannya, dari caranya berbicara Mae sudah pasrah kalau Fakhri tidak mau mengakuinya yang terpenting adalah Alif, Mae sangat menyayangi Alif dan tidak ingin kehilangannya.
Bersambung.
Like dan komen ya all, ringankan jempolnya untuk klik like setelah membaca ☺
__ADS_1