
Kenzo yang duduk seorang diri itu masih berperang dengan pikirannya sendiri.
Ia mencoba meredam amarahnya dan akan mengatakan akan memaafkan Bila jika Bila mau meminta maaf.
Tetapi, sampai larut Ken tidak juga menemukan Bila kembali.
"Bodoh banget sih gue, kenapa juga gue harus nunggu orang yang lagi senang-senang!"
Ken pun bangun dari duduk, ia memilih untuk kembali ke kos, di jalan, ia teringat dengan keluarganya, ingin kembali tapi ada rasa malu, kembali berarti apa yang dikatakan oleh Dhev tentang Bila adalah benar.
****
Malam ini, Alif semakin merasa kalau Mae semakin tertutup padanya, bahkan Mae tidak mau bercerita tentang Fakhri yang ternyata Mae juga mengenalnya.
Alif pun memilih untuk segera tidur karena esok hari harus kembali bekerja.
Sementara itu, di rumah Fai, gadis tersebut sedang menemani Fakhri yang memiliki banyak cerita untuk diceritakan pada Nindy.
Fakhri menceritakan kebaikan Dhev dan Nala yang selama ini merawatnya dengan baik, Nala juga yang membantunya untuk berdiri disaat Fakhri terjatuh waktu belajar berjalan.
"Maafkan mamah, seharusnya mamah ada di sisi kamu, membantu kamu berdiri di saat kamu jatuh," kata Nindy dengan lirih.
Dan dalam hati Fakhri yang sebenarnya sangat membenci Mae. Mae yang telah memberikan kesengsaraan itu padanya, membuatnya merindukan kasih sayang orang tua.
Apakah Fakhri sekarang menjadi pembenci?
"Sudah malam, tidurlah," kata Nindy pada anak-anak yang berada di kamarnya.
Dan Nindy yang mengetahui kalau apartemen Doni disewakan itu meminta pada Dhev untuk dikosongkan.
Nindy juga merasa sedih setelah mengetahui kalau mertuanya telah tiada.
Bagi Nindy, kejadian kecelakaan itu baru terjadi kemarin sore dan sekarang Nindy masih terus menangis.
Setelah anak-anak keluar, Nala pun mengetuk pintu.
"Nindy, mbak boleh masuk?"
"Boleh," sahut Nindy.
Nala pun masuk, ia duduk di tepi ranjang dan mengatakan kalau apartemen sudah kosong.
__ADS_1
"Kamu yakin mau tinggal di apartemen? Kenapa enggak di sini aja, kita sama-sama seperti dulu," kata Nala seraya menatap Nindy yang juga menatapnya.
"Yakin, mbak. Di sana ada kenangan ku dan juga Doni."
"Kamu yang sabar dan kalau itu keputusan kamu, mbak bisa apa, semoga Mas Dhev juga ngijinin, ya!" kata Nala seraya bangun dari duduk.
Nala membantu Nindy untuk pindah ke ranjang.
"Tidur, udah malam! Jangan nangis terus, kasihan Fakhri!"
Nindy pun menganggukkan kepala.
"Iya, benar. Ada Fakhri yang masih membutuhkan aku!" batin Nindy.
"Terimakasih, mbak," ucap Nindy dan Nala yang sedang menarik selimut untuk Nindy itu tersenyum.
****
Semakin hari Mae semakin tak terurus, dirinya belum juga mendapatkan maaf dari Fakhri yang memintanya untuk berhenti menemuinya sebelum semua orang tau tentang dirinya.
"Fakhri, maafkan ibu, nak!" kata Mae dalam hati.
Dan Andra yang sudah berada di samping Mae itu kesal dengan perubahan Mae yang dianggapnya tidak jelas karena setelah Mae depresi Andra tidak lagi mendapatkan jatah.
Sementara itu, Mae yang tidak mendengarkan Andra itu sedang mengingat beberapa hari lalu.
Flashback
Mae kembali menemui Fakhri di kampus dan sebelum Fai atau Adila melihatnya, Fakhri meminta pada Mae untuk membonceng motornya, Mae merasa senang karena itu adalah pertama kali Fakhri mau berbicara dan dekat dengannya.
Sayangnya, Mae harus menerima kenyataan saat Fakhri membawa Mae ke gang yang sepi.
"Dengar, berhenti menemui ku atau semua akan terbongkar! Aku enggak mau hidup susah! Mereka sudah menyiapkan masa depan yang cerah buat ku! Jangan ganggu aku, berhenti! Ingat untuk berhenti!" kata Fakhri yang kemudian melangkah meninggalkan Mae di gang sepi itu.
"Fakhri, tapi aku ibumu, ibu kandung mu, bisakah kita sesekali untuk bertemu?" tanya Mae seraya menatap punggung Fakhri.
Fakhri pun menghentikan langkah kakinya, ia mengeratkan giginya sampai bunyi bergemelutuk.
Sekarang, Fakhri berbalik badan, kembali mendekati Mae.
"Aku anak yang kamu tukar! Buat apa sekarang kamu mau bertemu denganku? Apa kamu lupa siapa yang mengurusku selama ini? Itu bukan kamu! Jangan harap aku mau menganggap kamu ibuku!"
__ADS_1
Deg! Jantung Mae seolah tertancap anak panah yang mematikan, ia pun meneteskan air matanya.
Harapannya untuk menjadikan anaknya sebagai orang sukses dan serba ada sudah berada di depan mata, tetapi Mae harus membayar mahal untuk itu.
Mae kembali pulang dengan perasaan yang sangat sakit.
"Ini semua jalan yang ku pilih, sudah ku duga dari awal, kalau nanti mereka akan membenci ku, jadi ku hanya bisa merahasiakannya! Tapi aku belum tenang selama Fakhri belum memberikan maaf untukku!" batin Mae, wanita itu berjalan seperti tanpa arah dan tujuan. Pandangan matanya kosong hanya ada nama Fakhri di hatinya.
Flashback off.
"Aku harus kembali seperti biasa, jangan biarkan Alif juga akan membenci ku!" batin Mae yang kembali teringat dengan Alif, Alif yang selalu perhatian padanya, sayang padanya.
Tapi, apakah Alif akan tetap menyayangi Mae setelah mengetahui kebenarannya?
****
Keesokan harinya, Alif sudah siap untuk bekerja, di meja makan, sekarang sudah tersaji lauk pauk dan sekarang bukan hanya tulisan sayur dan tahu atau tempe, pagi ini ada ayam goreng tepung dan ayam goreng itu untuk Alif.
"Maafkan ibu, ibu jarang sekali ngasih makan kamu yang enak-enak! Sekarang makanlah, biar kerjanya bertenaga!" kata Mae yang duduk di samping Alif.
"Semua yang dimasak oleh tangan ibu pasti enak, itu udah pasti!" kata Alif dan Mae sekarang kembali tersenyum.
Melihat itu Alif ikut bahagia, merasa kalau Mae sudah kembali.
"Ibu udah sehat?" tanya Alif seraya menyantap sarapannya.
"Ibu enggak pernah sakit, ibu sehat-sehat aja!" jawab Mae seraya mengusap pucuk kepala Alif.
Dan di rumah Dhev, Setelah sarapan, Fakhri hanya memperhatikan Fai yang juga dibelai oleh ibunya, itu membuat dirinya teringat dengan Mae.
Seandainya Mae tidak menukarnya, mungkin Fakhri juga merasakan bagaimana rasanya dibelai oleh tangan orang tuanya.
Sedangkan, Nindy, sekarang belum bisa menggerakkan tangannya.
Setelah sarapan, Fai yang sudah membuat janji dengan Adila itu pergi dengan memesan ojek online.
"Kenapa enggak bilang aja sama gue, biar gue antar!" kata Fakhri yang ternyata mengikuti Fai dari belakang.
"Enggak enak gue, lo kan lagi ngerayain hari bahagia sama tante, gue enggak mau ganggu!" kata Fai dan tidak lama kemudian ojek pesanannya pun datang.
"Gue pergi dulu, ya!" kata Fai dan Fakhri hanya bisa mengangguk.
__ADS_1
Bersambung, like dan komen ya, All 🤗
sampai jumpa di episode selanjutnya.