DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Menertawakan Arnold


__ADS_3

Arnold dan anak buahnya berhasil dibekuk.


"Bos, katanya enggak berurusan sama polisi!" geram anak buah Dhev.


"Cih!" Arnold yang sedang diborgol itu meludah ke sembarang arah. Tidak menghiraukan perkataan anak buahnya yang menyesal telah membantunya.


Sudah mengatur rencana akan membuang Ken di tempat yang jauh untuk menghilangkan jejak lalu kabur tapi sama saja tertangkap.


Arnold menyesal, kalau sama saja tertangkap kenapa tidak menghabisi saja nyawa anak kecil itu.


****


Nala ingin membersihkan dirinya, tetapi kesusahan untuk turun dari ranjang. Dhev membantu Nala dengan membopongnya, Nala yang masih bergulung selimut itu hampir jatuh karena Dhev menginjak selimut itu.


"Aaaaa!" teriak Nala dan Dhev bersamaan.


Sampai di depan pintu, Nala meminta turun dari gendongan Dhev.


"Maaf, sayang," kata Dhev, pria yang hanya berkolor itu menggaruk tengkuknya.


"Enggak papa, kan enggak jatuh," jawab Nala. Dhev pun mengusap pucuk kepala Nala.


Setelah itu, Dhev yang berniat ke meja kerjanya itu melihat seprei berantakan dengan ada bercak darah di sana. Dhev tersenyum dan teringat dengan Ana yang dulu sudah digagahi lebih dulu oleh Arnold.


"Ternyata rasanya seperti ini main sama perawan," gumam Dhev. Pria itu melanjutkan langkah kakinya ke ruang kerja.


Dhev meraih ponselnya dan memiliki banyak panggilan tak terjawab.


Sementara itu, di kamar mandi, Nala sedang duduk di atas kloset, merasa nyeri di sana.


"Auuu," pekik Nala seraya bangun dan menyalakan shower.


Nala mandi dan di sana Nala mendapati sabun cair yang mahal, wangi dan sangat lembut.


Begitu juga dengan shamponya.


Kemewahan yang di dapat Nala di kamar mandi itu membuat Nala betah berlama-lama di dalam sana. Bermain busa dan Dhev yang sedang menunggu Nala mandi itu sudah merasa lengket dan juga ingin cepat membersihkan badannya.


Dhev mengetuk pintu kamar mandi, mengira kalau istrinya itu pingsan.


Dhev membuka pintu yang tidak terkunci itu. "Enggak di kunci." Dhev terkekeh, diam-diam masuk ke kamar mandi dan terlihat bidadarinya sedang bermain busa.


Dhev menghampiri Nala dan mengajak istri kecilnya itu mandi bersama. Tentunya bukan hanya mandi, tetapi, Dhev meminta jatahnya lagi.


Tidak dapat menolak, karena yang Nala tau jika menolak ajakan suami adalah dosa besar.


Hampir setengah hari, Dhev dan Nala bergelut, menyalurkan hasratnya.


Sekarang, Nala dan Dhev sudah rapih kembali dengan pakaiannya.


Dhev mengambil ponsel dan meminta asistennya untuk membeli makan siang. Ya, Dhev melupakan bekal yang berada di mobil, Dhev yakin makanan itu sudah kepanasan di dalam sana dan membuat rasanya sudah sedikit berubah. Dhev kembali meletakkan ponselnya di atas ranjang.


****


"Istirahat lah! Aku akan bekerja," kata Dhev yang berdiri di belakang Nala untuk membantunya menutup resleting dress istrinya.


Nala menganggukkan kepala, sebelum itu terlihat Nala menarik seprei yang berdarah itu.

__ADS_1


"Biarkan saja, nanti akan ada yang membereskannya," kata Dhev. Nala pun menganggukkan kepala, tanda mengerti.


****


Dhev duduk di kursi kebesarannya dan kali ini Doni masuk dengan membawa Ken dan Nindy yang terlihat berantakan dan juga memiliki banyak luka


"Ada apa ini? Kalian habis main perang-perangan?" tanya Dhev,


"Ayah, di mana Tante Nala, eh, ibu," tanya Kenzo seraya duduk di sofa panjang, melepaskan tasnya.


"Apa? Ibu?" tanya Nindy yang ikut duduk di sofa.


Dhev tidak menghiraukan Nindy, dia hanya menjawab pertanyaan Ken.


"Ada sedang istirahat, jangan ganggu dulu," kata Dhev. Pria itu bangun dari duduknya dan menanyakan apa yang terjadi pada Doni.


Dhev terkejut dan merasa beruntung karena semua baik-baik saja dan sekarang urusan Arnold sudah beres.


"Dengar, karena aku bangga padamu! Akan ku kirim ulang bonus yang lebih besar," kata Dhev seraya menepuk bahu Doni.


"Sudah seharusnya, Tuan!" kata Doni seraya meringis kesakitan, pipinya memar karena sempat terkena tinju Arnold.


"Bahkan bonus itu tidak lebih berarti dari nyawa keluarga anda," batin Doni. Pria itu undur diri dan Dhev menahannya.


"Tunggu, Doni. Kamu antar mereka pulang, untuk istirahat dan jangan lupa panggilkan dokter!"


"Baik," jawab Doni.


Setelah itu, Doni kembali menggandeng tangan Ken dan Nindy mengekor di belakangnya.


****


"Dia kemana?" tanyanya pada diri sendiri.


Ririn duduk manis di teras dan terlihat Adelia baru saja pulang dari berbelanja.


"Mamah, kita harus mengirit menggunakan uang, kalau uang itu habis nanti buat biaya hidup kita gimana?" kata Ririn saat Adelia ikut duduk di sampingnya.


Adelia tak mendengarkan ucapan anaknya. Dirinya yang sudah lama tidak berbelanja barang mahal itu seolah kalap, apa saja yang menggoda matanya makan akan dibeli.


"Sayang, terimakasih. Kamu harus lebih rajin lagi cari uangnya!" kata Adelia seraya bangun dan menunjukkan perhiasan yang ada di tangannya.


Ririn menggelengkan kepala melihat tingkah orang tuanya.


"Entah sampai kapan kalian akan menjadi dewasa," batin Ririn.


****


Satu bulan berlalu.


Arnold yang terkurung di balik jeruji besi itu mendapatkan tamu.


Seorang penjaga membukakan pintu untuk Arnold.


Arnold pun keluar dan menemui siapa yang datang, ternyata itu adalah Dhev.


Dhev duduk santai seraya menatap Arnold dingin.

__ADS_1


"Ngapain lo? Mau ngetawain gue?" tanya Arnold, pria itu duduk di kursi panjang seraya menaikkan satu kakinya seperti sedang duduk di warteg.


"Lo niat banget ancurin hidup gue, tapi hidup lo sendiri yang hancur!" kata Dhev. Pria itu berbicara tanpa ekspresi.


"Ck!" decak Arnold seraya membuang muka.


"Gue bisa bebasin lo dari sini!" kata Dhev.


"Hahahaaa!" jawab Arnold, pria yang semakin tak terurus menertawakan Dhev. Mengejeknya.


"Berlutut, cium kaki gue!" kata Dhev.


Dan sekarang Dhev lah yang menertawakan Arnold.


"HAHAHAHAA!" Tawa Dhev menggelegar di ruangan itu.


Arnold terpancing dan bangun dari duduknya. Pria berkumis dan berjerawat itu mencengkram kerah kemeja Dhev.


"Bajing**an!" umpat Arnold tepat di depan wajah Dhev.


Sipir yang berjaga pun melerai.


Setelah puas menertawakan Arnold, Dhev pun pergi dari lapas.


****


Persediaan uang Ririn sudah mulai menipis, dirinya tidak tau harus mencari uang kemana lagi, sumber uangnya kini hilang tanpa kabar.


Ririn pergi menemui si bos. Menanyakan keberadaan Arnold.


"Saya tidak tau, dia tidak pernah memberi kabar dan saya tidak mau tau urusan orang."


"Baiklah, gue pamit," kata Ririn seraya bangun dari duduknya.


"Tapi, kalau kamu mau cari pelanggan lain, saya bisa bantu," kata si bos.


Ririn berbalik badan, menatap pada si bos yang sedang menyulut rokoknya.


"Nanti, gue pikir dulu," jawab Ririn.


Setelah itu Ririn pergi dari kelab tersebut.


****


Di rumah Amira.


Dhev yang baru saja pulang itu di sambut oleh Nala di pintu, meraih punggung tangan suaminya dan meminta tas kerja Dhev.


Sekarang, Nala sudah hafal betul dengan tugasnya sebagai istri Dhev.


Dhev merengkuh pinggang istri kecilnya, mengecup keningnya lalu beriringan berjalan masuk ke rumah.


Baru sampai di ruang tamu, Dhev mendengar kalau Nindy masuk angin dan tidak berhenti mual, muntah.


Bersambung.


Jangan lupa like, komen dan difavoritkan, ya. Terimakasih^^

__ADS_1


__ADS_2