
Sepulang bekerja, Alif yang mengambil baju ganti di lemari itu menyadari kalau ada yang berbeda dengan isinya. Walau Mae sudah merapikannya lagi, tetapi, tetap saja Alif menyadari ada yang berbeda.
Alif pun tau kalau tadi siang ada yang masuk ke kamarnya, beruntung Alif tidak menyimpan uang di rumah.
Sekarang, Alif keluar dari kamar dan pergi ke kamar mandi.
Tidak berlama-lama, Alif pun selesai dengan mandinya, ia kembali ke kamar dan melihat ke ponselnya yang berada di kasur.
Malam ini, benar-benar lain, biasanya ponsel Alif sepi hanya teman-temannya yang sesekali mengirim pesan, lain halnya dengan sekarang ada Fai yang mengirim pesan.
"Alif?" Alif membaca isi pesan pertama dari Fai.
Dan karena Alif tak langsung menjawab pesan itu, Fai pun memberitahu kalau dirinyalah yang mengirim pesan.
"Ini gue, Fai!"
"Lo udah tidur?"
Alif tersenyum melihat Fai yang terus mengirim chat dan sekarang Alif membalasnya.
"Belum, gue habis mandi makanya baru buka HP lagi!" balas Alif.
"Oh, wangi dong!" balas Fai singkat.
"Wangi lah, kan habis mandi, lo belum tidur?" tanya Alif.
"Belum, gue lagi kepikiran sesuatu!" balas Fai dan Alif pun bertanya memikirkan tentang apa. Tetapi Fai tak memberitahunya.
Setelah itu, Alif pun teringat dari mana Fai mendapatkan nomornya. Alif pun menanyakan itu.
"Rahasia!" balas Fai, setelah itu, Fai yang ingin membuat Alif penasaran tak lagi membalas pesan Alif.
Alif pun menyimpan nomor Fai dengan nama 'Angel'.
****
Di sebuah kamar, Bila yang baru saja melakukan olahraga malam bersama dengan orang yang baru saja di kenal itu tersadar. Gadis yang bergulungkan selimut itu melihat jam di dinding kamar kos si pria.
"Astaga, jam 3!" gumam Bila yang kemudian memunguti pakaiannya.
Bila pun pergi tanpa permisi meninggalkan pria itu yang semalam baru saja memberikan kenikmatan dunia.
"Gila, bisa-bisanya gue main sama dia! Tapi ok juga sih!" kata Bila yang baru saja keluar dari gerbang kos si pria.
Bila memesan taksi dan segera pulang ke kosnya.
****
Pagi harinya, Ken sudah berada di depan pagar kos Bila, ia membawakan seikat bunga mawar merah sebagai tanda cintanya.
Bila yang memperhatikan Ken dari lantai atas merasa khawatir, tidak ingin Ken melihat keadaan dirinya yang memiliki banyak tanda merah di leher, di dada dan di punggungnya.
Bila pun meminta pada teman kosnya untuk memberitahu kalau dirinya tidak ada di kos, sedang menjenguk orang tuanya.
Setelah itu, Bila kembali mengintip dari celah tirai kamarnya, terlihat Kenzo pergi dengan lemas dan membuang bunga itu di tempat sampah.
__ADS_1
****
Di rumah Dhev, pria itu baru saja turun dari kamar dan segera ikut bergabung dengan yang lain.
"Di mana Ken?" tanya Dhev dan Nala menjawab sudah berangkat.
Nala sendiri kurang menyukai Bila yang di malam pesta itu Ken kenalkan. Tetapi bisa apa kalau Ken sudah menyukainya dan pagi tadi Ken mengatakan kalau akan sarapan bersama dengan Bila.
Di meja makan, Dhev memperhatikan Fai yang masih pagi tetapi terlihat sudah cantik.
"Kamu udah mandi, Fai?" tanya Dhev yang menatapnya.
Fai menjawab dengan tersenyum.
"Tumben?" tanya Dhev yang kembali menatap piringnya.
"Biasanya jorok ya, Pakde. Mandi kalau mau pergi doang," ledek Fakhri dan Fai yang duduk di sebelahnya itu.
Merasa dirinya sedang diledek, Fai pun menyikut lengan Fakhri yang duduk di sampingnya.
"Kalian jahat, anak sendiri di bully!" kata Fai seraya melahap sarapannya dengan kesal.
"Sudah, ayo makan, jangan ribut di depan makanan, pamali!" kata Nala yang menengahi.
"Iya, bu," jawab Fai.
"Iya, Bude," jawab Fakhri.
Seperti biasa, setelah sarapan, Nala mengantarkan Dhev sampai ke depan.
"Bude, Fakhri pergi dulu!" kata Fakhri yang menghampiri Nala, Fakhri meraih tangan Nala lalu mencium punggung tangannya.
"Iya, kamu hati-hati ya, Nak!"
Fakhri menjawab dengan mengangguk.
Setelah Fakhri sudah pergi, Nala pun masuk mencari Fai.
"Fai, tumben kamu enggak ikut Fakhri? Biasanya nemenin dia ke makam?"
"Fai mau ke rumah Adila, Bu," jawab Fai yang sedang duduk di ruang tengah memainkan ponselnya.
"Oh, mau ke rumahnya aja chat mulu, bahas apa?" tanya Nala yang ikut duduk di samping Fai.
"Bukan chat sama Adila, Bu. Bosen, chat sama Adila, ketemu juga Adila lagi!"
"Terus? Kamu punya pacar? Ingat ya, Fai kamu masih kecil!"
"Ya ibu, Fai itu pacaran juga enggak serius yang ngajak nikah gitu, ibu jangan khawatir Fai nikah muda," jawab Fai seraya menatap Nala.
"Mending langsung nikah Fai dari pada pacaran! Ingat, jangan sampai bikin keluarga malu karena kita sebagai perempuan enggak bisa jaga kehormatan!" Nala menasehati anaknya.
"Iya, Ibu. Ibu tenang aja!" jawab Fai yang kemudian mencium pipi Nala.
Setelah itu, Fai berangkat bersama dengan Amira yang akan menjenguk Nindy.
__ADS_1
"Bu, biar Nala temenin, ya!" kata Nala yang melihat Amira keluar dari kamar.
Nala pun menghampirinya dan menuntun Amira yang sudah sepuh.
"Iya sudah," jawab Amira yang tak keberatan untuk ditemani Nala.
Belum jauh dari rumahnya, Fai sudah minta berhenti membuat Nala bertanya sebenarnya ke mana arah tujuannya.
"Sejak kapan rumah Adila pindah di sini, Fai?"
"Hehe, Fai mau ada perlu dulu sebentar, Bu," jawab Fai yang kemudian mencium punggung tangan Nala dan Amira bergantian.
"Hati-hati, Fai!" kata Nala dan Fai pun mengiyakan.
Ternyata, Fai sudah membuat janji dengan Alif. Keduanya akan pergi sarapan bersama, makan bubur ayam langganan Alif.
Tidak menunggu lama, sekarang, Alif sudah datang.
"Ayo!" ajak Alif yang membuka kaca helmnya.
Fai pun segera duduk di belakang Alif, berpegangan hoodie Alif dan keduanya merasa kalau hatinya sama-sama berdebar tetapi masih saling menyembunyikan.
Setelah sampai, Alif memesan dua porsi bubur ayam komplit dan baru kali ini Fai merasa kalau bubur ayam yang dimakan itu enak dan berbeda dari yang lain.
"Gimana, enak kan?" tanya Alif dan Fai pun mengiyakan. Fai juga meminta untuk ditambahkan sate telur puyuhnya.
Alif pun bangun dari duduk, ia mengambilkan sate untuk Fai.
"Terimakasih," ucap Fai seraya mengambil sate itu, tidak lupa tersenyum padanya.
Selesai dengan sarapan, Alif membayar semua, ia juga mengatakan kalau dirinya sudah harus bekerja dan Fai menyemangatinya.
"Terus, lo pulangnya gimana?" tanya Alif seraya kembali memakai helm. Sementara Fai masih berdiri di trotoar, memperhatikan Alif.
"Gue bisa pesen ojek online, enggak usah khawatir!" jawab Fai.
"Beneran? Gue enggak enak, apa gue anter lo dulu?" tanya Alif seraya menatap Fai.
"Enggak, gue enggak mau lo telat!" jawab Fai, ia ingin menjadi gadis yang pengertian untuk Alif.
"Biar gue pesenin ojeknya, ya!" kata Alif seraya merogoh sakunya dan Fai menolak itu.
"Enggak usah, Lif. Gue bisa sendiri, kan tadi udah ditraktir, masa ditraktir lagi!" kata Fai yang kemudian mengambil ponselnya di saku, ia segera memesan ojeknya.
"Iya udah, gue berangkat dulu, ya!" kata Alif yang tak berlama-lama lagi. Setelah kepergian Alif, Fakhri yang melihat Fai berdiri di tepi jalan itu menghampirinya.
"Fai! Ngapain lo di sini?" tanya Fakhri seraya membuka kaca helmnya.
"Nunggu ojek," jawab Fai seraya tersenyum.
Bersambung.
Like dan komen ya 🙏.
Terimakasih sudah membaca, suka sama cerita ini? Jangan lupa bintang lima, gift/votenya, ya 🤗🤗
__ADS_1