DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Jahilnya Jimin


__ADS_3

Darwin sedang menangis, menangisi kisah cintanya yang kandas karena Ririn lebih memilih Arnold.


"Maaf, Win. Gue lebih milih dia, lo pantas buat dapatin yang lebih dari gue!" kata Ririn yang sedang berdiri di tepi jalan, melepaskan tahan Darwin yang menggenggam tangannya.


Darwin tak kuasa menahan air matanya, sedangkan Ririn seolah tak perduli, di depan mata Darwin, Ririn menerima panggilan dari Arnold yang memintanya untuk segera datang ke rumah.


"Baiklah, gue datang," kata Ririn, setelah itu Ririn menyetop taksi dan meninggalkan Darwin yang masih terpaku.


"Maafin gue, Darwin!" batin Ririn seraya masuk taksi.


****


Di meja makan Amira.


Semua orang sudah duduk rapih di kursi meja makan. Terlihat Dhev tidak suka pada Mika yang duduk tepat di sebelah kanannya.


Dhev ingin Nala-lah yang duduk di sana dan Amira di sisi kirinya.


Mika yang sudah duduk itu tak melihat Nindy, lalu berinisiatif untuk memanggilnya.


"Biar aku panggil Nindy dulu," kata Mika seraya bangun dari duduk.


"Jangan ada yang memanggil anak itu!" kata Dhev tanpa melihat pada Mika.


Mika pun kembali duduk, menatap satu persatu wajah yang berada di ruangan itu, tetapi semua orang hanya diam dan hanya menatap piring masing-masing.


"Di sini tempat Nala, kamu pindah!" kata Dhev.


"Siapa? Aku?" tanya Mika yang tak tau kalau Dhev sedang berbicara dengannya.


Dhev masih diam, tidak menjawab dan Mika menatap Amira. Amira menganggukkan kepala.


Mika pun bangun dari duduk, bertukar posisi dengan Nala yang berada di sebelah kanan Ken.


Jimin yang memperhatikan Dhev itu mencium aroma kebucinan. Jimin yang duduk sisi kiri Amira itu menggelengkan kepala seraya tersenyum.


Setelah Nala kembali ke tempat duduknya, Nala pun mengambilkan nasi dan lauknya untuk Ken lebih dulu, seketika Nala mendapatkan protes.


"Utamakan aku dulu!" kata Dhev seraya menatap Nala.


"Oh, salah ya?" tanya Nala seraya menatap Dhev yang juga menatapnya.


"Ekhem!" Jimin mengeluarkan suaranya, dan mulai mengambil makanannya sendiri.


"Terpesona, oh aku terpesona." Jimin bernyanyi di meja makan, seketika diam setelah mendapatkan tatapan dingin Dhev.


Jimin pun tersenyum pada Dhev.


"Apa mereka udah jadian?" tanya Jimin dalam hati.


Sementara Mika, dirinya merasa aneh dengan Dhev yang bersikap manis pada Nala, bahkan mengatur tempat duduk untuk gadis itu. "Ada hubungan apa diantara mereka?" Mika bertanya-tanya dalam hati.


Mika yang ingin mengingatkan tentang Ana pun kembali mengeluarkan suaranya.


"Oh iya, Tante, Mas. Jangan lupa, nanti hari minggu di rumah mamah mau adain acara khaul untuk Kak Ana."

__ADS_1


Mika tersenyum pada Amira yang menganggukkan kepala, beralih menatap Dhev, pria itu masih terlihat datar, selalu menunjukkan ketidaksukaannya pada Mika.


Mika yang terbiasa mendapatkan perlakuan seperti itu, sepertinya sudah kebal dan menganggap biasa.


Sekarang, Mika mengusap pucuk kepala Ken yang ada di sebelahnya.


"Nanti nginap di sana lagi, ya," kata Mika pada Ken dan Ken hanya menjawab dengan mengangguk.


****


Di rumah Arnold, pria itu sedang diolesi salep oleh Ririn yang dimintanya datang untuk merawatnya.


Arnold menatap Ririn yang sedang fokus dengan apa yang dilakukan.


"Lo cantik," puji Arnold.


"Udah tau, kalau gue enggak cantik mana mungkin lo terpesona," jawab Ririn seraya tetap fokus.


"Ada yang lebih dari itu, permainan ranjang lo buat gue enggak bisa lupa!"


Ririn menatap Arnold yang sedang menatapnya, tersenyum. "Gue juga suka sama gaya lo," kata Ririn tanpa malu memuji Arnold.


Arnold tersenyum bangga pada Ririn, tidak lama kemudian, keduanya sudah saling menautkan bibir, berperang dalam gairahnya yang menggelora.


****


Selesai dengan makan malam, Nala membukakan pintu untuk tamu.


Terlihat seorang wanita berkacamata, berpakaian rapi sudah menunggu di balik pintu.


"Maaf, cari siapa?" tanya Nala.


"Guru les Kenzo," kata Dhev tepat di telinga Nala.


"Kamu harus mengurus ku! Jadi biarkan Ken belajar dengan guru lesnya!" Dhev masih berbisik.


"Enggak mau kalah sama anaknya," batin Nala.


Sekarang, semua orang masuk ke ruang tengah. Terlihat Ken sudah siap dengan belajarnya karena memang setelah makan malam adalah waktu belajar Ken.


Nala dan Dhev ikut duduk di sofa, memperhatikan Ken yang sedang belajar. Sesekali Ke merengek, tidak mau mau belajar kalau bukan dengan Nala.


"Kan Tante di sini, sama Ken juga," kata Nala mencoba menghibur Ken supaya kembali semangat belajar.


"Tante sibuk mulu sama ayah," kata Ken seraya belajar.


"Kasian tante kamu, Ken. Biarkan dia bersantai sebentar!" Dhev membela Nala.


Dhev yang sedang menemani anak dan istrinya itu melihat ke arah Amira yang datang dengan membawakan makan malam untuk Nindy yang mengunci dirinya di kamar.


Terlihat, Dhev seperti tidak perduli lagi dengan adiknya yang tidak mau dinasehati.


****


Jimin yang baru saja sampai di apartemen itu ingin menjahili Dhev dengan mengiriminya vidio dewasa.

__ADS_1


"Haha, biar lo ngebet kawin, Dhev!" Jimin terkekeh.


"Lagian kalau suka bilang aja suka, nanti diembat sama yang lain baru tau rasa!" Jimin berbicara pada layar ponselnya seraya memilih vidio yang hot.


"Kirim!" kata Jimin seraya tertawa terbahak-bahak.


****


Dhev segera membuka ponselnya saat ponsel itu bergetar. Dan pesan yang lebih dulu masuk adalah dari Doni.


"Rencana awal lancar." isi pesan Doni.


Dhev tersenyum dan sudah tidak sabar ingin membunuh pria yang dengan sengaja terus menerus mengusik hidupnya, merusak orang-orang tersayangnya.


Kemudian, Dhev sedikit terkejut saat tidak sengaja membuka vidio kiriman dari Jimin.


Semua orang melihat kearah Dhev saat mendengar suara aneh dari arahnya. Seketika Dhev mematikan ponselnya.


Dhev pun bangun, meninggalkan ruang tengah itu. Dan Nala menatap Kenzo yang sudah membuka mulut ingin menanyakan apa yang sedang ditonton oleh ayahnya.


"Itu suara orang mau melahirkan, jadi kesakitan," kata Nala berbohong. Padahal sudah jelas-jelas itu adalah suara ******* dari vidio yang Jimin kirim.


"Astaga," batin Nala. Nala pun menahan malu saat guru les Kenzo menatapnya.


****


"Bajingan lo!" gerutu Dhev pada Jimin melalui voice note.


"Hahahaa," balas Jimin.


"Astaga," Dhev menjatuhkan dirinya ke ranjang, menatap langit-langit kamarnya.


"Nonton enggak, ya? Enggak di tonton sayang, ditonton bikin pengen!" kata Dhev.


"Kenapa bingung, kan aku udah ada istri!" kata Dhev. Pria itu menatap pintu yang tak kunjung terbuka.


"Mungkin dia masih ngawasin Ken," gumam Dhev.


"Aku harus cari pengasuh untuk Ken, biar sudah besar, tetapi kasian Nala kalau terlalu sibuk mengurusnya!" batin Dhev


Dhev pun mengirim pesan untuk Doni.


Dan Doni yang belum mendapatkan bonus itu ingin mengingatkan Dhev.


"Kerja mulu, Bos. Tapi bonus belum cair!" kata Doni seraya membaca pesan Dhev.


Benar saja, Doni menyinggung urusan bonus pada bosnya itu.


"Tuan, jangan lupakan sesuatu untukku 😁," balas Doni, tak tertinggal emoticon tersenyum dengan gigi yang terlihat.


Dhev mengerti maksud dari asistennya itu. Tidak menunggu lama, Dhev segera mengirim bonus untuk Doni yang selalu bisa diandalkan.


Selesai dengan urusannya, Dhev merasa tidak sabar menunggu Nala. Dhev keluar dari kamarnya, dari lantai atas, Dhev memberikan kode pada Nala supaya segera menyusulnya ke kamar.


Bersambung.

__ADS_1


Ini kira-kira yang dikodein itu ngerti enggak, ya?


Yuk, jangan lupa di like, komen dan difavoritkan juga, ya.Terimakasih.


__ADS_2