
Sudah pasti lelah dan sekarang semua orang sedang istirahat, sekarang, Fai tinggal di apartemen Ruri.
Keesokan harinya, pagi menjelang siang.
Setelah cukup dengan istirahat, Fakhri mengajak Fai dan Ruri untuk berjalan-jalan, ia ingin berkeliling kota dan Fai pun tidak keberatan.
Fai berbisik di telinga Ruri kalau akan sekalian mengenalkan Fakhri dengan sahabatnya.
Ruri pun setuju lalu melihat keadaan Alif terlebih dulu, terlihat Alif masih tertidur di kamar tamu dan Ruri pun mengatakan itu pada Fai.
Akhirnya, semua orang meninggalkan Alif seorang diri di apartemen.
****
Di sebuah kafe, Fai sudah di tunggu oleh sahabatnya yang bernama Aleena, ia gadis bule keturunan Jerman vs Jawa.
Parasnya begitu cantik dan Fai berharap kalau Fakhri akan terpikat oleh salah satu sahabatnya itu.
Fakhri yang tidak ingin menutup hatinya itu berpikir kalau dirinya juga berhak bahagia. Fakhri membalas uluran tangan Aleena.
Semua berbincang dengan menggunakan bahasa Indonesia, Aleena yang keturunan Jawa itu juga mengerti bahasa Jawa walau hanya sedikit-sedikit.
****
Di apartemen. Alif yang merasa lapar itu mencari makanan di meja makan dan hanya menemukan sereal.
"Gue mana kenyang makan ginian!" batin Alif, pria itu pun merindukan tumis kangkung dan tempe goreng buatan Mae.
Teringat dengan itu, Alif menjadi ingat kalau dirinya belum menghubungi Mae juga Nindy.
"Gimana, kamu udah mendingan belum?" tanya Nindy, Alif lebih dulu menghubunginya.
"Alif baik-baik aja, enggak usah khawatir," jawab Alif.
"Nanti kalau mau pulang jangan lupa minum obat biar enggak mabuk lagi! Kasian kamu pasti capek banget!"
Mendengar itu, Alif pun menjadi tau kalau Fakhri sudah menceritakannya pada orang rumah karena mereka sudah mengetahui mabuk perjalanannya dan itu membuat Alif merasa malu. "Fakhri!" geram Alif dalam hati.
Alif pun segera menyudahi teleponnya setelah itu segera menghubungi Mae, begitu juga dengan Mae yang sama menghawatirkan keadaan Alif.
Ya, Fakhri sudah menceritakan pengalamannya selama menjaga Alif di perjalanan.
"Iya, nanti Alif beli obat anti mabuk, tapi bukan itu yang ingin Alif bahas, Alif rindu masakan ibu," kata Alif.
"Nanti setelah pulang mampir ke rumah, kita makan bersama, ibu akan memasakan yang enak-enak buat anak-anak ibu!"
"Siap," jawab Alif dan belum selesai berbincang, Alif mendengar suara bel berbunyi, Alif pun segera membukakan pintu apartemen.
__ADS_1
"Bu, nanti lagi, ya."
"Iya, jaga diri baik-baik!" kata Mae.
Alif melihat gadis yang mungkin usianya seumuran dengannya.
Gadis itu membawakan kado pernikahan untuk Fai.
"Fai ada?" tanya gadis tersebut.
Alif tidak menyangka kalau gadis itu pandai berbahasa Indonesia.
"Tidak ada, mungkin sedang keluar bersama suaminya," jawab Alif, pria itu belum mempersilahkan tamunya untuk masuk.
"Boleh saya masuk? Kamu pasti Alif?" tanyanya seraya menatap Alif dan Alif pun merasa kalau Fai sudah terlalu sering menghibahkan dirinya.
"Ya, saya Alif. Sebentar, saya hubungi Fai dulu!" jawab Alif yang kemudian menghubungi Fai.
"Fai, lo di mana? Ini ada tamu nyariin lo!" kata Alif yang membelakangi gadis itu.
"Astaga, gue lupa, iya... iya gue buru balik!" kata Fai.
"Suruh masuk aja!" lanjut Fai, setelah itu Fai memutuskan sambungan teleponnya.
Dan Fai pun mengajak semua orang untuk pulang dan Aleena meminta ikut bersamanya.
Tamu yang menunggu Fai itu terlihat sangat mirip bahkan Fakhri sulit untuk membedakannya.
Begitu juga dengan Alif.
Ia menatap bergantian antara tamu yang sedang menunggu dan tamu yang baru datang.
Mengerti dengan kebingungan Alif dan Fakhri, gadis bule itu pun memperkenalkan dirinya sebagai saudara kembar.
"Jangan bingung yang ini namanya Aleena dan ini Alana!" kata Fai seraya memperkenalkan dua sahabatnya itu.
Fakhri mengenali mereka karena saat ini menggunakan pakaian yang berbeda, tapi, kalau suatu saat keduanya memakai pakaian yang sama sudah pastilah akan kebingungan.
Alif menarik lengan Fai membawanya ke belakang.
"Jadi lo mau ngenalin gue sama Fakhri Ke mereka?"
"Iya, lagian kan kalian sekarang kaya anak kembar, jadi cocok aja sama Aleena dan Alana, cocok kan?"
Setelah itu, Fai kembali menemui tamunya, ia menerima kado pemberian dari Alana.
"Alana, makasih, ya!"
__ADS_1
Alana pun tersenyum.
Sekarang, para pria memperhatikan para gadis yang sedang berbincang di depan televisi, duduk di atas karpet, terlihat sangat seru.
Sementara itu, Ruri meledek Fakhri dan Alif. Mereka sedang duduk di sofa depan televisi.
"Kalau kalian nanti jadian sama mereka, jangan sampai ketuker, ya!" Setelah mengatakan, Ruri pun terkekeh dan Alif melemparkan bantal sofa tepat mengenai dada pria itu.
****
Dua tahun kemudian, Fakhri yang sedang disibukkan dengan pekerjaan itu mendapatkan kabar kalau Aleena sedang ada di rumah sakit, Aleena histeris terus memanggilnya karena tidak tahan menahan rasa sakit akan melahirkan.
Namun, sesampainya di rumah sakit, bukannya Aleena yang Fakhri temui melainkan Alana yang juga sedang menunggu kedatangan Alif.
Keduanya tengah berjuang untuk melahirkan anak yang sudah dinantinya.
Mendapati bukan suaminya yang datang, Alana pun mengusirnya dan Fakhri yang tak mengerti apa penyebabnya itu kekeh tidak mau pergi, ia ingin ada untuk istrinya disaat genting seperti ini.
Begitu juga dengan Alif, ia yang mengira kalau Aleena adalah Alana itu mendapatkan tamparan.
"Gue Aleena bukan Alana!" teriak Aleena yang sudah tidak sabar lagi menunggu kedatangan Fakhri.
"Astaga, galak juga bininya Fakhri!" batin Alif seraya keluar dari ruangan tersebut. Masih dengan mengusap pipinya yang merah.
Ruang bersalin yang saling berhadapan itu membuat keduanya salah masuk ruangan dan saat itu juga Alif melihat Fakhri yang kesakitan, mengusap kepalanya karena baru saja dijambak oleh Alana.
"Kenapa lo?" tanya Alif.
"Bini lo galak banget! Gue dijambak!"
"Iya udah, kita tunggu di sini aja!" usul Alif seraya duduk di kursi panjang depan ruangan tersebut. Keduanya hanya bisa menunggu suara tangis bayi dari luar.
Dan ternyata proses lahiran itu hanyalah khayalan Fakhri dan Alif apabila nanti memiliki istri kembar.
"Tidaaaaaak!" teriak Fakhri dan Alif bersamaan.
Semua orang yang ada di ruangan itu melihat kearah keduanya, tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba saja keduanya berteriak.
Tamat.
Terimakasih untuk semua pembaca yang sudah mengikuti cerita ini sampai tamat.
Mohon maaf untuk segala bentuk kekurangan tulisan saya.
InsyaAllah, nanti akan ada bonus part untuk kelanjutan Alif dan Fakhri, ya.
Semoga karya ini dapat menghibur pembaca sekalian di waktu luang.
__ADS_1
Jangan lupa mampir di karya saya yang lainnya, sampai jumpa lagi 🤗🤗