DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Fai Kecewa


__ADS_3

Di kantin, terlihat ramai karena ada orang dermawan yang sedang mentraktir penghuni kantin. orang itu adalah Fakhri yang hari ini ingin menghamburkan uang.


Fai dan Adila pun menanyakan dalam rangka apa, Fakhri menjawab kalau ia sedang merayakan kesembuhan ibunya.


Setelah itu, Fai dan Adila pun ikut memesan makanan sebelum jam pelajaran dimulai.


"Makan yang banyak, biar lo pada gemuk! Kerempeng banget lo pada!" kata Fakhri, tak biasanya Fakhri akan bersikap seperti itu yang seolah mencibir, Fai dan Adila pun saling menatap heran.


Dua gadis itu kembali memperhatikan Fakhri yang sedang berdiri, bergaya memanggil siswa dan siswi yang lain.


"Ayo-ayo, siapa lagi, kapan lagi gue baik, jarang-jarang, kan!" seru Fakhri seraya melambaikan tangannya.


****


Waktu terus berlalu, sekarang, setelah jam pelajaran, Fai meminta pada Adila untuk diantarkan ke salon Arnold dan sesampainya di sana, Adila pun merasa kalau mobilnya membutuhkan perawatan.


Dan Adila pun melakukan perawatan di sana. Mobil Adila dikerjakan oleh karyawan lain, sedangkan Alif terlihat sedang mencuci mobil pelanggan yang datang lebih dulu.


Seraya menunggu, Fai meninggalkan Adila sebentar untuk membeli minuman segar, seperti biasa, Fai membeli untuk semua orang.


Adila pun memperhatikan Alif dan Alif yang sadar akan itu menganggukkan kepala, tersenyum tipis pada Adila.


Adila membalas senyum itu.


"Hayo lo senyum-senyum sama pacar gue!" kata Fai yang baru datang lalu menepuk bahu Adila.


"Cowok lo manis, boleh gue tikung enggak?" kata Adila seraya mengambil salah satu es dari kantong yang Fai bawa.


"Gue gibeng juga lo!" jawab Fai.


"Nanti lo mau ditinggal apa ikut gue balik?" tanya Adila yang menancapkan sedotan ke gelas es tersebut.


"Gue balik sama Alif aja, mau makan malam di rumah," kata Fai seraya duduk di samping Adila.


"Sayang!" seru Fai pada Alif, ia menunjukkan apa yang di bawa.


Alif yang baru saja selesai mengurus mobil itu pun mendekat dan ikut duduk di samping Fai.


"Makasih, lo repot-repot terus, jangan kebiasaan, sayang uang lo!" kata Alif seraya menerima kantong plastik berisi 6 gelas es dan Alif pun memanggil teman-temannya.


Sudah lama menunggu, sekarang jam kerja selesai, Fai merasa ingin buang air kecil dan ia pun pergi ke toilet.


"Alif, gue ke toilet dulu, ya!" kata Fai yang sudah siap dengan helm di kepala dan helm itu sengaja tak ia lepaskan supaya nanti tinggal membonceng motor Alif.


Sayangnya, setelah selesai dengan buang air kecil, Fai sudah tak melihat Alif dan teman kerja Alif menyampaikan sesuatu.

__ADS_1


"Mbak, tadi Mas Alifnya dijemput sama ibunya, katanya minta dianterin beli obat,"


"Oo," Fai membulatkan mulutnya, ia mencoba memahami kalau ibunya adalah prioritas dan Fai adalah nomor dua, tetapi, Fai tetap merasa kecewa karena Alif tidak menyampaikan sendiri padanya.


Sekarang, Fai memesan ojek online dan memilih pulang.


"Tau gitu gue balik aja dari tadi! Kerjain tugas di rumah!" gerutu Fai.


Dan setelah mengantarkan ibunya kembali ke rumah, Alif kembali ke salon, di sana Fai sudah tidak ada dan pagar sudah tertutup rapat.


Alif pun menghubungi Fai yang sekarang hampir sampai rumah.


Fai yang baru saja turun dari motor itu memonyongkan bibirnya saat melihat nama Alif yang menghubungi.


Karena sedang kecewa dan merajuk itu seperti berat rasanya untuk menerima panggilan dari Alif.


Alif tak berhenti menghubungi Fai, Alif mengerti perasaannya sekarang ini.


Tak juga dijawab membuat Alif segera menyusul ke rumahnya.


"Kenapa lo?" tanya Fakhri yang memperhatikan Fai dari atas balkon.


"Kepo!" jawab Fai yang kemudian berjalan, mengabaikan Fakhri yang masih menatapnya.


"Paling gara-gara cowok itu, apa gara-gara gue samperin tadi?" tanyanya pada diri sendiri, ia merasa kalau usahanya membuahkan hasil.


Fai mengabaikan ponselnya yang terus berkedip.


Lalu, terdengar suara ketukan pintu, Nala yang mengetuk pintu kamar Fai, wanita yang sudah rapi dengan piyamanya itu memberitahu kalau ada Alif yang sedang menunggu di ruang tamu.


Fai pun langsung bangun dari tidurannya.


Ia yang masih merajuk itu terpaksa menemuinya dengan wajah yang masih dilipat.


"Ngapain malem-malem ke sini?" tanya Fai yang ikut duduk di sofa ruang tamu.


"Nemuin pacar gue, dia ngambek soalnya," kata Alif seraya menatap Fai.


"Siapa yang ngambek, biasa aja!"


"Serius?"


Fai hanya menganggukkan kepala lalu Fai menatap Alif yang memberikannya sekuntum bunga mawar merah juga membawakan satu buah coklat.


"Ini nyogok nih pasti!" kata Fai seraya menerima bunga dan coklat itu, setelahnya, Fai sudah bisa tersenyum dan Alif merasa senang.

__ADS_1


"Udah malem, gue enggak bisa lama-lama, enggak enak sama yang lain, gue pamit, ya," kata Alif seraya menatap Fai.


"Baru juga ketemu!" protes Fai dengan mengerucutkan bibirnya.


Alif terkekeh saat mendengar Fai mengatakan itu. Bagaimana tidak, sudah setengah hari ini Fai menemaninya dan masih bisa mengatakan kalau baru bertemu.


"Kok ketawa, sih!"


"Habisnya, lo lucu! Lupa apa gimana, kan tadi udah ketemu lama, besok-besok jangan nungguin gue kerja, kasih lo! Mendingan ngerjain tugas kalau udah selesai baru ketemuan," usul Alif.


"Gitu, ya. Kalau gue nungguinnya sambil ngerjain tugas gimana?"


"Enggak usah, nurut sama gue!" kata Alif dan Fai pun mengiyakan.


"Gitu dong. Kan makin cantik!" puji Alif.


Seketika Alif terkejut, sangat terkejut karena tiba-tiba Dhev yang baru datang dari dalam itu menanyakan siapa yang makin cantik.


Sementara Fai, ia merasa malu dan pipinya merona.


"Anak bapak yang makin cantik," lirih Alif, pria muda itu bangun untuk menyalami Dhev.


Dan Dhev memberikan tangannya.


"Udah malem masih bertamu aja!" cibir Fakhri yang tiba-tiba datang.


Ia turun dari kamarnya karena ingin ke kamar Nindy, ia ingin melihat keadaan ibunya.


"Iya, ini juga gue udah mau pamit," kata Alif dan benar saja, setelah itu Alif pamit pada Fai dan Dhev, ia hanya menatap Fakhri yang terlihat semakin hari semakin angkuh.


"Alif... Alif. Seharusnya lo yang hidup enak, tapi enggak papa, kita tukeran tempat untuk selamanya juga enggak papa!" batin Fakhri seraya memperhatikan punggung Alif yang semakin jauh.


"Kalian punya masalah?" tanya Dhev pada Fakhri yang masih berdiri di sampingnya.


"Enggak, Pakde. Tapi kan enggak sopan malem-malem masih ngapel aja!"


"Sirik tanda tak mampu!" kata Fai tepat di depan wajah Fakhri. Fai pun pergi masuk ke kamarnya seraya terus menciumi bunga mawar yang dipegangnya.


"Iya, kamu kapan pergi ngapel? Perasaan di rumah terus, kalau udah ada, kenalin dong sama Pakde!" kata Dhev seraya menepuk bahu Fakhri.


"Selama ini, Fakhri mengagumi Fai, Pakde! Fakhri enggak bisa lihat gadis lain selain Fai!" batin Fakhri.


"Sudah, udah malam, jangan bengong, nanti dapat pacar enggak kesambet iya!" kata Dhev yang kemudian meninggalkan Fakhri yang masih berdiri di ruang tamu.


Bersambung.

__ADS_1


Dukung karya ini yuk, caranya, like dan komen, difavoritkan juga. Vote gratis atau giftnya, terimakasih atas dukungannya 😇


Sampai jumpa di episode selanjutnya.


__ADS_2