
Dhev berjalan melewati kamar Nindy tanpa menghiraukannya.
Dhev menduga kalau Nindy tengah hamil anak Arnold.
"Sayang, enggak lihat dulu adik kamu?" tanya Nala yang berada di gandengan Dhev.
"Tidak perlu, yang perlu ku lakukan adalah mencari siapa yang mau menikah dengannya.
Nala menganggukkan kepala, tanda mengerti dan sekarang Nala sangat berbeda dengan Nala yang dulu, dulu polos, lugu dan bodoh.
Sekarang, Nala sudah pandai menggoda suaminya dan membuat suaminya itu seperti anak kucing ketika di kamar dan seperti macan ketika di luar kamar.
Sekarang, Nala sedang melakukan tugas seperti yang diinginkan oleh Dhev setiap hari.
Dhev yang lelah setelah bekerja itu merasa akan hilang lelahnya setelah Nala memanjakannya, seperti saat ini, Nala sedang direngkuh oleh suaminya dan Nala membuka kancing kemeja Dhev.
"Istriku sekarang pandai menggoda," kata Dhev seraya memperhatikan Nala yang tersenyum.
"Kan suamiku yang mengajari," jawabnya.
Cup! Nala mengecup sekilas bibir Dhev, semakin menggodanya.
Dan sekarang, Nala merasakan adik Dhev sudah mulai bangun.
"Sudah, mandi sana. Bau acem," kata Nala seraya mendorong pelan dada suaminya.
Dhev menahan tangan Nala di sana, menatap Nala dengan pandangan yang Nala sudah mengerti maksudnya.
Tetapi, Nala ingin menggoda suaminya, ia beralasan akan menyiapkan makan malam.
"Aku harus menyiapkan makan malam," kata Nala seraya tersenyum, melepaskan tangan Dhev dari tangannya.
"Udah bingin bangun sekarang mau kabur, enggak bisa gitu!" kata Dhev seraya menarik lengan Nala. Dhev membopongnya, membawanya ke kamar mandi, baru sampai di pintu, Dhev menghentikan langkah kakinya, terdengar Ken memanggil Nala.
"Bu," teriak Ken seraya mengetuk pintu kamarnya.
Dhev menurunkan Nala, mengambil handuk dan menutupi badannya yang sudah bertelanjang dada.
"Ibumu mau bertugas dulu, nanti, ya!" kata Dhev yang melongokkan kepala di pintu.
"Ken juga banyak tugas, Ayah!" rengek Ken.
"Nanti dong, kan ibu kamu cuma satu, jadi harus gantian, masa udah seharian sama kamu di rumah, sekarang enggak boleh sama ayah," jawab Dhev yang tak mau mengalah.
"Ayah nyebelin," kata Ken seraya pergi dari depan kamar Dhev.
"Belajar dewasa, Ken. Jangan terlalu manja," kata Dhev seraya menutupi pintu tidak lupa menguncinya.
__ADS_1
Dhev berbalik badan dan Nala sudah berada di kamar mandi, terkekeh mendengar ucapan suaminya yang manjanya melebihi anak bayi.
Nala yang sedang mengisi air hangat untuk mandi suaminya itu merasakan tangan kekar Dhev melingkar di pinggangnya. Nafasnya menyapu leher jenjang Nala. Dan Dhev sangat menyukai saat rambut Nala dicepol, baginya mempermudah dirinya untuk mencium area kesukaannya yaitu area sensitif istrinya yang berada di belakang telinga.
"Mandi bareng," bisik Dhev dan Nala sudah mengerti maksudnya. Bukan hanya mandi tetapi juga main kuda-kudaan.
Nala berbalik badan dan tiba-tiba Dhev menangkup dadanya membuat Nala merasa geli dan segera melepaskan tangan Dhev.
"Astaga, kebiasaan, geli tau!" protes Nala.
"Aku gemas, lagi pula ini milikku!" kata Dhev yang kembali bermain di sana.
"Ini milikku," kata Nala dengan mengerucutkan bibirnya.
Cup! Dhev mengecup bibir tipis istrinya itu.
"Dari pada ku pegang punya tetangga, nanti kena gaplok!"
kata Dhev seraya melucuti semua yang melekat pada istrinya.
Dhev merasa senang karena sekarang gunung kembar Nala terlihat lebih berisi, besar dan bulat.
"Aku suka, sayang!" kata Dhev yang kemudian bermain dengan rakusnya di gunung kembar itu.
"Ini semua hasil karya kamu, yank," lirih Nala yang sudah mulai terbawa suasana panas yang diciptakan oleh suaminya.
Setelah itu keduanya benar-benar mandi dan saling menggosok punggung.
Selesai dengan itu, sekarang Nala sudah duduk di kursi meja riasnya, menyisir rambutnya dan memakai rangkaian skincare dan sedikit riasan.
Dhev yang baru selesai memakai pakaian santainya itu mengambil sesuatu di laci lemarinya. Sesuatu itu telah ia siapkan dari kemarin hari dan sesuatu itu sangat berkilau.
Dhev memakaikannya di leher Nala.
Nala sangat senang saat melihat kalung berlian dengan liontin mata satu itu, terlihat simpel tetapi mewah dan elegan.
"Makasih, sayang," kata Nala seraya menatap Dhev dari cermin riasnya.
Cup! Dhev mengecup kening istrinya.
"Jangan pernah tinggalkan aku," kata Dhev dan Nala menganggukkan kepala.
Walau selama menikah ini, Nala belum pernah mendengar kata cinta dari suaminya, tetapi, bagi Nala apa yang dilakukan dan ditunjukkan oleh suaminya itu sudah melebihi dari kata cinta yang ia harapkan selama ini.
Sekarang, Dhev mengajak Nala untuk makan malam. Dhev juga memberitahu keluarganya untuk makan lebih dulu apabila Dhev dan Nala telat turun. Karena Nala harus memanjakan suaminya lebih dulu.
****
__ADS_1
Di warung, tempat Adelia membeli kopi hitam untuk suaminya. Di sana, dirinya mendengar kabar miring tentang anaknya yang menjadi bahan gosip.
"Itukan emaknya Ririn, dia tau enggak ya kelakuan anaknya di luar?" Desas-desus itu ia dengar dari tetangga yang tidak suka pada Adelia yang miskin tetapi sombongnya tidak juga hilang.
"Kalian ngomong apa? Kalau berani itu jangan ngomong di belakang!" kata Adelia seraya melirik para tetangga yang sedang duduk di teras, menggosipkan dirinya.
"Pura-pura enggak tau itu, masa emaknya yang nikmatin duitnya enggak tau anaknya kerja apa!" cibir si ibu berbadan gendut, memakai daster panjang dengan rambut yang digelung.
Adelia yang selama ini tidak tau apa pekerjaan Ririn itu mulai penasaran, "Memangnya kenapa, jangan sok tau kalian!"
Adelia pergi meninggalkan tiga ibu-ibu yang sepertinya masih menggosipkan dirinya.
Sesampainya di rumah, Adelia melihat Ririn yang baru saja pulang dari bekerja.
"Dari mana kamu?" tanya Adelia seraya menatap sinis putrinya.
"Pulang kerja lah, emangnya siapa lagi yang cari uang buat kebutuhan mamah yang gayanya selangit itu," jawab Ririn dengan ketusnya.
"Eh, berani kamu ngomong gitu sama mamah, mau kualat kamu?"
"Ririn capek, mah!" jawab Ririn yang kemudian masuk ke kamar.
Di kamar, Ririn mengeluh dengan hidupnya yang keras. Mengambil ponselnya di tas selempangnya.
"Aku lelah." Ririn mengirim pesan pada Nala.
Nala yang sedang makan malam bersama suaminya itu tak langsung membalas karena ponselnya berada di kamar.
"Nala, setelah lo menikah, lo banyak berubahnya, enggak ada waktu buat gue!" kata Ririn seraya menjatuhkan dirinya di kasur.
Menatap langit-langit kamarnya. Ya, begitulah seorang sahabat atau teman yang terbiasa bersama pasti akan mengeluhkan hal yang sama, mengira kalau temannya berubah setelah menikah, padahal setelah menikah, keluarganya lah yang harus diutamakan.
Selesai dengan makan malam, Dhev ke ruang kerjanya dan Nala mengantarkan minuman hangat untuk Dhev, beserta camilannya.
Setelah itu, Nala menemui Ken yang sedang belajar bersama guru lesnya di ruang tengah.
Di sana, Nala mendengar Nindy menangis dan Amira menenangkannya. Nala pun melihat ke kamar Nindy.
"Sudahlah, ini semua sudah terjadi, kedepannya, kamu harus menjadi lebih baik lagi!" kata Amira.
"Nindy takut, takut diamuk sama Kakak!" tangis Nindy seraya membelakangi Amira yang mengusap punggungnya.
Bersambung.
Jangan lupa like, komen dan difavoritkan, ya.
Terimakasih sudah membaca^^
__ADS_1