
Sekarang Nala dan Dhev disibukkan dengan pikirannya masing-masing, Dhev yang masih kesal dengan Doni itu menghubunginya.
"Doni! Apa yang kamu lakukan!" teriak Dhev dari sambungan teleponnya.
Doni yang menerima panggilan itu segera menjauhkan ponselnya dari telinga.
Merasa sakit mendengar bosnya berteriak.
"Memangnya saya salah apa? Semua tugas yang Tuan berikan sudah saya kerjakan dengan benar," jawab Doni dan Dhev mematikan ponselnya.
Doni memang benar dan Dhev lah yang salah, Sekarang, Dhev pergi meninggalkan ruang kerjanya, meninggalkan Nala yang juga tidak tau harus berbuat apa, Dhev memilih untuk berendam air hangat.
Dhev kembali teringat saat tadi dirinya bercerita pada Doni, Dhev mengatakan iri pada Kenzo dan ingin sepertinya.
Lalu salahnya Doni di mana?
Yang diminta adalah jadwal pekerjaan dari Nala setelah gadis itu membuka mata di pagi hari, membuatkan sarapan juga untuk Dhev, membuatkan bekal, membuatkan cemilan sore, mengantarkan teh atau kopi ke ruang kerjanya, juga mengambilkan air minum di malam hari.
Dhev yang merasa malu itu menenggelamkan dirinya di air hangat.
Sedangkan dengan Nala, ia yang sedang merapikan kamar Ken itu merasa kalau Dhev semakin hari semakin aneh.
"Aneh!" kata Nala seraya menggantikan seprei kasur Ken.
****
Malam ini meja makan terlihat sepi, Nala tidak terlihat dan Dhev meminta Bi Rasiah untuk mengantarkan makan malamnya ke kamar.
Hanya ada Nindy dan Amira.
"Panggilkan Nala, sayang," kata Amira seraya menatap Nindy yang senyum-senyum dengan ponselnya.
"Telfon aja, Mah."
Nindy masih fokus dengan ponselnya.
"Lagi makan, Nak. Taruh dulu ponselnya!" lirih Amira.
"Nanti, Mah. Tanggung." Dan Nindy masih tidak mau menatap Amira yang sedari tadi menatapnya.
"Setelah makan, mamah mau ke rumah besan, mau ikut tidak?"
Nindy menjawab dengan menggelengkan kepala, menurutnya malam ini malam yang tepat untuk pergi menemui Arnold selagi Amira pergi dan Dhev berada di kamarnya.
****
Ririn yang sedang berada di kamar itu diminta Arnold untuk tetap di rumahnya.
__ADS_1
"Lo mau kemana? Gue enggak mau sendiri di rumah ini," kata Ririn seraya mencari ponselnya yang sedari tadi d sembunyikan oleh Arnold. Ririn membuka laci dan menemukan pil putih.
"Apa ini?" tanya Ririn seraya menyentuh barang tersebut.
"Bukan urusan lo! Urusan lo cuma di ranjang sama gue! Ngerti!" geram Arnold seraya mengambil pil tersebut.
Arnold pun keluar dari kamar, mengunci kamar itu dari luar.
"Malam ini gue balik, tunggu gue!" kata Arnold dari balik pintu.
"Gue merasa dipenjara," batin Ririn, gadis itu duduk di tepi ranjang.
"Banyak uang tapi hidup gue kaya gini." Ririn mengeluh dalam hati.
"Sebenarnya apa pekerjaan Arnold? Lalu, obat apa tadi?" Ririn semakin penasaran dengan Arnold.
****
Amira pergi ke rumah besannya dengan diantar oleh Dadang.
Sesampainya di sana, Terlihat masih suasana pesta.
Amira juga tidak lupa membawa kado yang entah apa isinya dengan kotak berukuran besar. Tidak hanya dari Amira tetapi juga dari Dhev.
Dhev memberikan tas mahal untuk mertuanya yang sudah lama tidak ia temui.
Setelah acara mulai sepi, Mika diminta untuk membawa Ken masuk ke dalam, tetapi Mika merasa penasaran lalu memberikan ponselnya pada Ken dan Mika menguping pembicaraan keduanya.
"Begini, Jeng. Saya ada niat untuk menjodohkan Dhevan, dia masih muda pasti membutuhkan pendamping, saya mohon restu dari Jeng," kata Amira seraya menggenggam tangan Nana.
"Tapi, apa tidak terlalu cepat? Baru dua tahun kepergian Ana, Jeng? Bahkan beberapa hari lagi kami akan mengadakan pengajian untuk memperingati kepergian Ana," ujar besannya.
"Saya mengerti, maka dari itu saya mengatakan semua, supaya Jeng tidak kaget atau mendengar dari orang lain, Dhev masih muda, saya khawatir kalau anak saya jadi doyan jajan di luar, lebih baik menikah, kita sebagai orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak, bukan?" Amira mencoba memberikan penjelasan.
Nana membenarkan tetapi dirinya merasa belum siap untuk kehilangan menantunya. Hanya bisa mengangguk pelan.
Tetapi berbeda dengan Mika, gadis itu tidak ingin melihat kakak iparnya berpaling dari kakaknya.
"Enggak, Mas Dhev tidak boleh membagi cintanya, aku tau betul kalau Mas Dhev masih mencintai Kak Ana!" batin Mika.
Mika tidak dapat menerima apa yang disampaikan oleh Amira. Mika kembali dan menatap Kenzo yang sedang memainkan ponselnya.
"Kalau pun ada yang akan menjadi ibu kamu, Ken. Itu seharusnya aku, aku sudah lama mengagumi ayah kamu! Dan aku juga sayang kamu, Ken!" batin Mika.
****
Nindy pergi ke bioskop karena Arnold mengajak ke sana dan Nindy tiba lebih dulu.
__ADS_1
Sekarang, keduanya sudah duduk mesra di bangku teater dengan cemilan dan minuman dingin juga sudah terpesan.
"Nin, habis dari sini kita hotel, ya!" bisik Arnold dan Nindy sudah tau apa yang diminta olehnya.
"Seminggu lebih baru ketemu lagi, lo udah minta itu lagi aja, lo tau enggak kalau gue khawatir lo pergi gitu aja setelah dapat kenikmatan dari gue!" kata Nindy di telinga Arnold.
"Kan gue ada, enggak kemana-mana, emang gue kerja aja," kata Arnold.
"Mau enggak? Kalau enggak mau gue cari yang lain," kata Arnold dan itu adalah kata andalannya supaya mendapatkan kata iya dari Nindy. Arnold tau betul kalau Nindy yang sudah terpikat olehnya itu tidak akan rela berbagi Arnold pada wanita lain.
Nindy pun mengiyakan permintaan Arnold, selain tidak rela berbagi Arnold tetapi Nindy juga menginginkan itu lagi.
****
Di rumah Amira, Nala yang merasa lapar itu keluar dari kamar, ingin mengisi perutnya yang keroncongan.
"Ya ampun, tinggal di rumah gede kaya gini aku jadi jarang makan mie, aku sangat rindu mie instan," kata Nala seraya menuruni tangga.
Sesampainya di dapur, Nala mencari Mie tetapi sepertinya stok mie sedang habis.
Nala yang membuka laci dapur itu menutupnya kembali.
Nala merasa ada yang aneh, seperti ada yang lain di ruangan itu, Nala sempat berpikir kalau rumah itu berhantu.
Nala mengusap lehernya yang terasa merinding lalu berbalik badan.
Terlihat seseorang mengenakan topeng gorila.
"Aaaaaaa!" teriak Nala seraya meninju wajah gorila itu sampai si gorila tersebut terjengkang.
"Aduh! Gila, kecil-kecil tenaganya gede amat!" batin si gorila yang tak lain adalah Dhev.
Dhev yang melihat topeng Kenzo tergeletak dan melihat Nala sedang mencari-cari sesuatu di dapur membuat pria itu ingin mengerjai Nala.
Setelah memperhatikan dari pakaian dan postur tubuhnya membuat Nala mengerti kalau pria dibalik topeng itu adalah Dhev.
Nala mengulurkan tangannya membantu Dhev untuk bangun.
"Malem-malem gini di dapur nyari apa, sih?" tanya Dhev seraya membuka topeng.
Setelah mengetahui apa yang Nala cari membuat Dhev mengajak Nala untuk berbelanja.
"Memangnya enggak ngrepotin?"
"Enggak," jawab Dhev yang meninggalkan dapur.
"Cepat!" kata Dhev yang menyadari kalau Nala masih berdiri di dapur.
__ADS_1
Bersambung.