
Selesai pemakaman, semua berkumpul di rumah Dhev, semua orang teringat dengan kebaikan Amira dan Dhev menangis, ia ingat dengan dirinya di masa lalu saat selalu membuat Amira pusing.
Acara tahlilan pun digelar selama 7 hari untuk mendoakan Amira.
****
Di hari ke tujuh ini, Ruri yang mendapatkan dukungan dari Kenzo itu memberanikan diri untuk menyatakan cintanya.
"Fai, kakak turut berduka," kata Ruri, keduanya berdiri di teras, Fai mengantarkan Ruri yang akan pulang sampai ke depan.
"Terimakasih, Kak."
"Em... Fai. Kakak mau ngomong sesuatu," kata Ruri seraya mengusap leher bagian belakang, kepalanya tertunduk menatap sepatunya.
"Apa itu?"
"Kakak naksir kamu, Fai! Terserah kamu terima apa enggak yang penting kakak udah sampaikan isi hati kakak!" ucap Ruri yang kemudian pamit sebelum mendapatkan jawaban dari Fai.
Sementara Fai, ia terheran dengan Ruri yang langsung pergi begitu saja tanpa mendengarkan jawabannya terlebih dulu.
"Kak!" seru Fai dan Ruri takut akan mendapatkan penolakan itu hanya menjawab, "Pikirkan dulu jawabannya!"
"Udah, terima aja!" kata Alif yang ternyata sedari tadi menguping di ruang tamu.
"Alif," lirih Fai saat melihat kebelakang.
"Apa dia pria beruntung itu?"
Fai tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Dia selalu ada di saat gue terpuruk, Lif! Dia yang bantu gue bangun saat jatuh waktu itu!"
"Perjuangkan dia, dia pasti sangat menyayangi lo!"
"Terimakasih, oia, lo bilang mau gue cariin cewek, kan?" tanya Fai seraya berjalan masuk dan Alif mengikutinya.
"Gue punya kenalan, tapi bule, mau enggak?"
"Bule?"
"Iya, pokoknya nanti lo harus ikut gue pas gue balik ke LN."
"Gue kira setelah ini lo bakal menetap di sini, Fai?"
"Enggak, gue mau kerja di sana!" jawab Fai. Setelah itu, Fai pergi masuk ke kamar dan Alif ikut pulang bersama dengan Arnold.
Di kamar, Fai mengirim pesan pada Ruri, pesan itu hanya satu stiker tapi stiker berupa love menandakan kalau Fai telah menerimanya.
Namun, bagi Ruri itu masih kurang jelas dan Ruri menanyakan arti dari stiker itu.
"Artinya, Fai juga suka sama kakak!" balas Fai.
Ruri yang tidak percaya itu pun menggigit ponselnya, dirinya tidak tau lagi harus berekspresi seperti apa karena saking bahagianya.
__ADS_1
Tersadar sedang mengemudi, Ruri kembali fokus dan akan membalas pesan Fai setelah tiba di rumah nanti.
Sementara Fai, gadis yang masih berpakaian rapih dengan gamis itu memikirkan Ruri yang tidak lagi membalas pesan itu.
"Kenapa enggak balas lagi? Apa dia cuma penasaran sama jawaban gue?" gumam Fai seraya menatap layar ponselnya.
Fai pun memilih untuk bangun dari tidurannya, ia mengganti pakaian dengan pakaian tidur, tidak lupa mencuci wajahnya.
Dan saat itu juga, Ruri membalas pesan Fai.
"Fai, aku baru sampai rumah!"
Fai yang sudah selesai dengan ritual malamnya itu tersenyum saat mendapatkan kabar dari Ruri.
"Iya, syukurlah." Fai menjawab singkat.
"Fai...," balas Ruri.
"Iya."
"Love you!"
Fai tersenyum membaca pesan itu dan Fai menanyakan sejak kapan Ruri menyukainya.
Ruri menjawab sejak lama, saat dirinya mulai menghibur Fai yang patah hati.
Fai tertawa membaca pengakuan Ruri.
"Astaga, selama itu? Kok kuat sih baru sekarang kakak ungkapin?"
"Aku nolak karena ingin menata hati, enggak mau salah lagi, Fai takut patah hati lagi, sakit banget! Nyembuhinnya butuh waktu yang lama!"
"Fai, aku enggak akan bikin kamu patah hati! Aku serius! Kalau perlu besok aku bawa orang tua ku ke rumah kamu!"
"Serius?"
"Seribu rius, Fai. Udah sekarang kamu istirahat, udah malam!" kata Ruri dan Fai pun membalas dengan emot kiss.
"Astaga, dia agresif kayanya!" ucap Ruri, ia sengaja tidak membalas pesan itu dan segera menghubungi orang tuanya yang berada di LN.
Ruri meminta pada keduanya untuk segera pulang dan melamar gadis pujaannya.
Kedua orang tua Ruri pun sangat senang karena akhirnya, anak satu-satunya itu menemukan belahan jiwanya.
Benar saja, keesokan harinya, kedua orang tua Ruri sudah berada di tanah air. Mereka segera menanyakan siapa gadis yang akan dilamar.
Dan orang tua Ruri sangat setuju dengan pilihan anaknya.
Sore harinya pun mereka bertiga langsung datang ke rumah Dhev.
Fai yang sudah memberitahu anggota keluarganya itu tentu saja menyambut kedatangan Ruri.
Dan karena masih dalam keadaan berduka, acara tunangan itu akan diselenggarakan setelah acara 40 hari.
__ADS_1
Fai dan Ruri pun setuju.
Sementara itu, di salon mobil, Alif dan Fakhri sedang saling bercerita.
"Lo mending, Lif. Pernah ngisi hatinya, jadi pujaan hatinya, lah gue, cuma ngenes enggak pernah kesampean!"
"Lo lelet sih! Harusnya kemaren pas tau lo bukan sodara langsung pepet aja!" kata Alif yang sedang mengecek pemasukan dan pengeluaran toko.
"Gimana mau pepet, dia liat gue aja benci banget!" kata Fakhri yang duduk di kursi depannya itu.
Setelah lama berbincang dan saling mengeluarkan isi hatinya, sekarang, Alif dan Fakhri pergi makan siang bersama.
Kali, ini Alif membawa Mae dan juga Andra. Alif ingin hubungan semua orang membaik, tidak menyimpan kebencian.
Fakhri pun mulai tersadar, bagaimana mungkin dirinya sulit memaafkan sedangkan Alif saja sudah lama bisa menerima semuanya.
Dan kali ini, Fakhri sedikit menunjukkan perhatiannya dan itu membuat Mae bahagia.
****
40 hari berlalu, sekarang, acara tunangan Fai dan Ruri itu digelar secara sederhana, hanya anggota keluarga dan kerabat dekat saja yang diundang.
Alif dan Fakhri yang ikut berada di acara tersebut hanya bisa ikut bahagia, bahagia yang dipaksakan tentunya.
Alif dan semua orang pun memberikan selamat pada pasangan yang sebentar lagi akan menikah itu.
****
Di perjalanan, keluarga Jimin yang telat hadir karena terjebak macet itu harus melihat Mamihnya berteriak saat lihat wanita yang dulu membawa lari hartanya.
Wanita itu adalah Siti Aisyah yang sekarang sedang berdiri di bawah lampu merah dengan tangan membawa kantong plastik bekas ciki.
Mamih Jimin hampir turun dari mobil untuk melabrak wanita itu, tetapi, Papih Jimin menahannya.
"Biarkan, lagi pula, lihatlah, hidupnya saja sudah susah, mungkin itu karmanya!" kata Papih Jimin seraya dagu menunjuk ke arah Siti.
"Sebel mamih liatnya! Pengen jambak itu orang!"
"Sssstttt! Lupakan! Ikhlaskan, Tuhan sudah memberikan kebahagiaan untuk kita."
Mamih Jimin pun kembali duduk seperti semula, tetapi, matanya terus melirik dan sekarang Siti yang tidak tau kalau itu adalah mobil milik Jimin pun mendekat. Ia mengemis untuk menyambung hidupnya sehari-hari.
Mamih Jimin mengambil kesempatan, wanita yang rambutnya sudah memutih itu menurunkan kaca mobilnya dan mengeluarkan uang selembar berwarna merah.
"Ini, buat kamu beli rendang! Makan yang banyak biar enggak kurus!"
Siti yang mengenal suara itu pun segera berlari, ia takut akan dikejar dan saat ia berlari, Siti hampir terserempet motor dan itu membuat jantungnya hampir copot.
"Gituh tuh kalau orang punya salah, enggak diapa-apain juga udah ketakutan duluan!" ucap Mamih Jimin dan semua orang yang ada di mobil itu hanya mendengarkan.
Jimin dan Ririn yang duduk di bangku depan itu saling menggenggam dan Papih Jimin pun melakukan hal yang sama, mendapatkan perlakuan manis membuat Mamih Jimin menyenderkan kepalanya di lengan suaminya. Tidak mau kalah dengan umur walau sudah sepuh.
Bersambung.
__ADS_1
Like dan komen ya 😊
Terimakasih sudah mengikuti sampai sejauh ini ❤