DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Kenzo Merajuk


__ADS_3

Setelah itu, Mika menunjukkan pada bangku belakang Ken, terlihat ibu yang sedang menasehati anak pertamanya untuk sayang dan berbagi pada adiknya.


Terlihat, walau sudah dipesankan sesuai pesanan masing-masing, tetapi kakak yang usianya mungkin seumuran dengan Ken itu masih berebut dengan adiknya.


"Nah, lihat, Ken. Nanti kamu juga seperti itu, diminta mengerti adik kamu, tapi belum tentu adik kamu mengerti kamu," kata Mika seraya menunjukkan dengan dagunya.


Kenzo yang menoleh ke belakang itu tak mengerti dengan maksud Mika yang sebenarnya sedang menghasutnya.


"Sudahlah, nanti juga kamu tau sendiri," kata Mika seraya mengusap pipi Kenzo yang terdiam.


Dalam hati, Ken berpikir kalau memang sudah seharusnya menyayangi adiknya.


****


Selesai dengan makan siang juga makan es krim, sekarang, Mika mengajak Ken untuk pulang.


Tetapi, sesampainya di rumah, Ken tidak melihat keberadaan Nala dan Amira.


Ken bertanya pada Resa.


"Di mana Ibuku?" tanya Ken seraya memberikan tas sekolahnya.


"Sedang pergi bersama dengan Nyonya Amira," jawabnya seraya menerima tas Kenzo.


"Kok aku enggak diajak?" batin Kenzo, pria kecil itu masuk ke kamar dan segera pergi mandi.


****


Di supermarket, Amira dan Nala sedang membeli aneka buah untuk Nindy.


Selesai berbelanja, Amira dan Nala segera menuju ke apartemen Doni.


Tentu saja yang membawa barang belanjaan tersebut adalah Winda, asisten Nala yang sekarang mengikuti kemana Nala pergi.


Sesampainya di sana, Amira dan Nala berpapasan dengan Doni di pintu masuk. Doni baru saja akan kembali ke kantor.


Karena kedatangan tamu, Doni pun kembali masuk, mempersilahkan tamunya masuk.


"Silahkan masuk, Nyonya," kata Doni, pria itu masih belum berani bahkan masih sangat canggung untuk memanggilnya ibu atau mamah.


Amira tersenyum pada Doni yang menundukkan kepala.


"Terimakasih," kata Amira, setelah itu Amira, Nala dan Winda pun masuk.


Terlihat, Nindy sedang duduk di sofa dan ada seorang wanita paruh baya di sana, wanita itu adalah asisten rumah tangga Doni, pria itu tidak ingin Nindy kelelahan lalu mencarikan asisten.


Nindy yang melihat kedatangan keluarganya itu bangun dari duduk. Menyalami Amira.


Amira juga memerintahkan pada Winda untuk meletakkan barang bawaannya di dapur.


"Mamah, ngapain repot-repot," kata Nindy yang kemudian mempersilahkan keluarganya untuk duduk.

__ADS_1


Lalu, Doni pun pamit pada Amira dan semua, ia harus kembali ke kantor untuk bekerja.


Setelah kepergian Doni, Amira bertanya pada Nindy tentang kesehariannya.


"Sama kamu juga bersikap formal gitu, Nin?"


"Enggak, Mah. Kami berteman baik," jawab Nindy dan jawaban Nindy membuat Amira sedikit lega. Berharap dari pertemanan akan berubah menjadi cinta.


"Kalian sekamar?" tanya Nala yang tiba-tiba bertanya seperti itu, tentu saja Amira sedikit kaget apalagi dengan Nindy.


Gadis berpakaian santai itu tidak tau harus menjawab apa.


Melihat wajah bingung Nindy, Nala pun merasa kalau pertanyaannya tidak pantas.


"Ah... maaf, tidak usah dijawab, itu urusan pribadi kalian, maaf!" kata Nala, dirinya merasa tidak enak setelah bertanya tanpa dipikir dulu.


"Tidak apa," kata Nindy.


"Oh iya, minggu ini, Ken akan berkuda, kamu mau ikut? Sekalian jalan-jalan," kata Nala pada Nindy.


"Sepertinya enggak, aku masih engga enak sama kakak, dia masih benci sama aku," kata Nindy seraya menatap Amira dan Nala bergantian.


"Sabar, semoga lambat laun Mas Dhev akan memaafkan dan melupakan semua."


"Benar yang dikatakan Nala, kita hanya butuh waktu," timpal Amira seraya menggenggam tangan Nindy.


"Bagaimana mungkin waktu akan membuat kakak memaafkan aku? Sedangkan anak yang di kandunganku adalah anak dari orang yang sangat dibencinya!" batin Nindy.


Nindy pun tersenyum, merasa senang karena keluarganya selalu ada walau dirinya sudah melakukan kesalahan besar.


"Iya, terimakasih, kalian udah datang, aku kesepian setiap hari di rumah sendiri, mau pergi kemana-mana harus diantar sama Doni."


"Bagus dong, sayang! Itu namanya Doni bertanggung jawab," timpal Amira dan Nindy pun tersenyum.


Merasa bosan, Nala pergi ke dapur, meminta pada Winda untuk membantunya membuat salad buah untuk semua orang.


Winda pun menuruti ucapan Nala, wanita itu segera mengupas buah. Singkat cerita, salad itu sedang didinginkan di kulkas.


"Kak Nala bikin apa?" tanya Nindy seraya berjalan ke arah Nala yang sedang mengambil salad itu di kulkas.


"Bikin ini, pengen yang seger-seger," kata Nala seraya menunjukkan salad itu.


"Wah, enak banget. Nindy mau juga, kak!"


"Iya," jawab Nala seraya mengambil untuk Nindy.


Amira pun bangun dari duduk, tersenyum, merasa senang karena anak dan menantunya itu terlihat akur bahkan seperti kakak, beradik sungguhan.


Amira menghampiri mereka, ikut mengambil salad buah yang sudah siap santap. Mereka makan bersama seraya menonton televisi.


"Dunia sekarang sudah tua, kejahatan ada di mana-mana, bahkan dilakukan oleh pemimpinnya sendiri, semoga keluarga kita dijauhkan dari perbuatan zolim!"

__ADS_1


"Aamiin," jawab Nindy dan Nala bersamaan.


Merasa kesal dengan berita yang ditonton, Amira memilih untuk mematikan televisi itu.


****


Hari hampir sore, sekarang, Nala mengajak Amira untuk pulang.


Amira pun mengiyakan dan sekarang pamit pada Nindy.


Sesampainya di rumah, Nala segera pergi ke kamar, mandi dan memakai parfum kesukaannya, tetapi, kali ini Nala tidak menyukai bau wangi itu.


"Ueeee!" Nala merasa mual setelah mencium wangi parfum tersebut.


Nala pun segera melepaskan pakaiannya, mengganti dengan yang lain.


Karena mual tadi membuat Nala merasa sedikit pusing.


Setelah itu, Nala mencari Ken lebih dulu di kamarnya. Terlihat, Ken sedang berbaring di ranjang dengan membelakangi pintu.


Nala pun masuk ke kamar, berniat untuk membangunkan Ken karena hari sudah sore. Nala duduk di tepi ranjang Ken.


"Sayang, udah sore, Nak. Bangun, yuk!" kata Nala seraya mengusap lengan Ken.


Ken hanya diam, pria itu merajuk pada Nala karena pulang tadi dirinya tidak disambut seperti biasa.


"Ken, kamu sakit?" tanya Nala seraya mengusap rambut Ken yang menutupi dahinya.


"Enggak panas," gumam Nala, lalu, Ken mengibaskan tangan Nala yang berada di dahinya.


Nala sedikit terkejut karena Ken bersikap kasar.


"Kenapa, Ken?" tanya Nala dan Ken meminta Nala untuk keluar dari kamar.


"Keluar, Ken mau sendiri! Ibu udah enggak sayang lagi sama Ken!" teriak Ken seraya memukuli bantal yang berada di depannya, masih memunggungi Nala.


"Kenapa bilang seperti itu, Ibu sayang kamu, kenapa enggak. Ayo, ada apa, sini cerita sama ibu!" kata Nala seraya berusaha membalikkan bada Ken supaya melihat ke arahnya.


"Sabar, Ken. Tenang dulu, kalau Ken marah-marah, nanti Ibu jadi enggak ngerti maksud Ken," kata Nala, ia mencoba menenangkan Kenzo Putra Abraham.


Kenzo yang menangis itu sedikit menyesal karena telah berteriak pada Nala, sekarang, Kenzo bangun dan memeluk Nala.


Kenzo menangis, takut yang diucapkan oleh Mika akan benar terjadi, terlebih, Ken takut kalau tidak akan disayangi lagi.


Bersambung.


Apakah Ken akan berterus-terang?


Jangan lupa like, komen dan juga difavoritkan, ya. Terimakasih.


Bagi yang punya vote gratis, yuk di Vote Nala dan Dhev nya 🤗🤗.

__ADS_1


__ADS_2