DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Penjaga Hati


__ADS_3

Nala melihat es latte yang sedang diseruput oleh Ririn, terlihat, minuman itu sangat menggoda di indera pengecap Nala.


Padahal, yang di depannya pun sama, tetapi, entah mengapa, Nala sangat menginginkan milik Ririn.


"Kamu kenapa, La?" tanya Ririn yang memperhatikan Nala seolah sedang menelan liur.


"Eh, enggak papa," jawab Nala seraya tersenyum.


"Kamu mau ini?" tanya Ririn seraya memberikan gelas es miliknya.


Nala kembali melirik es itu dan menerimanya. Bahkan Nala juga menukar es miliknya untuk Ririn.


"Aneh banget sih, kamu!" Ririn terkekeh dengan tingkah Nala.


"Hehe."


****


Di kantor, Dhev kedatangan Jimin yang memberitahu kalau minggu depan akan menikah.


"Serius? Ada emang yang mau sama lo?" tanya Dhev seraya menyeruput es kopi yang disediakan oleh Doni.


"Ada lah, masa kagak! Lo mau tau calon gue?" tanya Jimin, pria itu menaik turun kan alisnya.


"Siapa? Monic?" tanya Dhev seraya memperhatikan ponselnya, setelah itu meletakkan kembali ke meja lalu menatap Jimin.


"Bukan, dia temen bini lo!"


"Siapa? Temen bini gue banyak tapi yang deket cuma satu, jangan bilang lo merit sama Ririn?" Dhev menekan bahu Jimin dan Jim menurunkan tangan Dhev dari sana.


"Memang sama dia, kok!" jawabnya.


Dhev menggelengkan kepala, setelah itu kembali meminum esnya.


"Pantes lah, kalian cocok, sama!" kata Dhev.


"Biasa aja dong, penting gue merit, ada yang nemenin bobok, emangnya lo doang yang mau dikelonin!"


"Gila lo!" kata Dhev. Pikir Dhev, menikah itu bukanlah hanya perkara teman tidur, tetapi teman hidup sampai akhir hayat.


Di tengah perbincangan Dhev dan Jimin, Doni mengetuk pintu, mengatakan sudah waktunya berangkat.


Setelah itu, Doni kembali ke luar, menunggu di depan pintu.


"Lo gila, Dhev! Adik ipar sendiri masih lo jadiin babu!" kata Jimin seraya bangun dari duduk.


"Bukan babu, asisten gue!" jawab pria tinggi, tampan dan manis itu.


Sekarang, Dhev sudah dalam perjalanan, di perjalanannya, dirinya meminta untuk disiapkan resepsi oleh Doni.

__ADS_1


"Baik, Tuan," jawab Doni yang terus fokus mengemudi.


****


Di apartemen, Amira kembali datang untuk menemui Nindy, merasa khawatir kalau anaknya itu akan merepotkan Doni dan keluarganya.


"Enggak, Mah. Nindy enggak merepotkan, malah Nindy enggak enak kalau mamah carikan orang untuk di rumah ini, biar nanti Nindy bicarakan dulu dengan Doni," kata Nindy seraya menatap Amira, keduanya duduk di sofa panjang.


Nindy takut kalau mengambil keputusan sendiri akan membuat Doni merasa tidak dihargai.


"Baiklah!" Amira pasrah dan berpikir kalau Nindy sudah sedikit dewasa dalam berpikir.


Setelah itu, terlihat Ibu dan Bapak Doni keluar dari kamar dengan menenteng tasnya.


"Kami pulang dulu, Bu Amira, maaf tidak bisa menemani Nak Nindy karena harus mengurus sawah di kampung," kata Ibu Doni yang masih berdiri di pintu kamar.


"Tidak apa, saya bisa untuk sering datang," jawab Amira seraya bangun dari duduk.


Tidak lama kemudian sudah datang orang suruhan Doni yang akan mengantarkan orang tuanya pulang kampung. Orang itu menunggu di depan pintu apartemen.


"Kami permisi, Bu." Ibu Doni mengulurkan tangan pada Amira dan Amira membalas uluran tangan itu.


"Jaga diri baik-baik, sehat-sehat juga sama bayinya!" kata Ibu Doni pada Nindy seraya mengusap perut menantunya yang masih rata.


Nindy merasa senang mendapatkan perlakuan seperti itu, merasa kalau dirinya adalah benar menantu di rumah Doni.


Nindy pun mencium punggung tangan kedua mertuanya.


Amira dan Nindy mengantarkan sampai ke pintu.


Setelah keberangkatan besannya, Amira yang memiliki janji dengan tamu-tamunya itu pamit pada Nindy.


"Kamu yakin enggak papa? Pucat banget gini loh?" Amira merasa khawatir.


"Enggak papa, Mah. Mamah juga pernah hamil, pusing dikit mah biasa," jawab Nindy.


"Kalau ada apa-apa segera hubungi mamah!" kata Amira seraya mengusap lengan anaknya.


"Iya," jawab Nindy seraya menganggukkan kepala.


****


Setelah bertemu dengan Ririn, sekarang, Nala menjemput Ken, tidak lama menunggu yang dijemput sudah berlari keluar menuju pagar.


Ken langsung memeluk Nala yang menunggu di depan pagar. Baru saja, Nala akan memesan taksi, Dadang dan Amira sudah sampai, sekarang, semuanya pulang bersama.


Amira memperhatikan Nala yang terlihat lebih berisi dan makin cantik, Amira pun bertanya pada Nala tentang perubahannya.


"Sayang, kamu udah datang bulan?" tanya Amira yang duduk di samping Ken dengan Ken duduk di tengah.

__ADS_1


Nala menjawab dengan menggelengkan kepala.


Amira yang akan bertanya lagi itu tertahan saat mendengar Ken bertanya.


"Datang bulan itu apa, Omah?" tanya Ken dengan polosnya, menatap Amira yang bingung untuk menjawabnya.


"Datang bulan itu... ya nunggu bulan berikutnya," jawab Nala seraya tersenyum, merasa kalau jawabannya sangat kacau.


Berpikir, untuk menjelaskan tetapi anak sekecil itu mana tau. Begitu lah pikir Nala.


Amira pun memutuskan untuk kembali bertanya setelah sampai di rumah.


"Omah, minggu nanti Ken mau berkuda, bareng temen-temen Ken, Omah. Ken mau ikut!" kata Kenzo yang terdengar sangat antusias.


"Iya, nanti minta izin dulu sama Ayah kamu, yah!" jawab Amira seraya mengusap pucuk kepala cucunya.


Ken menganggukkan kepala.


Setelah beberapa menit, sekarang, Amira, Nala dan Ken sudah sampai di rumah.


Ken yang baru saja turun dari mobil itu berlari masuk ke rumah.


Amira mengambil keputusan untuk kembali bertanya pada Nala.


"Kamu udah cek belum, sayang?" tanya Amira seraya memperhatikan Nala, terlihat pinggang juga sudah sedikit berbeda.


"Apa aku mau nambah cucu? Alhamdulillah kalau begitu," kata Amira dalam hati.


"Kemarin, Nala sudah cek, tapi masih garis satu, Bu," jawab Nala, keduanya berjalan beriringan masuk ke rumah.


"Semoga sudah ada isinya di dalam sana, ya," kata Amira dan Nala menjawab dengan meng-Aamiinkan


****


Sudah larut malam, tetapi Dhev belum juga pulang, Nala yang merebahkan badannya di ranjang itu merindukan suaminya, inginnya, selalu dekat dengan suaminya.


Nala yang sedang galau itu memilih untuk menunggu di ruang tamu, duduk sampai tertidur di sofa.


Sedangkan Dhev pulang setelah lewat jam 01.00 dini hari.


Dhev melihat istrinya tertidur di sofa itu menggelengkan kepala, melepaskan jasnya dan meletakkannya jas itu tas kerjanya di sofa, Dhev membopong Nala sampai ke kamarnya.


Sementara itu, Nala yang digendongnya itu merasa kalau dirinya sedang bermimpi, bermimpi melayang bersama dengan suaminya membuat Nala yang berada digendongan Dhev itu tersenyum manis.


Dhev tersenyum melihat itu, merasa senang dan lelahnya pun ikut hilang setelah melihat senyum istrinya.


Dhev yang sedang membopong Nala itu teringat dengan kejadian saat dirinya membopong paksa Nala dan saat itu adalah pertama kali Dhev membopong gadis yang tidak disangka akan menjadi penjaga hatinya setelah Ana.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa like setelah membaca, ya. Terimakasih ❤


__ADS_2