
"Aku sudah siapkan air hangat, cepat mandi!" kata Nala seraya sedikit mendorong pelan dada suaminya.
"Udah lama aku enggak dimandiin! Aku kangen!" rengek Dhev yang tak mau melepaskan tangan Nala.
"Manjanya ayah dua anak ini!" kata Nala seraya mengikuti Dhev ke kamar mandi.
Seperti biasa, Nala menggosok dan memijit punggung suaminya yang terlihat semakin berisi.
Sekarang, Nala berpindah memijit kepala Dhev dan perut gendut Nala menempel di punggung suaminya dan saat itu juga bayi yang berada di kandungan Nala bergerak dengan sangat gesit.
"Eh, kok ayah ditendang?" tanya Dhev seraya membalikkan badan menatap perut gendut itu.
"Haha, enggak terima dia ayahnya manja, maunya ade sama Kakak Ken aja yang manja."
"Ayah juga kan mau dimanja!"
"Kalau ayah dan anak manja semua, terus ibunya manja ke siapa?" tanya Nala seraya merangkum wajah Dhev.
"Manja sama suaminya!" jawab Dhev seraya mencium perut gendut Nala.
Lalu, Nala yang menyadari kalau suaminya bertambah gemuk itu memberitahu Dhev.
"Kamu agak gemukan, Mas."
"Masa sih, perasaan segini aja," jawab Dhev yang memejamkan mata, kembali menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh istrinya.
"Iya, serius. Enggak bohong."
"Yang penting tetep ganteng, kan!"
"Narsisnya mulai keluar!" timpal Nala.
"Oia, nanti malam ada tamu, dia keluarga Jim akan makan malam bersama kita."
"Ririn sama Om Jim ikut juga?"
"Bisa jadi," jawab Dhev.
****
Di kamar Jim, Ririn sedang bersiap, setelah memoles make up di wajahnya, sekarang, Ririn bangun dan mencari tas tangannya di lemari Jim.
Ririn sangat terkejut saat membuka lemari itu, ia berteriak, di sana sudah menggantung barang pusakanya. Tentu saja itu ulah Jimin.
Jimin yang sedang bersama dengan papihnya itu mendengar suara teriakan dan segera masuk ke kamar tidak lupa mengunci pintu tersebut. Jimin terkekeh, menertawakan Ririn yang sedang berusaha melepaskan benda yang masih tergantung itu.
"Hahaaa! Ririn-Ririn! Kenapa lo pakai barang kw kalau di depan mata lo aja ada yang asli!" Dengan sengaja Jim memeluk Ririn dari belakang, menggesekkan barangnya di bokong Ririn.
"Lepas, dasar mesum!" Ririn mendorong Jimin tetapi tak juga terlepas.
"Bilang aja kalau lo mau itu, kita sama-sama udah dewasa dan membutuhkan itu!" bisik Jimin di telinga Ririn.
Ririn sangat malu dengan apa yang diucapkan oleh Jimin, ditambah lagi dirinya telah ketahuan sering bermain solo.
__ADS_1
Wajahnya memerah menahan rasa malu.
Jim merangkum wajah Ririn.
"Dengar, walaupun kita menikah kontrak, tapi kalau lo mau itu bilang aja sama gue! Gue juga mau kalau lo dengan ikhlas mau juga sama gue!" kata Jimin dengan nada sedikit serius.
Ririn melepaskan tangan Jim dari wajahnya.
Melangkahkan kaki tetapi Jimin menahan lengan Ririn.
"Jangan ada lagi yang ditutupi diantara kita!" kata Jimin berbisik di telinga Ririn.
Setelah itu, Jim mengecup leher jenjang Ririn yang terekspos karena rambutnya sudah tertata rapi dan malam ini Ririn berdandan sangat cantik untuk menemani keluarga suaminya makan malam.
"Apa ini saatnya gue lupain Arnold?" batin Ririn, gadis itu menundukkan kepala.
"Ya benar, aku harus menjadi istri untuk
Jim selama lima tahun ke depan!" Ririn masih bertanya jawab dengan hatinya.
Sekarang, Jim mengajak Ririn untuk keluar karena semua sudah menunggu.
Jim dan Ririn sama-sama diam tidak seperti biasanya yang selalu ribut.
Mamih dan papih pun merasa ada yang berbeda diantara anak dan menantunya.
"Kalian kenapa? Jadi ikut tidak?" tanya papih Jim.
"Jadi," jawab Jim seraya menautkan jari-jemarinya di jari Ririn.
"Enggak, kami enggak pernah marahan kok!" jawab Jim berbohong.
Dan sebenarnya apakah Jim sudah memiliki perasaan untuk Ririn? Sedangkan di hati Ririn masih ada bayang Arnold.
****
Di rumah Amira, semua sudah menunggu kedatangan tamunya, tidak lama kemudian yang ditunggu pun sudah datang.
Dhev mempersilahkan semua tamu untuk masuk, bahkan sekarang Dhev tidak mempermasalahkan keberadaan Ririn yang derajatnya sudah diangkat oleh Jimin.
Mamih Jimin yang sudah merindukan kehadiran seorang bayi itu mengusap perut Nala.
"Berapa bulan? Sudah terlihat gendut ya?"
"6 bulan Tante," jawab Nala seraya tersenyum.
Dan selama 6 bulan itu pulalah dirinya menantikan hadirnya cucu dari Jim dan Ririn.
"Semoga Ririn juga segera hamil, saya sudah sangat rindu mendengarkan suara tangis bayi!" kata Mamih Jim seraya menatap Ririn yang berdiri di samping Jim.
"Iya, nanti sepulang dari sini Jim akan buatkan cucu buat Mamih!" timpal Jim dan Ririn sedikit menggelengkan kepala merasa kalau Jim sangat kacau.
"Iya sudah, mari masuk, kita lanjutkan di dalam," kata Amira pada semua.
__ADS_1
Semua orang pun masuk dan duduk di sofa ruang tamu.
Dhev, Jimin dan Papih Jimin membicarakan soal bisnis, Amira dan Mamih Jim membahas arisan berlian sedangkan Ririn bersama Nala berada di ruang tengah.
Keduanya membahas soal kehamilan.
"Gimana rasanya hamil?" tanya Ririn seraya mengusap perut Nala.
"Ya gitu lah, ada seneng ada sedihnya juga," jawab Nala seraya memperhatikan tangan Ririn yang mengusap perutnya.
"Kamu belum hamil?" tanya Nala dan Ririn menggelengkan kepala.
"Mungkin belum rejeki, sering-sering aja buat siapa tau nanti cepet jadi!" ledek Nala.
"Eh, kamu udah pinter ya ngomong gitu, apa sekarang udah jadi suhu?" ledek Ririn.
Keduanya pun tertawa bersama.
Setelah berbincang-bincang, sekarang Dhev mengajak semua orang untuk makan malam tidak tertinggal dengan Kenzo.
"Senangnya kamu, Mir! Sebentar lagi rumah kamu makin ramai dengan hadirnya cucu kedua," ucap Mamih Jim seraya memperhatikan Kenzo yang terlihat menikmati makan malamnya.
"Semua sudah diatur, rejeki, jodoh dan maut! Sabar ya, Jeng!" kata Amira seraya mengusap punggung tangan Mamih Jimin.
Melihat itu, Jim berbisik di telinga Ririn.
"Kasihan mamih, udah kebelet punya cucu!"
"kita bahas di rumah aja!" jawab Ririn.
"Oia, di mana adik Dhev? Tidak kelihatan?" tanya Mamih Jim.
"Dia ikut suaminya, sesekali pulang ke rumah, kadang kala saya yang pergi menemuinya," jawab Amira.
Dan Nindy yang sedang meminum susu hamil, duduk di kursi meja makan itu hampir tersedak karena sedang dibicarakan.
"Pelan-pelan!" kata Doni yang duduk di depannya dan Doni jugalah yang membuatkan susu untuk Nindy.
Nindy mengelap mulutnya menggunakan tisu. Tersenyum pada Doni.
"Gimana? Udah bosen belum sama rasa vanilla? Kalau bosen nanti aku buatkan rasa baru!" kata Doni seraya bangun dari duduk dan membuka laci lemari gantung yang berada di dapur menunjukkan stok susu yang sudah tersedia.
"Rajin banget sih kamu, aja enggak rajin minumnya."
"Iya, kamu minum susu kalau ku buatkan, kalau enggak ya mana minum susu!" kata Doni, pria itu kembali duduk.
"Habisnya gimana, susu hamil rasanya enggak enak!"
"Demi kebaikan kamu dan bayi yang di dalam!" kata Doni dan Nindy merasa kalau Doni sudah sangat perhatian dan semakin membuat Nindy merasa nyaman berada di dekatnya.
Bersambung.
Jangan lupa like, komen dan difavoritkan, ya. Terimakasih^^.
__ADS_1
Jangan lupa juga buat vote gratisnya atau gift☺, terimakasih atas dukungannya.