
Tidak ada jawaban dari Nindy, membuat Doni melihat kearahnya.
Nindy terlihat sedih dan Doni meminjamkan bahu untuk Nindy bersandar.
"Sabar, semua pasti berlalu, lain kali sebelum bertindak harus dipikir dulu, ya!" kata Doni, pria itu seolah mengerti apa yang Nindy rasakan.
Rasa sesal, sesak, sakit dipermainkan oleh Arnold.
Nindy pun hanya menganggukkan kepala.
"Terimakasih," lirih Nindy.
"Terimakasih mulu perasaan, orang aku enggak ngapa-ngapain kok," jawab Doni dan Nindy menghapus air matanya.
"Jalan-jalan, mau?" tanya Doni seraya menutup layar ponselnya.
Nindy pun tidak menolak.
Sekarang, Doni dan Nindy sudah berada di mobil, berkeliling kotak Jakarta, lalu, Doni mengajak Nindy untuk jajan di tepi jalan, membeli batagor di depan taman kota.
"Jadi kangen masa sekolah, aku sering beli jajan ini," kata Nindy, sepasang suami istri itu duduk di bangku taman kota.
"Benarkah? Aku kira kamu enggak pernah jajan sembarangan," kata Doni seraya melahap batagor yang dipegangnya.
"Diam-diam, kalau ketahuan kakak pasti dia ngomel! Takut sakit perut, takut batuk, takut ini, takut itu! Banyak alasan!" kata Nindy seraya menirukan gaya Dhev ketika memarahinya.
Doni hanya mendengarkan dan Nindy melanjutkan bercerita.
"Iya, sampai koki di rumah aja enggak ada yang cocok sama dia langsung ganti, maklum, karena anak kesayangan jadi apapun yang kakak bilang semua menurut," kata Nindy yang terdengar lesu di ujung kalimat.
"Mungkin perasaan kamu aja, pasti mereka juga sayang kamu," kata Doni, pria itu mencoba menghibur Nindy.
"Sampai akhirnya, ketemu sama Bi Rasiah, cuma masakan dia yang cocok dan enggak bikin kakak sakit perut!"
"Tapi bisa cocok sama masakan Nona Nala, beruntung sekali ya Nona," kata Doni seraya bangun dari duduk, mengembalikan piring bekas batagor pada abang penjual.
"Iya, mungkin kakak kena tulah, diakan sempet benci sama kak Nala, eh sekarang jadi bucin, haha!" Nindy menertawakan Dhev.
"Begitu lah, kita jadi orang enggak boleh terlalu benci atau sebaliknya," kata Doni, pria itu kembali duduk di samping Nindy seraya membuka air mineral kemasan botol untuknya dan Nindy.
****
Di kamar, Dhev sedang menjadi sandaran Nala, gadis itu sedang memilih perhiasan di majalah untuk kado pernikahan Ririn.
Nala pun menunjukkan kalung berlian yang terlihat cantik itu pada Dhev.
"Mas, kalau aku beli ini boleh? Buat kado Ririn?" tanya Nala seraya mendongak menatap Dhev.
"Terserah kamu, sayang!" jawab Dhev.
"Ya sudah, aku mau ini, terimakasih, muaacch!" Nala pun mencium pipi Dhev.
__ADS_1
Dhev segera mengirim pesan pada Doni untuk mengurus pesanan istri kecilnya itu.
****
Hari pernikahan Ririn dan Jimin pun telah tiba.
"Sayang, kamu masih mual, bagaimana kalau kita kirim saja kadonya?" tanya Dhev seraya memijit tengkuk Nala di kamar mandi.
"Udah dandan, rapi, cantik gini, kok! Nikah kan seumur hidup sekali, aku enggak mau terlewat nikahan sahabat aku," jawab Nala setelah mengelap mulutnya menggunakan tisu.
"Tapi aku khawatir," kata Dhev.
"Aku enggak papa, udah, ayo berangkat, aku yakin ijab kabulnya udah lewat," kata Nala seraya pergi meninggalkan Dhev yang masih berdiri di depan wastafel, memperhatikan istrinya dari belakang.
Dhev hanya bisa menurut.
Sekarang, Dhev, Nala dan Kenzo sudah dalam perjalanan.
Sesampainya di sana, Nala segera mencari pengantinnya.
"Ririn, selamat, ya! Akhirnya, kamu nyusul juga," kata Nala seraya memeluk Ririn.
"Om enggak di peluk?" tanya Jim pada Nala.
"Maksud lo apa?" tanya Apa Dhev yang berada di belakang Nala.
"Haha, canda aja, lagian sekarang gue udah ada yang dipeluk!" kata Jimin seraya merangkul Ririn.
Dalam hati, Ririn ingin segera menurunkan tangan Jimin dari bahunya tetapi orang tua Jimin terus memperhatikan mereka membuat keduanya harus terus berpura-pura.
"Oh, mereka tadi ijin keluar dulu," jawab Ririn. Tentu saja ia berbohong untuk menutupi nikah kontraknya.
Setelah itu, Nala, Dhev dan Kenzo di persilahkan untuk menikmati hidangan yang tersaji.
Selesai dengan makan, Ken menagih janji Nala dan Dhev yang akan mengantarkan berkuda.
"Ayah, Ibu, ayo kita berkuda, teman-teman Ken pasti udah nunggu," kata Kenzo seraya menatap Dhev dan Nala secara bergantian.
"Iya sudah, ayo kita pulang," kata Nala pada Dhev dan Dhev mengiyakan.
Sekarang, Nala dan keluarganya pamit pada sepasang pengantin yang sedang berbahagia itu.
****
Sayangnya, sesampainya di rumah, Ken merasa kecewa.
Nala kembali mual dan muntah, melihat istrinya yang seperti itu, Dhev membatalkan acara berkudanya.
Di kamar Kenzo, Dhev duduk di ranjang putranya. Memperhatikan Ken yang sedang bersemangat mengganti pakaian.
"Ken," lirih Dhev.
__ADS_1
"Iya, Ayah," jawab Kenzo seraya melihat ayahnya.
Ken sudah siap dengan kaos dan celana panjangnya, kurang topi dan sepatu boots berkuda saja.
Lalu, Ken meminta pada Dhev untuk segera bersiap.
"Ayah, kenapa belum siap, ayo! Ken sudah hampir siap." Kenzo menyusul duduk di samping ayahnya.
"Lain waktu saja, ya. Ibumu kurang sehat, di dalam perutnya ada adik bayi yang harus dijaga, kasian ibumu kalau terlalu lelah," kata Dhev seraya menepuk punggung Kenzo.
"Kalau begitu, kita berdua saja, ditemani suster Resa," usul Kenzo. Pria kecil itu menatap ayahnya.
"Ayah harus menjaga ibumu, dia membutuhkan ayah juga, nanti kalau ibumu sudah baikan kita pergi bersama, ayah enggak mau dibantah!" kata Dhev, setelah itu, Dhev bangun dari duduk dan pergi keluar dari kamar Kenzo.
Kecewa, itu lah yang dirasakan oleh Ken.
Setelah itu dengan kesal Kenzo melepaskan kaos yang sudah melekat di tubuhnya.
"Ah!" kesal Kenzo, pria yang sekarang hanya mengenakan kaos dalam itu membaringkan tubuhnya di ranjang dengan kesal.
****
"Sayang," lirih Dhev pada Nala yang sedang berbaring.
"Hmm," jawab Nala seraya membalikkan badan, terlihat sudah ada dokter yang datang, kali ini bukan dokter keluarganya tetapi Dhev memanggil dokter kandungan.
Setelah di periksa, dokter tersebut menyarankan pada Nala untuk mengurangi makanan yang asam dan pedas supaya menjaga lambungnya tetap aman dan tidak memancing rasa mual.
Nala pun menganggukkan kepala.
"Apakah ada yang ingin ditanyakan?" tanya dokter tersebut.
Nala menggelengkan kepala, saat ini tidak ada pertanyaan di kepalanya, hanya ingin istirahat, itu saja.
"Jangan minta rujak lagi, jaga kesehatan!" kata Dhev yang duduk di sampingnya.
"Habis gimana, aku pengen makan itu," jawab Nala.
"Jangan ngeyel kamu!" kata Dhev dan Nala hanya diam, kembali berbaring.
"Apa perlu dirawat inap, dok?" tanya Dhev.
"Untuk sementara tidak," jawab dokter.
Dan ternyata, Dhev tidak begitu panik, karena kehamilan istrinya ini bukanlah yang pertama baginya dan ngidamnya Nala tidak separah Ana dulu ketika mengandung Kenzo dan anak keduanya.
Dhev mengangguk mengerti, setelah itu, Dhev menerima resep obat dan vitamin yang harus di tebus.
Setelah itu, Dhev mengantarkan dokter tersebut keluar dari kamar, saat Dhev bangun dari duduknya, pria itu melihat Ken yang memperhatikan di pintu.
Ken pun segera menutup pintu itu dan kembali ke kamarnya.
__ADS_1
Bersambung, apakah Kenzo akan mengerti kondisi ibunya?
Jangan lupa like setelah membaca, difavoritkan juga, ya. Terimakasih^^