DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Makan Malam


__ADS_3

Hari ini, Alif meminta ijin pada Arnold, ia tidak dapat bekerja karena harus mengurus Mae yang tidak mau dirawat di rumah sakit.


Arnold pun mentransfer sejumlah uang untuk Alif dan Alif sempat menolak juga akan mengembalikan uang itu, tetapi Arnold akan merasa kecewa kalau Alif tidak mau menerima bantuannya.


Akhirnya, Alif pun menerima uang itu yang sebanyak 5 juta.


Tentu saja, Alif tidak menceritakan itu pada Andra, tidak ingin di saat ibunya sakit Andra justru meributkan uang.


****


Selama belum mendapatkan pekerjaan, Kenzo mengantar jemput Bila untuk bekerja.


"Kamu yakin mau kerja? Aku kira kamu syok? Atau sakit hati atas kejadian kemarin malam dan ingin menenangkan diri dulu?" tanya Kenzo yang sudah duduk di bangku kemudinya.


Bila pun segera mencari alasan.


"Ken, sekarang kan kamu enggak kerja, nanti aku enggak bisa bantu kamu, belum lagi biaya ibuku, kemarin aku udh ambil cuti buat ngurus ibu, Ken!"


Ken pun menganggukkan kepala, menganggap alasan Bila cukup masuk akal dan sekarang Ken mengantarkan Bila ke kantornya.


Setelah beberapa saat, sekarang Kenzo sudah sampai di depan kantor Bila.


"Di sini enggak ada lowongan, Bil?" tanya Kenzo seraya membuka kunci mobilnya.


"Enggak ada, nanti kalau ada aku kabarin," kata Bila yang kemudian turun dari mobil.


Ken pun memanggilnya dan Bila melongokkan kepalanya di kaca mobil.


"Ada apa, Ken?"


"Tumben kamu enggak cium aku?"


"Maaf, aku lupa. Aku buru-buru!" kata Bila yang kemudian pergi dari tempatnya berdiri.


Dan sekarang, Kenzo merasa kalau ada yang berbeda dengan Bila, Bila tidak lagi seperti biasanya yang agresif dan memancingnya.


Kenzo merasa kalau cinta Bila semakin terasa jauh.


Setelah itu, Ken pun kembali pulang ke kosnya, ia tidak lupa membeli sarapan lebih dulu, membeli nasi uduk khas betawi tidak tertinggal semur jengkolnya.


Sesampai di kos, Ken melihat mobil Adila sudah terparkir di sana.


"Loh, ini kan mobil Dila, ngapain dia di sini? Ini kan kos-kosan cowok!"


Ken segera masuk ke pagar dan mencari-cari keberadaan Adila tetapi tak menemukannya.


"Bodoh amat gue, masa mau nyari dari pintu ke pintu dari kos-kosan sebanyak ini?" gumam Ken yang baru saja menaiki tangga lantai atas.


Ken kembali turun dan segera masuk ke kamarnya.


Sementara Adila sedang berada di kamar Rama, ia mengatakan putus tetapi Rama tidak mau.

__ADS_1


Rama yang sedang duduk di kursi meja belajarnya itu menatap Adila yang duduk di tepi ranjang.


Lalu, Rama mendekati Adila dan mengiba, meminta pada Adila untuk mempertahankan hubungannya.


"Gue janji, secepatnya gue bakal dapat kerja! Lo tau sendiri, sambil kuliah sambil kerja itu susah nyari waktunya," kata Rama seraya menggenggam dua lengan Adila.


"Bukan masalah itu, kalau masalah itu gue bisa nunggu! Tapi gue udah dijodohin!" jelas Adila seraya menurunkan tangan Rama dari lengannya.


Rama merasa kalau ini hanya alasan supaya Adila bisa memutuskan hubungan dengannya. Rama pun bangun dari duduk, ia berdiri membelakangi Adila.


"Alasan basi!"


"Terserah kalau lo enggak percaya, tapi kalau disuruh milih, gue pilih keluarga gue!" jawab Adila seraya bangun dari duduknya. Adila pun keluar dari kamar Rama.


"Sial, gue harus bikin dia tetap jadi milik gue!" kata Rama dalam hati, Rama pun ingin membuat rencana jahat untuk Adila.


"Lo enggak boleh lepas dari gue, Dil!" batin Rama seraya menatap kepergian Adila.


****


Hari sudah malam, sekarang, Fai sedang menunggu kedatangan Alif di rumahnya.


Tidak menunggu lama, Alif pun sudah datang, pria itu berpenampilan sederhana layaknya anak muda, Alif sempat menanyakan harus memakai apa dan Fai menjawab kalau Alif harus menjadi dirinya sendiri.


Pria muda yang mengenakan kemeja lengan pendek motif kotak-kotak berwarna biru kombinasi hitam dipadukan dengan celana jeans hitam itu disambut oleh Fai dan Nala di pintu utama.


Alif mengulurkan tangannya dan Nala pun menyambutnya.


Nala dan Fai pun membawa Alif masuk. Sampai di dalam, Alif semakin merasa minder dengan kemegahan rumah itu, membuatnya merasa kalau Fai sangat jauh untuk digapai.


"Enggak, gue engga boleh berpikir gitu, gue harus berusaha biar gue cocok bersanding sama Fai! Gue harus kerja keras!" batin Alif seraya memperhatikan seisi ruang tengah rumah Fai.


Mendengar tamu yang ditunggu sudah datang, membuat Fakhri keluar dari kamar, dari lantai atas, Fakhri memperhatikan Alif yang dianggapnya sangat kampungan. Fakhri yang merasa cemburu itu harus mengeluarkan sisi jeleknya yang selama ini tersembunyi di hati karena tak pernah merasakan atau menemukan masalah dalam hidup sebelumnya.


Apakah ini sosok asli Fakhri yang menurun dari ayah biologisnya?


Dhev yang menunggu di ruang tengah seraya menonton televisi itu melihat tamu yang diundang sudah datang pun menyuruhnya untuk duduk dan ikut bergabung.


Alif melihat sofa yang pasti harganya tidaklah murah itu merasa berat untuk mendaratkan bokongnya di sana.


"Ayo, Nak. Duduk!" kata Dhev seraya memperhatikan Alif yang masih berdiri.


Alif pun menganggukkan kepala.


"Lo salon dulu sama ayah!" bisik Fai dan Alif memberanikan diri untuk meminta salim.


Dhev menyambutnya dan menanyakan siapa namanya.


"Alif, Pak," sahut Alif dengan sopan.


Setelah Alif ditarik oleh Fai dan sekarang, Alif duduk bersebelahan dengan Fai langsung mendapatkan pertanyaan dari Dhev.

__ADS_1


"Kenal di mana?" tanya Dhev seraya menatap Alif. Dhev merasa kalau Alif mirip dengan seseorang, tapi entahlah, Dhev tak mau memikirkan itu, dalam pikirannya mungkin Alif adalah jodoh Fai maka dari itu ada kemiripan dengan anggota keluarganya.


Setelah diingat-ingat, Dhev tersadar kalau Alif memiliki kemiripan dengan Nindy saat tersenyum.


"Kenal di jalan, Pak," jawab Alif apa adanya.


"Apa di jalan? Jalan mana?"


Dan Fai pun segera menjelaskan kalau awal pertemuannya dengan Alif saat Alif menolongnya dari kejaran preman.


"Oh, tapi kamu bukan bagian dari preman itu, kan?" tanya Dhev dan Alif merasa kalau Dhev menganggapnya sebagai dalang supaya bisa dekat dengan Fai.


"Ayah, masa nanyanya gitu, kalau Ayah masih ragu bisa tanya sama paman!"


"Haha, iya. Ayah hanya bercanda."


Setelah itu, Dhev melihat Fakhri yang baru datang dan duduk di sebelahnya, segera Dhev mengenalkan Fakhri pada Alif.


"Kenalkan! Dia keponakan saya!" kata Dhev seraya menepuk punggung Fakhri.


"Mereka udah saling kenal, yah," kata Fai dan Alif pun tersenyum pada Fai dan Dhev.


Lalu datang Nala dari dalam.


"Ayo, makan malam udah siap!" ajak Nala pada semuanya dan Alif berjalan di belakang Dhev dan Fakhri.


Fai terus menggenggam tangan Alif yang terasa dingin.


"Lo tegang, ya. Biasa aja! Keluarga gue baik kok!" bisik Fai.


"Tapi tetep aja grogi, ini pengalaman pertama gue," jawab Alif yang sama dengan suara pelan.


"Tapi bahagia, kan?"


Alif tersenyum dan mengangguk.


Sesampainya di meja makan, malam ini Fai meminta pada Fakhri untuk duduk di samping ibunya dan Alif duduk di sebelahnya.


Fakhri yang tak menjawab apa-apa itu hanya bangun dan langsung pindah ke tempat duduk Kenzo.


Alif yang baru melihat peralatan makan begitu komplit merasa bingung dan Nala mengerti apa yang dirasakan oleh Alif.


Nala pun menyiapkan air kobokan dan malam ini Nala menemani Alif makan malam dengan menggunakan tangan.


Fai pun mengikutinya dan akhirnya semua orang makan malam dengan cara yang sama.


Alif merasa beruntung karena keluarga pacarnya bukanlah orang kaya yang sombong.


Bersambung.


Like dan komen ya all, karena like itu gratis yuk goyang jempolnya setelah baca 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2