
Nala kembali menemui Ririn di ruang tamu, tetapi yang dicari sudah tidak ada di sana.
"Kemana dia? Cepat sekali pergi, enggak pamit lagi!" kata Nala.
****
Sementara Nindy yang masih belum mendapat kabar dari Arnold itu mengajak Mika untuk bertemu di mall, keduanya pergi ke kafe, meminum kopi dan memesan aneka camilan untuk menemani obrolan keduanya.
"Ka, gue punya kenalan, udah jalin hubungan serius, tapi udah dua hari dia kaya hilang." Nindy terlihat sangat lesu dan Mika menganggap kalau pria itu tidak serius.
"Berarti dia enggak serius, kalau dia serius pasti dia enggak akan hilang, udah, lupain aja, cari aja kenalan baru, lo kan cantik, lulusan luar negeri, pasti banyak lah yang antri." Mika mencoba menyemangati temannya.
"Gimana gue mau cari yang baru, gue udah serahin yang berharga buat lelaki itu, Ka!" batin Nindy, Nindy pun menyeruput es kopi latte miliknya.
Tidak lama kemudian, Nindy mendengar ponselnya berdering, segera membuka tas tangannya, mengambil ponsel itu dan ternyata yang menghubungi adalah orang yang sedang ditunggu.
"Nah, ini dia. Dia miscall doang, tapi kirim pesan juga," kata Nindy dan sekarang Nindy merasa sedikit senang karena akhirnya Arnold menghubunginya.
Nindy membaca pesan Arnold yang meminta maaf karena tidak ada kabar, beralasan sibuk bekerja.
"Iya enggak papa, kok. Gue ngerti, terus kapan kita ketemu lagi?" balas Nindy dengan bibir yang menyunggingkan senyum.
Mika memperhatikan yang sedang kasmaran dengan terus melahap cemilannya.
"Gue penasaran sama cowok lo, ada fotonya enggak?" tanya Mika seraya memasukan kentang goreng ke mulutnya.
"Ada, nanti gue kasih liat, ya," jawab Nindy dengan masih fokus pada layar ponselnya.
Setelah membalas pesan dari Arnold, Nindy pun membuka galeri untuk mencari foto-fotonya bersama Arnold.
Tetapi Nindy tidak menemukannya.
"Loh, kok enggak ada. Perasaan kemarin di Semarang gue foto-foto sama dia," kata Nindy.
"Apa dihapus sama Arnold? Dia bilang paling enggak suka di foto!" Nindy masih membatin.
"Emm, gini aja. Gimana nanti kalau gue mau ketemuan, gue ajak lo, biar gue kenalin langsung."
Mika pun mengiyakannya.
****
Satu minggu berlalu, Amira memperhatikan Dhev yang kedapatan olehnya sering mencuri pandang pada Nala. Amira juga memperhatikan Nala yang selalu salah tingkah apa bila berada di dekat Dhev.
Amira juga melihat Dhev selalu marah-marah belakang ini.
Padahal karena hal sepele, Karena Ken mencium Nala, karena Nala menyiapkan bekal yang hanya untuk Ken dan itu berhasil membuat pagi Dhev uring-uringan.
Dan pagi tadi, mungkin Dhev sudah tidak tahan dengan Nala yang masih juga tidak mengerti maksudnya. Dhev menganggap kalau Nala gadis yang sangat tidak peka.
__ADS_1
"Kamu kenapa, Dhev?" tanya Amira seraya mengambilkan tas kerjanya yang tergeletak di sofa ruang tengah.
"Anak itu, anak pungut mamah, masa nyiapin bekal cuma buat Ken. Padahal Dhev yang bayar mahal buat dia!" kata Dhev seraya menerima tas itu.
"Jadi karena bekal? Kamu mau juga? Kenapa enggak bilang aja, mana tau dia maksud kamu kalau kamu enggak bilang!"
"Sudahlah, lupakan!" kata Dhev seraya berlalu.
Dan Amira yang teringat dengan kejadian itu tersenyum, merasa kalau Dhev sebenarnya membutuhkan perhatian.
"Dhev, Dhev. Kaya anak kecil aja kamu!" kata Amira seraya menggelengkan kepala, tersenyum teringat dengan tingkah anak kesayangannya.
Amira yang sedang duduk menyeruput teh di sore hari itu memperhatikan Nala dari kursi taman, ia menyuruh Nala untuk merawat tanaman di tamannya.
"Apa ku jodohkan saja mereka? Ku lihat Nala gadis yang baik, terlihat tidak neko-neko, sayang sama Ken. Tulus lagi," batin Amira, ia tersenyum pada Nala yang melihat kearahnya.
Lalu Amira memanggil Nala untuk ikut duduk bersamanya.
Nala pun duduk di kursi kosong depan Amira.
"Iya, ada apa, Bu?" tanya Nala seraya menatap Amira.
"Kamu sudah punya pacar?" tanya Amira, wanita itu langsung pada intinya, ingin tau tentang Nala.
Nala menjawab dengan menggelengkan kepala.
Nala pun bertanya balik, "Memangnya... kenapa, Bu?"
Setelah itu Amira bangun dari duduk.
"Sudah mau maghrib, ayo masuk," kata Amira dan Nala menganggukkan kepala.
Bertepatan dengan mobil Dhev yang baru saja masuk halaman. Amira meminta pada Nala untuk menyambut Dhev.
"Maksudnya? Tapi Nala enggak berani dekat-dekat sama Om, Bu," bisik Nala.
"Loh, kenapa? Memangnya anak Ibu menggigit?"
"Enggak, tapi marah-marah mulu, kaya T-rex."
Amira terkekeh dan mengerti Nala, tidak memaksa untuk segera dekat dengan Dhev. Amira ingin kalau Dhev yang melamar Nala. Tetapi bagaimana caranya, itu menjadi pr untuk Amira.
"Pak Bobi, semoga kita jadi besan, saya sangat menyukai anak Bapak," batin Amira seraya membelai rambut Nala.
"Assalamu'alaikum," seru Dhev dan Nindy yang baru saja pulang bekerja.
"Kok kalian berdua saja? Di mana Ken?" tanya Dhev seraya menggulung lengan kemejanya. Berjalan melewati Amira dan Nala yang masih berdiri di depan pintu.
"Di jemput sama tantenya, Neneknya ulang tahun dan merindukan Ken," jawab Amira.
__ADS_1
"Dhev akan mengirim kado untuk Ibu," kata Dhev. Pria itu terus berjalan dan sekarang masuk keruang kerjanya.
"Nala, kamu ikut saya!" kata Dhev.
"Eh, ngapain? Enggak tau apa kalau aku menghindari om, malah disuruh ikut!" batin Nala. Gadis itu masih terdiam dan Amira menepuk bahu Nala.
"Sana," kata Amira.
Dan Dhev sudah menunggu Nala, menatap pintu yang tak kunjung terbuka.
"Lama amat, jalan aja kaya keong!" kata Dhev dan pria itu masih menatap pintu.
Dalam hatinya, Dhev membenarkan ucapan Amira, apa bila Dhev tetap diam tidak ada yang tau dengan apa yang diinginkannya.
Maka dari itu Dhev sudah membuatkan jadwal pekerjaan untuk Nala.
Tidak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu.
"Masuk!" kata Dhev dan Nala pun menampakkan batang hidungnya.
"Iya, ada apa, Om?" tanya Nala yang masih berdiri di pintu
"Kamu enggak dengar saya suruh masuk?" tanya Dhev seraya menatap tajam Nala.
Nala tersenyum kikuk menampakkan gigi rapihnya.
"Jangan senyum!" batin Dhev, pria itu seperti tak kuasa saat melihat senyum Nala.
"Ini daftar kerjaan untuk kamu!" kata Dhev seraya memberikan selembar kertas pada Nala.
Nala melangkah untuk mengambil kertas itu, baru saja Nala mengulurkan tangannya Dhev meletakkan kertas itu di meja.
"Astaga, sekali nyebelin emang tetep nyebelin," batin Nala seraya mengambil kertas itu di meja.
Nala membulatkan mata saat membaca isi tulisan tersebut, tidak banyak tetapi sangat aneh bagi Nala.
"Kerjakan apa yang kamu kerjakan untuk Ken berlaku untuk saya." Nala membacanya di dalam hati.
Seketika Nala travelling, membayangkan, menyiapkan baju ganti untuk Dhev dan saat yang paling menggelikan adalah harus mengambilkan pakaian dalam juga untuk Dhev, menunggu Dhev mandi seperti dirinya menunggu Ken dan mengelapnya menggunakan handuk.
"Kamu bisa baca tidak? Kata Dhev seraya merebut kertas itu berniat untuk membacakannya dengan keras.
Seketika Dhev menjadi bingung kenapa tulisannya menjadi seperti itu.
"Doni!" geram Dhev seraya meremas kertas itu.
"Apa aku harus menunggu om mandi juga? Seperti aku nunggu Ken mandi?" tanya Nala dan seketika wajah Dhev menjadi memerah karena malu.
__ADS_1
Bersambung.
Terimakasih bagi yang sudah membaca.