
Ririn baru saja selesai berbelanja dan di parkiran, ia melihat ibu dan ayah mertuanya yang baru turun dari mobil.
"Astaga, mereka sudah sampai!" batin Ririn, gadis yang mengenakan celana jeans panjang dan sweater itu melupakan sesuatu yang masih ada di kamarnya.
Ririn bersembunyi di balik mobil Jimin yang di pinjamkan kalau Ririn memiliki keperluan.
Ririn segera menghubungi Jimin yang belum berangkat ke kantor.
Jimin yang sedang duduk santai di kamarnya itu segera menerima panggilan dari istri sewaannya.
"Ada apa?" tanya Jimin dari saluran teleponnya.
"Mamih sama papih udah sampai, gue minta tolong pindahin tas gue yang di kamar, dia ada di lemari di laci bagian bawah!" pinta Ririn tanpa memberitahu apa isi tas tersebut.
Karena hanya tas itu yang belum Ririn pindahkan ke kamar Jimin.
Dengan sengaja, Ririn tak memberitahu apa isi tas tersebut apa lagi meminta Jimin untuk tidak membukanya, Ririn takut kalau Jimin akan merasa penasaran dengan isinya.
Tetapi, Jimin yang selalu jahil itu merasa penasaran dengan apa yang disimpan oleh Ririn.
Jimin yang sedang berjongkok di depan lemari itu sudah menemukan tas yang di maksud oleh Ririn.
"Lah, paling juga make up, perlengkapan cewek! Apa lagi!" kata Jimin yang sudah membuka resleting tas rajut tersebut.
Jimin membawa tas itu berdiri dan ternyata tas rajut itu menyangkut di kunci lemari Ririn, tas itu tertarik oleh Jimin sehingga isi dari tas itu keluar.
Terlihat bukan hanya perlengkapan wanita tetapi Jimin menemukan benda yang membuatnya tertawa terbahak. Benda itu adalah pemuas nafsu Ririn kala bermain sendiri, benda yang berbentuk sangat mirip dengan barang Jimin.
"Aaaaa! Astaga, Ririn!" Jimin menertawakan Ririn dan menyembunyikan barang itu, ingin ia gunakan untuk meledek istrinya.
Dengan wajah yang mengejek, Jimin keluar dari kamar Ririn dan bertepatan dengan mamih dan papihnya yang baru saja tiba.
"Baru aja Jim beresin kamar untuk kalian," kata Jimin seraya menutup pintu kamar Ririn.
Jimin menyalami ke dua orang tuanya.
"Mamih sama papih istirahat aja dulu!" kata Jimin, kemudian pria itu membawa tas Ririn masuk ke kamarnya.
Di mana Ririn?" tanya mamih seraya mengambil air minum dingin di kulkas.
"Ada, tadi pamit belanja keperluan dapur," jawab Jimin yang sudah keluar dari kamarnya.
Tentu saja, Jimin sudah menyembunyikan barang milik Ririn dengan aman.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, Ririn pun masuk dan seolah menjadi menantunya di apartemen Jimin.
"Jangan terlalu lelah! Bagaimana akan cepat punya anak kalau kamu selalu kecapean!" kata mamih Jimin seraya membantu membawakan barang belanjaan Ririn.
"Udah sering Jim kasih tau, mih. Tapi dia kan rajin, enggak bisa makan masakan orang lain, maunya masakan sendiri, jadi ya udah Jim biarin aja sesuka hati dia biar dia nyaman!" timpal Jimin yang sedang duduk bersama dengan papihnya.
"Jim, perkebunan papih kerjasama loh sama perusahaan temen kamu, Dhev!" kata papih Jimin, pria tua itu mengajak anaknya mengobrol siapa tau membuat Jim tertarik untuk mengurus perkebunan.
"Baguslah," jawab Jimin yang terlihat acuh.
"Nanti malam kami akan makan bersama, kalian ikut, ya!"
"Baiklah!" jawab Jimin seraya meraih remote televisi yang tergeletak di meja.
Sementara itu, di dapur, mamih Jimin sudah meminta cucu dan setiap kali kedatangannya itu selalu membahas cucu membuat Ririn pusing.
"Gimana mau ada cucu, kami hanya nikah kontrak!" batin Ririn.
****
Sepulang dari kantor, sore ini, Dhev pergi menemui Arnold lebih dulu.
Arnold masih saja terlihat angkuh di depan Dhev.
"Lo tau siapa yang hari ini datang buat ngemis?" tanya Dhev yang duduk berhadapan dengan Arnold di kursi panjang yang tersedia di ruang besuk.
"Ibu lo, dia mohon buat gue bebasin lo! Tapi gue enggak berbaik hati, gue maunya lo yang sujud di kaki gue!" kata Dhev dan kedua pasang mata itu saling menatap tajam.
Arnold pun mengepalkan tangan, bersiap untuk meninju wajah Dhev tetapi dengan gesit Dhev menghindari pukulan itu.
"Meleset!" kata Dhev, pria itu berdiri kemudian merapikan penampilannya di depan Arnold, setelah itu pergi dari sana.
"Setan lo! Bajingan!" umpat Arnold yang tertahan oleh petugas di sana.
"Setan kok teriak setan!" kata Dhev seraya terus berjalan meninggalkan Arnold.
****
Mika sedang merapikan barang dari butiknya ke dalam mobil bak yang ia sewa untuk membawa semua barang itu pulang ke rumahnya.
Dan saat itu juga, Denis yang berada di atas motornya memperhatikan Mika, akan melaksanakan tugas dari Dhev supaya mendapatkan maaf darinya.
Denis menggerungkan suara motornya, menatap tajam Mika, berpikir apakah akan mencelakainya atau mengurungkan niatnya, tetapi, keluarganya terancam membuat Denis teringat kalau dirinya harus melakukan apa yang ia lakukan pada Nala.
__ADS_1
Denis tidak sampai melukai Nala dan akan melakukan hal yang sama pada Mika.
Denis pun segera menarik gas motornya, mengendarai dengan cepat kearah Mika yang sedang berdiri di tepi jalan.
Ngueng! Denis melaju dengan sengaja hampir menyerempet Mika dan perbuatannya itu membuat Mika merasakan kalau nyawanya sudah berada di ujung tanduk.
"Aaaaaa!" teriak Mika yang terjatuh di tepi jalan itu.
Denis yang melihat itu dari kaca spionnya memutar balikkan motornya, mendekati Mika.
"Gimana rasanya hampir mati?" tanya Denis seraya membuka kaca helmnya.
"Lo! Tega banget sih!" gerutu Mika seraya bangun dan menepuk-nepuk bokongnya yang terasa sakit.
"Itu belum seberapa! Ini gue balikin!" kata Denis seraya mengembalikan amplop pemberian dari Mika. Denis mengembalikan amplop itu dengan cara melemparkannya ke kaki Mika.
Mika yang masih terlihat pucat dan kesal dengan ulah Denis itu mengambil amplop tersebut.
****
Seperti biasa, saat sampai di rumah, Dhev di sambut hangat oleh istrinya di teras.
Walau tanpa make up dan terlihat semakin bulat, Nala tetap menjadi pujaan hatinya.
"Anak ayah lagi ngapain?" tanya Dhev pada perut Nala.
"Anak ayah habis makan es krim," jawab Kenzo yang menyusul Nala ke teras, memeluknya dari belakang dan itu membuat Dhev cemburu.
"Ayah belum peluk ibumu dan kamu sudah berapa kali peluk ibu?" protes Dhev seraya melepaskan tangan Kenzo yang melingkar di perut Nala.
Dhev membawa Kenzo masuk dengan menggendong berada di atas bahunya.
Nala tersenyum melihat itu, akhirnya, kebahagiaan yang dirindukan oleh Ken kini sudah ia dapatkan.
Nala mengikuti keduanya dari belakang.
Sampai di ruang tengah, Dhev menurunkan Ken. "Sudah, ayah sangat lelah, ingin istirahat sebelum ada tamu datang," kata Dhev seraya mengusap pucuk kepala Ken.
Dhev merengkuh pinggang istrinya dan membawanya ke kamar. Sesampainya di kamar, Dhev menanyakan apakah perut istrinya masih sakit?
"Enggak, udah baikan, aku enggak papa, kok," jawab Nala seraya melepaskan dasi Dhev.
Cup! Dhev mengecup kening Nala dan Nala tersenyum manis.
__ADS_1
Bersambung.
Jangan lupa like, komen dan difavoritkan, ya. Gift/vote juga boleh banget untuk mendukung karya ini, terimakasih sudah membaca^^