DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Semakin Mesra


__ADS_3

Sekarang, Adila dan Fai sedang bersiap olahraga pagi bersama dengan Ririn.


"Dengar, olahraga itu penting, kalian mau jadi gendut? Badannya klenyer-klenyer kaya emak-emak?" tanya Ririn yang sedang menggelar matras di taman samping rumah menghadap kolam renang.


"Apaan sih, mamah! Kita kan masih bocil, ya enggak Fai?" protes Adila yang sedang melakukan hal sama.


"Makanya itu, harus dijaga dong!" kata Ririn.


Setelah itu, Ririn pergi masuk, seraya menunggu instruktur yoga datang dirinya menyempatkan untuk membuka grup chat di geng sosialitanya yang di sana juga ada Nala.


Sementara itu, di taman samping rumah, Fai sedang melakukan video call bersama Alif yang sedang bersiap-siap untuk bekerja.


Adila hanya bisa merasa iri melihat kemesraan mereka, Adila yang sudah putus dengan Rama itu tak lagi menghiraukannya walau Rama terus mengiriminya chat.


"Seneng banget sih lo! Walaupun punya pacar orang biasa aja langsung dapat restu! Lah gue, malah dijodohin sama siapa entah orangnya!" gerutu Adila seraya mengambil gambar selfie.


"Sirik aja lo!" jawab Fai.


"Semangat ya olahraganya, gue kerja dulu, bye!" kata Alif dan Fai pun memberikan kiss jarak jauh dan Alif menangkapnya lalu memasukkan ke dalam saku baju seragamnya.


Fai pun menjadi senyum-senyum sendiri setelah menyudahi video call tersebut.


"Sadar woy!" kata Adila seraya mendorong bahu Fai dan Fai pun mencium pipi Adila membuat Adila menjadi histeris dan merasa geli.


****


Waktu terus berjalan, sekarang, Mae yang sudah ikhlas menerima kalau Alif adalah anak pilihannya itu mengantarkan makan siang untuknya.


"Ibu, ngapain repot-repot? Kan bisa chat aja, nanti Alif pulang buat makan," kata Alif seraya menghampiri Mae yang sedang berdiri di pintu gerbang.


"Enggak papa, ibu lupa untuk memperhatikan kamu belakangan ini!" kata Mae seraya memberikan nasi bungkusnya.


Dan saat itu juga ada Fakhri yang baru datang untuk mencuci motornya, Fakhri semakin tidak menyukai Alif yang dianggapnya selalu mendapatkan kasih sayang dari semua orang.


"Cuci motor gue! Jangan lama-lama gue mau jemput Fai!" kata Fakhri seraya melepaskan sarung tangannya.


Mae tidak memperdulikannya, justru Mae memberikan semangat pada Alif.


"Semangat kerjanya, biar bisa jadi orang sukses!" kata Mae seraya membelai wajah Alif.


Melihat itu ada yang merasa gerah hati dan semakin menyalahkan Mae sebagai dalang atas kurangnya perhatian yang dia dapatkan.

__ADS_1


"Cepet!" kata Fakhri dan ada pekerja lain yang mendekat untuk menyentuh motor Fakhri.


"Jangan pegang-pegang! Biar dia aja!" kata Fakhri seraya dagu menunjuk ke arah Alif.


Alif masih bisa menahan kesabarannya sampai selesai mencuci motor tersebut. Sayangnya, Fakhri yang sepertinya ingin menjatuhkan Alif itu kembali berbuat kasar.


Fakhri melemparkan selembar uang kertas berwana merah ke dada Alif dan Alif tak dapat menahan kekesalannya lagi. Alif menginjak uang itu yang jatuh dan basa terkena air.


Alif mencengkeram kerah jaket kulit Fakhri yang mahal.


"Gue emang miskin! Tapi bukan buat direndahkan! Ambil uang itu atau lo bakalan mampus!"


"Gue enggak takut!" jawab Fakhri seraya menahan tangan Alif.


"Punya masalah apa lo sama gue! Lo minta gue jauhin Om Arnold dan udah gue lakuin! Kurang apa lagi, hah!" bentak Alif seraya mendorong Fakhri.


Fakhri pun hampir jatuh terduduk dan kembali mendapatkan keseimbangan.


"Jauhin Fai!" seru Fakhri tepat di depan wajah Alif.


"Lo itu sepupunya, masa lo cemburu? Lo suka sama sepupu sendiri? Gue udah dapat restu dari Pak Dhev! Enggak butuh restu dari lo!" kata Alif seraya menunjuk wajah Fakhri.


Beruntung, anak buah Arnold yang tadi pergi untuk makan siang sekarang sudah kembali dan melerainya.


"Jangan datang cuma cari masalah lo!" kata Alif dan Fakhri pun pergi meninggalkan salon Arnold dengan menyimpan dendam.


Setelah itu, karyawan yang lain mengambil uang yang basah dan kembalian dari uang itu adalah tipe untuk Alif, tetapi, Alif tidak menerimanya.


"Ambil aja buat lo!" kata Alif dan tentunya itu membuat temannya merasa senang.


Sekarang, giliran Alif untuk menyantap makan siangnya, sebenarnya Alif sudah tidak lagi berselera makan, tetapi, karena itu kiriman dari ibunya, Alif pun segera menyantapnya tanpa sisa.


****


Siang ini, pria asing itu mencari Bila ke kosnya dan tidak menemukan apapun karena Bila sudah pergi bersama Kenji.


"Sial! Mau ***-*** malah kena tipu! Cewek ular!" gerutunya yang kemudian pergi dan pria itu belum menyadari kalau dirinya sekarang terlilit hutan puluhan juta rupiah. Mungkin akan menyadarinya nanti saat tagihan itu datang.


Dan Kenzo, pria itu mendapatkan pekerjaan sebagai kurir, terpaksa untuk menyambung hidupnya.


"Gue harus bisa mandiri!" kata Kenzo yang bersiap untuk mengantarkan paket dan kali ini ia mengantarkan paket ke kosnya sendiri.

__ADS_1


Paket itu ditujukan untuk Rama.


Sesampainya di sana, Rama yang melihat Kenzo sebagai kurir pun mengejeknya.


"Hahaaa, lu cowok yang sok-sokan bayarin makan gue sama Adila, kan? Ternyata lu kurir? Gede gaya lo!" kata Rama si pria sengak, ia menerima paketnya lalu memberi tips sebesar 5ribu rupiah untuk Kenzo.


"Ambil ini, buat beli es teh di jalan!" ucapnya dengan begitu sombongnya.


Ken hanya menatapnya datar, setelah Rama menutup pintu kamarnya, Ken pun melanjutkan pekerjaannya.


"Sial, pertama kerja aja ketemu orang nyebelin!" batin Kenzo.


Kenzo yang yang sedang mengendarai motornya itu berhenti di lampu merah dan bertemu Adila yang berada persis di sampingnya.


"Abang?" panggil Adila seraya menurunkan kaca dan Kenzo yang menoleh itu menurunkan kaca helmnya, Ken merasa malu dengan pekerjaannya sekarang ini.


Fai yang berada di sebelah Adila pun merasa penasaran dan ikut melihat kearah Adila menyapa seseorang.


Belum sempat Fai menyadari kalau pria itu adalah kakaknya lampu sudah berganti dan segera Kenzo melajukan motornya.


"Lo manggil siapa tadi?" tanya Fai pada Adila.


"Abang lo! Jadi kurir sekarang?"


"Engga tau, dia belum pulang ke rumah soalnya," jawab Fai yang kemudian melihat ke layar ponselnya.


Setibanya di kampus, Adila segera memarkirkan mobilnya dan sebelum turun dari mobil, ia mendapatkan pesan yang berupa ancaman dari Rama, Rama mengancam akan bunuh diri apa bila Adila tidak mau menemuinya untuk yang terakhir kalinya.


"Astaga, gue takut dia mati terus jadi hantu gentayangan, gue dikejar lagi!" batin Adila.


"Lo kenapa?" tanya Fai yang sedang melepaskan sabuk pengaman.


"Enggak papa, ya udah, ayo! Nanti takut telat!" kata Adila yang kemudian keluar dari mobil.


Adila mengatakan kalau dirinya akan menemuinya nanti setelah jam pelajaran selesai dan berjanji pada Rama kalau ini adalah pertemuan terakhirnya.


Mendapatkan balasan seperti itu, Rama pun menjadi senang. Adakah sesuatu yang direncanakan oleh Rama?


Bersambung.


Like dan komen, jangan lupa votenya, ya. Vote gratis untuk dukung karya ini 🤗.

__ADS_1


__ADS_2