
Hari-hari Fai sekarang di sibukkan dengan mempersiapkan pernikahannya.
Sekarang, hari yang ditunggu telah tiba.
Acara sakral itu diadakan di rumah Dhev dan untuk resepsi diadakan di hotel berbintang.
Dengan make-up yang tidak terlalu tebal sesuai dengan keinginannya, Fai terlihat begitu cantik dan manis.
setelah ijab kobul terucap, sekarang semua saksi mengucapkan kata sah, begitu juga dengan Alif dan Fakhri.
Berbeda dengan Alif yang mencoba berlapang dada, tapi bagaimana dengan Fakhri, ia patah hati karena gadis yang selama ini ia lihat telah bersanding di pelaminan dengan orang lain.
Alif yang duduk bersebelahan itu pun menepuk punggungnya seolah menguatkan.
Fakhri dan Alif pun saling berpelukan dan itu membuat Nindy dan Arnold saling menatap.
Semua orang tau bagaimana mana masa lalu Alif dan Fai, jadi mereka mengira hanya Alif saja lah yang patah hati.
Sekarang, semua orang memberikan kata selamat pada pasangan yang baru menikah itu, termasuk Alif dan Fakhri.
"Jaga kakak sepupu gue baik-baik! Kalau lo berani nyakitin dia, lo berhadapan sama gue!" ucap Alif yang sedang bersalaman dengan Ruri.
Fai yang mendengar itu memutar matanya dan bukan hanya Alif, karena Fakhri juga memberikan ancaman yang serupa.
Berbeda dengan Alif yang hanya mengucapkan kata-kata tersebut, tetapi, Fakhri memberikan tanda dua jari telunjuk dan tengah di matanya lalu bergantian ke mata Ruri.
Setelah keduanya selesai mengucapkan selamat, Ruri berbisik di telinga Fai, "Sodara kamu udah kaya bodyguard!"
"Iya, mereka memang seperti itu, untung jodoh aku deket! Kalau enggak bisa jadi perawan tua aku gara-gara mereka terlalu ketat jagain aku!"
Mendengar kata perawan, Ruri menjadi tidak sabar untuk membelah duren. Ruri mengedipkan mata pada Fai dan Fai mengira kalau Ruri kelilipan debu.
Mendapati istrinya tidak mengetahui kode alam darinya, Ruri pun kembali fokus pada para tamu.
****
Alif membawa Fakhri untuk bertemu dengan teman-temannya di pangkalan, di sana Alif membeli beberapa botol minuman untuk menemaninya malam ini.
Alif ingin mengalihkan pikirannya dari Fai yang telah resmi menjadi istri Ruri.
__ADS_1
"Lo yakin minum ini?" tanya Fakhri yang sebelumnya sama sekali tidak pernah menyentuh minuman haram itu.
"Kenapa? Gue udah biasa, lo harus coba!" kata Alif seraya memberikan sedikit minuman itu pada Fakhri dan Fakhri yang merasa penasaran itu menenggaknya, belum seberapa banyak tetapi itu sudah membuat Fakhri mabuk.
Fakhri pun meracau, ia mengatakan kalau dirinya akan menjadi pengagum rahasia Fai.
Dan teman-teman Alif pun menertawakannya. Sedangkan Alif, ia tidak sampai mabuk, ia bersama dengan teman-teman yang lain bermain kartu.
Sedangkan Fakhri, Alif ikat di tiang bambu yang menjadi pilar tempatnya duduk, ia takut diam-diam Fakhri pergi dalam keadaan setengah sadar.
Dan Arnold yang menyadari kalau anak-anaknya sudah tidak ada di pesta itu mencari dan kecurigaannya benar, Arnold membiarkan anak-anaknya itu bermain bersama dengan teman-teman yang lain, selama itu masih di batas wajar.
****
Di kamar hotel. Fai yang sedang membuka gaunnya itu seolah menggoda suaminya, ia dengan sengaja membuka gaun pengantinnya yang simpel namun tetap elegan itu di depan mata Ruri.
Ruri mengira kalau setelah gaun itu jatuh maka akan terlihat jelas semua milik Fai tanpa terhalangi apapun lagu, tapi nyatanya, Fai memakai kemben dan celana pendek.
Setelah itu, Fai segera ke kamar mandi untuk menghapus make-upnya dan belum sempat melakukan itu, Ruri yang masih lengkap dengan jasnya sudah menyusul Fai dan sekarang memeluk Fai dari belakang.
"Boleh aku panggil sayang?" tanya Ruri tepat di samping telinga Fai.
"Sayang!" panggil Ruri dan Ruri yang sudah ingin melakukan itu pun mengecup leher Fai yang terekspos karena rambutnya masih tertata rapi dengan sanggul.
Fai merasa kegelian dan sedikit mendorong Ruri, Ruri yang sudah kebelet itu pun mengangkat Fai supaya duduk di meja wastafel, keduanya saling menatap dan karena bukan lagi anak kecil,Fai sudah tau apa yang diinginkan suaminya.
Ruri melahap bibir Fai yang masih penuh dengan lipstik, sehingga lipstik pink itu ikut berpindah ke bibir Ruri.
Setelah melakukan pemanasan, sekarang, Ruri membawa Fai ke ranjang, Ruri meminta ijin pada istrinya untuk belah duren malam ini.
Fai pun mengijinkannya karena itu memang sudah hak Ruri untuk menyentuhnya.
Malam ini menjadi malam panjang bagi Fai dan Ruri yang sedang memadu kasih, sementara itu, Alif yang sudah lelah dengan kartunya itu sedang tiduran di pondok tempatnya berkumpul, Alif menatap langit yang bertabur bintang, sementara yang lain sudah tertidur pulas.
"Fai, sekarang pasti lo lagi ngelakuin itu!" gumamnya dan seolah mengerti apa yang Alif pikirkan, Fakhri yang teler dan tangan masih dengan keadaan terikat itu tertawa dan Alif hanya meliriknya.
****
Hari yang begitu berat telah berhasil dilaluinya, sekarang, Alif dan Fakhri terpaksa harus ikut ke LN bersama dengan Fai dan Ruri.
__ADS_1
Sebenarnya, Alif tidak ingin ikut karena tidak ingin menjadi nyamuk diantara dua pasangan yang sedang hangat-hangatnya memadu kasih itu, terlihat, Ruri sama sekali tidak melepaskan tangan Fai dari genggamannya.
Dan dengan satu syarat Alif ajukan, Alif akan ikut ke New York apabila Fakhri juga ikut.
Alif tidak ingin ngenes sendirian di luar sana, ia ingin berbagi nasib itu dengan saudaranya.
Keluarga besar mengantarkan mereka sampai ke bandara dan mereka berdoa semoga Alif dan Fakhri segera menemukan tambatan hatinya.
Alif yang baru pertama kali naik pesawat itu harus mabuk, padahal pesawat belum lepas landas.
Fakhri yang duduk di sampingnya itu memijit tengkuk Alif, sementara Fai dan Ruri hanya memperhatikan seraya menggelengkan kepala.
"Harusnya tadi lo minum antimo 10 biji!" kata Fakhri yang sengaja meledek Alif dan Alif yang memikirkan perjalanan panjang itu ingin segera turun sebelum pesawat terbang.
Tetapi telat, karena pesawat akan segera lepas landas. Akhirnya Alif hanya bisa pasrah.
"Sabar, ya!" ucap Fai yang duduk di sebelah Fakhri, Alif yang merasa pusing dan tidak karuan itu hanya menganggukkan kepala.
Begitu terasa panjang perjalanan ini bagi Alif, setelah melalui 21 jam lebih penerbangan, sekarang Alif yang sudah tidak berdaya itu harus digendong oleh Fakhri.
Alif tidak lagi memiliki tenaga setelah semua isi perutnya terkuras.
Bahkan Alif tidak memikirkan untuk kembali pulang ke Jakarta, ia tidak ingin mabuk perjalanan lagi.
Fakhri hanya bisa mendengus, tetapi, ia juga merasa kasihan pada Alif yang tidak berhenti mabuk.
Sekarang, semua orang sudah dalam perjalanan menuju apartemen. Di taksi, Alif hanya bisa memejamkan mata dan terkulai lemas.
Berbeda dengan Fakhri yang menikmati perjalanannya dan sekarang ia memperhatikan kota New York yang selama ini hanya ia lihat di TV.
Sejenak, Fakhri membiarkan Alif tertidur dan tentu saja, dirinya juga merasa lelah setelah sepanjang perjalanan mengurus Alif.
Dan perjalanan ini akan menjadi cerita bagi Alif dan Fakhri.
Bersambung.
Like dan komen, jangan lupa difavoritkan juga, ya.
Vote atau Gift untuk mendukung karya ini, sampai jumpa di episode selanjutnya.
__ADS_1