DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Perbedaan Kasta


__ADS_3

Setelah beberapa menit, video itu sudah tersebar dengan judul seorang wanita menjambak gadis, diduga sebagai simpanan suami si wanita tersebut.


Dhev melihatnya karena Jimin yang mengirim link aksi jambak-jambakan itu pada Dhev.


"Astaga, Nala. Anak kaya gini enggak pantas kamu jadikan teman!" kata Dhev seraya memperhatikan video itu.


****


Selesai dengan berbelanja, Nala mengajak Ririn untuk bernostalgia, makan bakso di tempat langganannya dulu sewaktu masih SMA.


"Aku kangen banget makan di sini, ingat enggak, dulu aku selalu ditraktir sama kamu," kata Nala dengan sangat riangnya.


"Iya kamu kangen makan di sini, tapi masa iya sih, udah kaya juga masih makan di tempat kaya gini, apa karena dulu aku nraktirnya di sini jadi kamu nraktir aku di sini juga," batin Ririn seraya memperhatikan menu bakso yang berada di atas meja. Ririn tersenyum yang dipaksakan.


"Udahlah, penting makan! Ganjel perut!" kata Ririn, masih berbicara di dalam hati.


Selesai dengan berbelanja dan makan, sekarang, Nala menjemput Ken. Setelah menjemput Ken, Nala mengantar Ririn pulang lebih dulu sebelum pulang ke rumahnya.


Dan sesampainya di rumah, Nala sudah ditunggu oleh Dhev. Dhev duduk di sofa ruang tamu, menatap datar Nala.


Melihat suaminya yang sedang serius, Nala pun meminta Ken untuk masuk lebih dulu dan segera mengganti pakaiannya.


Nala meletakkan belanjaannya di sofa, lalu menyusul Dhev duduk sisi kirinya. Nala mengira kalau Dhev merajuk karena dirinya telah berbelanja banyak.


"Sayang, maaf. Tadi aku belanja agak banyak, aku traktir Ririn juga, enggak sering-sering, kok." Nala menyentuh lengan Dhev.


"Mau seberapapun kamu habiskan untuk berbelanja,itu tidak akan membuatku miskin, tapi dengar, kamu sudah menjadi istriku! Istri dari seorang CEO! Orang terpandang, orang berkelas! Jaga pergaulanmu!" kata Dhev. Pria itu pun bangun dari duduk. Meninggalkan Nala yang sedikit tersinggung dengan ucapan suaminya yang seolah mengatainya tidak berkelas.


Nala meninggalkan belanjaannya dan berjalan cepat masuk ke kamarnya. Nala tersinggung dengan ucapan Dhev.


Nala langsung menjatuhkan dirinya di ranjang, menangis karena ucapan Dhev terasa menusuk hatinya.


Baru kali ini Dhev kembali berbicara kasar dan membuat Nala teringat Dhev yang dulu waktu pertama bertemu.


Menyebalkan, selalu berbicara seenaknya sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain.


Seolah nostalgia dengan lukanya, sekarang Nala merajuk, dirinya memilih diam dan tak mau berbicara pada Dhev.


Dhev merasa kalau Nala sangat cuek, bahkan hanya menjawab iya dan tidak saat diajak berbicara.


Tiba waktu malam, Dhev menunggu Nala di kamar, tetapi yang ditunggu tak juga datang.

__ADS_1


Dhev bangun dari rebahannya, mencari ke kamar Kenzo tetapi Nala tidak ada di sana.


Dhev mengira kalau Nala ada di kamar lamanya dan benar saja, Dhev mencoba membuka pintu itu tetapi tak bisa, Nala menguncinya dari dalam.


"Sayang, buka pintunya!" kata Dhev dari balik pintu tetapi Nala semakin sakit saat mendengar suara Dhev memanggilnya sayang.


"Harusnya aku yang marah, kenapa jadi dia yang marah!" gumam Dhev.


Dan Nala sedang berbalas chat dengan Ririn. Nala hampir saja menceritakan apa yang baru saja terjadi, tetapi, Nala segera ingat kalau Ririn pernah mempertanyakan cinta Dhev pada Nala.


"Aku enggak boleh cerita, nanti Ririn semakin yakin kalau Mas Dhev enggak cinta sama aku, buktinya dia enggak pernah bilang cinta, tapi buat maki-maki aku bisa!" kata Nala seraya menatap layar ponselnya yang masih menyala.


Nala bangun dari tengkurepnya, menatap pintu, masih terdengar suara Dhev di balik sana.


Nala bangun dan menjawab, "Ada apa, malam ini aku mau tidur sendiri."


"Aku ikut, aku enggak bisa tidur kalau enggak ada kamu!" kata Dhev.


"Dulu sebelum nikah bisa, kenapa sekarang enggak bisa! Pasti bisa, emangnya enggak malu tidur sama cewek jelata!"


"Astaga, dia ngambek beneran!" gumam Dhev.


"Buka dulu pintunya, kalau ada apa-apa itu dibicarakan, bukan diam aja, kalau diam aja mana aku tau, aku ini CEO, suamimu, bukan dukun, bukan cenayang!" kata Dhev, pria itu masih berdiri dengan menyender di pintu.


"Sayang, cepat buka pintunya atau akan ku dobrak!" kata Dhev sedikit mengancam.


"Dih laki kok banyak ngomong, ya. Cerewet kalau ngomel, kalau lagi nggak ngomel dingin, diem aja kaya kulkas!" kata Nala yang sekarang sudah duduk di ranjang.


"Kalau beneran dobrak nanti seisi rumah tau kalau kami sedang ada masalah, tapi, masa iya sih dia kuat dobrak pintu ini!" kata Nala seraya memperhatikan pintu kamar.


Lalu, Nala mendengar suara Dhev yang sedang berbicara di telepon. Meminta pada Doni untuk datang dengan membawa pasukan untuk mendobrak pintu itu.


Mendengar itu Nala teringat dengan suaminya yang akan melakukan apapun untuk tujuannya.


Tidak lama kemudian, Nala membuka pintu itu dan ternyata, itu hanya bohong belaka.


Dhev sendiri meninggalkan ponselnya di kamar dan Nala kembali akan menutup pintu tetapi kaki Dhev mengganjal pintu menggunakan kakinya.


"Aduh, aduh. Kamu jadi istri gimana, sih. Masa kaki suami dijepit! Kalau junior yang dijepit mah enak!" kata Dhev.


"Apaan, sih. Orang lagi ngambek juga bahas gituan!" kata Nala, gadis itu membuka pintu dan membiarkan Dhev masuk.

__ADS_1


Nala membelakangi suaminya dan Dhev memeluknya dari belakang,


"Kamu kenapa? Ada juga harusnya aku yang marah!" kata Dhev tepat di telinga Nala.


Tak menjawab, Nala menitikkan air matanya dan jatuh mengenai tangan Dhev.


Dhev pun memutar balikkan Nala, menghapus air matanya.


"Kenapa? Katakan!" kata Dhev seraya menghapus air mata Nala.


"Kenapa kamu baik sama aku?"


"Karena kamu istriku!" Dhev mencium kening Nala.


"Kamu enggak malu, kita itu beda kasta, kamu CEO, aku anak tukang nasi goreng!" kata Nala seraya melepaskan tangan Dhev dari pipinya.


"Maafkan aku, aku bukan menyinggung soal status. tapi kamu harus tau, gerak-gerik kita sebagai orang terpandang itu bisa selalu diawasi! Bisa masuk media dan merusak reputasi!" kata Dhev seraya memeluk Nala.


"Tapi kan kamu bisa bilang baik-baik, bukan kaya gitu!" kata Nala seraya mencubit pinggang suaminya.


"Hatiku sakit!" kata Nala dengan manjanya.


"Sini aku obatin," kata Dhev seraya membuka kancing piyama Nala.


"Apaan sih, main buka-buka aja, aku masih ngambek!" kata Nala seraya kembali mengancing piyama.


"Kan aku mau lihat hati kamu, katanya sakit."


"Tau ah!" jawab Nala. Ia pergi dari kamar lamanya dan masuk ke kamar, masih mengerucutkan bibirnya.


"Kenapa lagi, kan aku udah minta maaf," kata Dhev yang menyusul Nala.


"Aku enggak tau kamu tulus apa enggak sama aku, apa jangan-jangan aku cuma dipakai sebagai pemuas nafsu kamu?" tanya Nala seraya menatap menyelidik pada Dhev.


"Astaga, setelah apa yang ku lakukan dan ku beri buat kamu masih nanya?"


Bersambung.


Jangan lupa like, komen dan difavoritkan, ya.


Terimakasih sudah membaca^^

__ADS_1


Mohon maaf banyak typo 😌😌


__ADS_2