DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Disengat Tawon


__ADS_3

Baru saja selesai menghapus make up di wajahnya, sekarang, Ririn bangun dari duduk meninggalkan meja rias, pergi ke kamar mandi dengan membawa baju ganti.


Ririn bersikap sangat santai sementara Jimin terlihat dengan wajah usilnya, pria itu sudah berbaring di ranjang memperhatikan pergerakan Ririn.


Selesai dengan mencuci wajah, menggosok gigi dan mengganti pakaian, Ririn pun keluar dari kamar mandi dan seketika berteriak.


Ririn berteriak, memanggil nama Jimin seraya menutup matanya dengan telapak tangan.


"Jimiiiiin!" Ririn sangat kesal karena Jim tidak berhenti menggodanya.


Terlihat Jimin sudah melepaskan celananya sehingga terlihat benda tegak miliknya yang sedang ia bandingkan dengan mainan Ririn.


Ririn menghentakkan kakinya.


"Lo pilih mana? Yang asli apa yang palsu?" tanya Jimin seraya melihat ke arah Ririn berdiri.


Ririn menurunkan tangannya dan naik ke ranjang berniat untuk mengambil benda yang berada di tangan Jim.


Sementara itu, di luar kamar, mamih dan papih Jimin menggelengkan kepala.


"Berantem mulu, gimana mau cepet punya anak!"


"Siapa tau habis berantem mereka bikin anak! Sabar aja!" timpal papih Jimin seraya mengajak istrinya masuk ke kamar.


Kembali ke kamar, di dalam setelah susah payah mendapatkan benda itu, sekarang Ririn membuangnya ke tempat sampah dengan kesal.


Ririn yang merajuk itu berbalik badan menatap Jim yang duduk di tepi ranjang.


"Lo mau ini kan?" tanya Ririn seraya melepaskan kancing piyamanya satu persatu.


Jim tau kalau Ririn melakukan itu karena marah. Pria itu bangun dari duduknya dan kembali menutup kancing piyama Ririn.


"Maaf, gue cuma bercanda, gue juga cuma bandingin aja, punya gue enggak kalah besar dan kuat, jangan nangis, lagian itu kan udah lo buang, enggak gue pungut lagi!" kata Jimin seraya menghapus air mata Ririn.


"Nyebelin!" kata Ririn yang tak mau menatap Jimin, gadis itu memalingkan wajahnya. Setelah itu, Ririn merasakan kalau tubuhnya melayang, ya, Jimin membopongnya, membawanya ke ranjang.


"Selamat malam!" kata Jimin, pria itu pun berbalik badan, tak mau menatap Ririn, ia ingin menenangkan juniornya.


Setelah beberapa detik keduanya saling diam, sekarang, Ririn membuka suaranya.


"Gue takut punya anak!" lirih Ririn.


Jimin yang masih membelakangi itu bertanya, "Kenapa?"

__ADS_1


"Gue takut enggak becus didik dia, gue takut jadi orang tua yang enggak bener!"


Dalam hati, Ririn membayangkan wajah kedua orang tuanya yang selama ini tak memperhatikan dan taunya memaksa, setelah Ririn tumbuh menjadi gadis yang semaunya mereka pergi meninggalkan.


Ririn meneteskan air mata.


"Kita rawat sama-sama!" timpal Jimin.


"Kita cuma nikah kontrak, gimana mau rawat sama-sama!"


Jim membalikkan badannya, memeluk Ririn dari belakang, Ririn sedikit menolak tetapi tenaga Ririn kalah dengan Jim.


"Diam!" perintah Jim dan Ririn pun menjadi diam.


"Demi anak dan orang tua ku, aku batalkan pernikahan kontrak itu, tidak ada lagi selembar kertas yang menghalangi kita!" kata Jim yang berbisik di telinga Ririn.


Setelah beberapa bulan menjalin hubungan dengan Ririn, Jim merasa senang karena rumahnya tidak lagi sepi dan ada teman bertengkar, Jim tidak merasa bosan dengan Ririn yang selalu tau apa maunya bukan hanya iya, iya, iya saja, semua akan terasa membosankan bagi Jim.


Jimin merasa seru dan menantang hidup bersama dengan Ririn.


Sekarang, Jimin membalikkan badan Ririn, keduanya saling menatap dan Jimin mengambil kesempatan saat Ririn sedang jinak-jinak merpati.


Cup!" Jim mengecup bibir Ririn seraya membuka kancing piyamanya.


Tidak ada penolakan dari Ririn dan sekarang Ririn sudah bertelanjang dada. Terlihat bra hitam yang menutupi gundukkan kembarnya.


"Biarkan kita seperti sepasang suami dan istri selayaknya, lama-lama rasa itu akan tumbuh dan kita terbiasa hidup bersama, saling menggantung dan membutuhkan!" kata Jim seraya mengusap bibir mungil Ririn.


Ririn pun mengerti maksud Jim, ia menganggukkan kepala dan memejamkan mata.


Pelan tapi pasti, sekarang keduanya sudah saling bercumbu, Ririn bukan lah gadis polos yang harus Jim ajarkan caranya bercinta, keduanya sudah mahir dalam urusan ranjang.


Malam ini, Ririn dan Jimin mulai membuatkan anak untuk orang tuanya.


****


Keesokan paginya, Ririn yang sudah rapi dan menyiapkan sarapan itu mendapatkan tatapan menyelidik dari mamihhya.


"Kenapa, Mih?" tanya Ririn.


"Leher kamu habis di sengat tawon, ya?" tanya Mamih Jimin seraya menunjuk leher Ririn yang memiliki sangat banyak tanda merah.


"Iya, tuh tawonnya!" jawab Ririn seraya menunjuk Jimin yang sedang menyeruput tehnya.

__ADS_1


Jimin dan Ririn sudah rapih di pagi hari akhir pekan, keduanya akan pergi bersama dengan keluarga Dhev.


"Enak aja!" timpal Jimin seraya mengambil cake yang di sediakan oleh Ririn.


Sementara Jimin, ia sendiri merasa perih di leher dan punggung karena terkena cakaran kuku Ririn.


Terlihat Jim masih merinding apabila teringat pertempurannya semalam.


Ririn menertawakan Jimin yang mengusap lengannya.


Hanya Ririn yang dapat mengalahkan Sang Casanova itu. Bahkan Jimin memuji Ririn.


Singkat cerita, setelah sarapan bersama, sekarang, Ririn dan Jimin sudah berada di parkiran, keduanya masuk ke mobil dan di mobil Jimin meminta ciuman pagi dari istrinya.


Cup! Ririn mengecup bibir Jim sekilas dan itu tidak cukup bagi Jim. Jim memperdalam ciuman itu dan keduanya berhenti saat mobilnya tak sengaja tersenggol dari mobil lain yang sedang parkir.


Orang tersebut turun dari mobil dan meminta maaf pada Jim, tetapi pandangannya menjadi tidak fokus saat melihat lipstik Ririn yang sudah belepotan dan sebagian sudah berpindah ke bibir Jimin.


Ririn sendiri menertawakan Jimin.


"Sudah, tidak apa, saya sedang berbaik hati pagi ini!" kata Jim yang kemudian kembali menutup kaca mobilnya.


Jimin menertawakan Ririn yang sudah belepotan. "Lihat bibir lo!" kata Jimin seraya mengarahkan kaca spion itu untuk Ririn.


"Lo juga! Lihat!" kata Ririn seraya memberikan bedaknya dan mengarahkan kacanya untuk Jimin. Setelah tertawa bersama keduanya mencari tisu dan tidak menemukan.


"Habis, belum ambil lagi!" kata Ririn seraya menatap Jim.


"Nanti kita beli di jalan!" kata Jim seraya memarkirkan mobilnya dan melaju meninggalkan parkiran apartemen.


"Itu di depan ada kang tisu!" kata Ririn seraya menunjuk tepi jalan.


Jimin pun menepikan mobilnya dan saat kaca mobil itu terbuka ternyata ada Papah Ririn yang melihat.


Papah Ririn menjadi salah paham dengan anaknya.


"Setan tuh bocah! Masih jual diri aja!" gerutu Papah Ririn seraya menerima uang parkir.


"Demi hidup enak lo ya! Bukannya pulang minta maaf sama orang tua, malah gonta-ganti cowok!" geram Papah Ririn.


Dan ternyata Ririn menyadari keberadaan papanya, tetapi ia memilih diam dan seolah tak tau, ia tak ingin orang tuanya mengacaukan semua.


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan difavoritkan, ya. Terimakasih sudah membaca.


⭐⭐⭐⭐⭐ lima jangan tertinggal 🤗


__ADS_2