
Terimakasih buat teman teman yang sudah menunggu kelanjutan kisah ini,
Di tengah pergumulan dunia melawan covid 19 saat ini author berharap kita semua tetap dalam lindungan Tuhan. Tetap ikuti arahan pemerintah untuk membantu memutuskan rantai penyebaran nya, buat teman teman yang tidak punya pilihan dan harus beraktivitas di luar rumah, tetap semangat dan berhati hati dan semoga wabah ini cepat berlalu, Amin
Setelah perjanjian perpisahan selama 3 bulan itu di sepakati oleh kedua belah pihak, Aruna dan Indra 4 hari berjalan dengan baik tanpa komunikasi. Aruna memberi tanda silang di setiap tanggal yang berhasil mereka lewati pada kalender yang tergantung di sudut rumahnya.
Namun di hari yang ke 5 mendadak indra menghubungi Aruna
"hallo"
".... "mengangkat tanpa suara seperti perjanjian dari awal
" hallo apa kau mendengar ku? "tambah Indra
" hmm" balas Aruna menandakan bahwa ia mendengar
"Aku menyerah Una, aku benar-benar menyerah ku mohon hentikan ide gila ini" dengan nada memelas
"apa kau bercanda? " bibir Aruna mulai bergetar mengeluarkan suara dengan nada terkejut,
"apa suara ku terdengar bercanda bagimu?"
__ADS_1
".... " terdiam
" aku tidak mampu begini Una, jika di ujung penyesalan ku saat ini pun kau tidak mau memaafkan dan bertahan untuk ku, aku tidak akan memaksamu aku menghormati keputusanmu. Namul 1 hal yang perlu kau ingat, bila beberapa waktu ini kau memutuskan untuk kembali aku akan sangat bahagia dan selalu menunggu mu. Rasa ku tak berubah sampai saat ini aku masih mencintaimu "
Di sebrang sana Aruna hanya terdiam dan berusaha mencerna perkataan kekasih nya itu.
" Aku tidak memintamu untuk memutuskan sekarang, tapi aku minta tolong kau pertimbangkan kembali. Jangan menghukum ku terlalu keras Una, aku mencintaimu dan aku tidak pernah meninggalkanmu" ucap Indra kemudian menutup telepon tanpa memastikan Aruna mendengar semua perkataannya..
Aruna hanya Terpaku pada posisinya sedari tadi. Tak terasa air mata mulai mengalir membasahi pipi tembem nya, ia mulai menghela nafas panjang dan berusaha menenangkan pikiran nya.
Aruna benar benar pasrah atas hubungannya dengan Indra, bila di kata tak kepikiran tentu saja itu kebohongan walau bagaimana pun mereka sudah banyak melalui waktu bersama, suka duka berjejer disana membetuk kenangan yang tak mungkin mudah untuk di buang begitu saja.
Tak jarang mereka bersapa dan bercanda ria di kolom komentar postingan masing masing sesekali mereka berbalas pesan lewat mesenger.
"Arunaaaaaa rinduuuuu "sebuah pesan yang disampaikan oleh Maranatha lewat mesenger, Aruna hanya membalasnya dengan emoji tertawa karena dia tau betul gaya bicara pria itu
" boleh aku minta no ponselmu dek? "tanya Maranatha
" 08********92 itu bang" balas Aruna tak menaruh rasa yang berbeda. Pesan itu hanya mendapat balasan emoji jempol dari Maranatha.
Sore itu ponsel Aruna berdering, kali ini no penganggil belum terdaftar di kontaknya
__ADS_1
+62*********51 itu lah no yang terlihat di layar ponsel Aruna. Dengan rasa penasaran dan senyuman kecil di wajahnya seolah dia telah menunggu panggilan itu dari tadi Aruna mengangkat
"Hallo dek" suara pria terdengar tak asing di telinga Aruna
"hallo"balas Aruna singkat namun senyuman nya semakin lebar di sebrang sini.
"sibuk dek? "
" Oh tidak terlalu bang, baru selesai masak nih" mereka mulai mengobrol ringan
"oh begitu, masak apa dirimu? "
" daun Ubi tumbuk dengan rimbang bang, lauknya ikan asin" jawab Aruna
"aku baru keluar dari kantor polisi setempat dek, ngurus berkas untuk pelamaran menjadi perangkat desa,dan sekarang menuju ke rumah " mulailah Maranatha menceritakan hari hari nya. Aruna menyimak dengan tanda tanya "mengapa dia memberitahu ku," gumamnya dalam hati.
Setiap hari Maranatha mengatakan jadwalnya pada Aruna bahkan tanpa di tanya, seolah mereka sepanjang kekasih. Aruna tidak enak hati bertanya takut menyinggung perasaan pria itu, jadi dia hanya berusaha menjadi pendengar yang bijak.
.
.
__ADS_1