
Setelah menyelesaikan tugasnya, Aruna bergegas meninggalkan ruangan itu setelah memastikan kondisi mesin itu benar benar off.
Dia kembali ke ruangan photocopy itu dengan wajah lega dan puas membawa hasil di tangan nya.
"Sudah selesai mak" bibir Aruna yang sedikit tebal dan sexy itu mulai bersuara sembari meletakkan buku yang di bawanya tadi.
"Baiklah buatkan bon nya dek" ucap Maranatha yang tampak langsung berdiri dan bersiap untuk pulang.
Ruangan kerja itu rupanya sudah di bersihkan oleh Debora saat Aruna menyelesaikan tahap akhir buku itu. Sehingga mereka tinggal mengambil tas masing masing dan langsung saja berjalan lewat pintu belakang dan Dengan cepat Debora langsung mengunci pintu itu setelah semua orang sampai di luar ruangan.
Elisa suami Debora ternyata sudah menunggu diatas sepeda motor nya yang parkir di dekat gerbang utama itu, lelaki yg juga gendut tetapi lebih tinggi itu langsung memberikan senyuman terbaik saat melihat mereka sudah keluar dari ruangan kerja itu.
"kamu pulang naik apa dek" Tuan Maranatha bersuara seketika memalingkan wajah nya yang hitam manis dan sedikit sangar menatap Aruna.
__ADS_1
"Ehmm di jemput mamak pak" jawab Aruna sambil tersenyum seadanya lantaran pria yang bertanya itu jauh lebih tua darinya jadi dia tak berani memanggil nya abang atau apalah yang lebih akrab.
"mari ku antar saja, lagipula hari sudah malam dan jemputan mu tak kunjung datang, "
Sambung Maranatha lagi menawarkan diri.
" Tak usah repot pak, sebentar lagi juga sudah datang" sahut Aruna meyakinkan lelaki itu..
"yasudahlah kalo begitu, kami duluan ya" sambung Maranatha lagi dan bergegas memasuki mobil xenia hitam miliknya di ikuti oleh teman gendut nya yg sedari tadi setia menunggu dirinya.
Selang beberapa menit kepergian Maranatha, tampak lah seorang wanita paruh baya menoleh dan menatap ke arah mereka yang tak lain adalah ibu Aruna yang sudah menunggu di depan gerbang utama tanpa mematikan mesin sepeda motor yang di kemudi nya. Mereka bergegas pulang, begitu juga dengan Debora dan suaminya.
***
__ADS_1
Aruna meletakkan tubuh nya di lantai kayu yang hanya berlapis tikar dan sprei tipis itu dengan nyaman. Rumah mereka memang sangat sederhana. Aruna adalah anak ke 2 dari 4 bersaudara yang ke empat nya adalah wanita, kakak sulung nya yang bernama Ike sudah 3 tahun merantau ke tanah jawa, dan jarang pulang ke Sumatera.
Jadi Aruna hanya tinggal ber 4 demgan ibu dan 2 orang adiknya yang sudah duduk di bangku smp.
Aruna adalah anak ke dua sekaligus anak terakhir dari mendiang suami ibunya, ayah kandung Aruna meninggal dalam kecelakaan saat dirinya berusia 1tahun 1 bulan.
Selang 2 tahun kepergian ayahnya, ibu Aruna terlibat cinta terlarang dengan seorang lelaki beristri dan melahirkan kedua adik nya.
Namun sebelum adik ke 4 nya lahir, ibu dan ayah tirinya kembali berpisah lantaran pria itu kembali ke istri nya.
Membesarkan dan menyekolahkan mereka ber 4 tak menjadi masalah bagi ibu Aruna. Dia bekerja keras untuk menafkahi keluarga nya dengan peran ganda yang dia pikul sendirian.
Tumbuh besar tanpa sosok seorang ayah membuat keluarga Aruna sedikit kacau dan berantakan. Sehari hari terdengar suara rusuh sahut menyahut dari rumah kecil itu, siapa lagi kalau bukan Aruna dan ibunya.
__ADS_1
Mereka memang selalu beradu pendapat, ibunya sosok wanita yang kuat dan tanguh membuatnya sedikit kasar seperti tanpa perasaan. Ibunya juga sosok yang otoriter, jarang memperhitungkan pendapat anak anaknya, mungkin saja keadaan yang membuatnya demikian.