Dunia Di Belahan Lain

Dunia Di Belahan Lain
Part 18


__ADS_3

.


.


Setelah menutup telepon nya, Aruna menjelaskan semua kepada Ike.


"Tetap saja walaupun kau kembali ke sana, Kau harus merahasiakan nya sampai kami memutuskan untuk pulang. Karna bagaimana pun aku tidak mau ibu akan mendengar dari orang lain bahkan dari mu sekali pun. " pinta Ike serius.


" Tapi Aturlah secepatnya, Ninta akan semakin besar, dia butuh Akta kelahiran dan semua berkas berkas lain Dia butuh kejelasan. Dan dia butuh pengakuan dari semua keluarga" kerus Aruna menatap Ike tajam.


"Lagi pula mana ada durian yang bisa di sembunyikan. Hanya persoalan waktu, cepat atau lambat tidak akan mengubah hasilnya." imbuh Aruna lagi.


"Ya.., kau memang benar" Sahut ike pasrah.


"Yasudah kita akan ke arah taman dulu untuk ber selfi sebelum pulang. Ninta harus kita tingal di kamar dengan Adi. Setelah itu kita akan berangkat ke Depok".tambahnya


"Baiklah " Jawab Aruna singkat.


Setelah selesai menikmati minuman dingin untuk menghilangkan dahaganya, mereka mulai berjalan santai di bawah pohon pohon sekitar Tugu Monumen Nasional,


Sesekali berselfi di kursi taman itu.


Puas sudah rasanya berphoto dengan pemandangan yang indah nan sejuk itu. Aruna yang tengah menggendong Ninta meminta untuk kembali ke penginapan untuk bersiap takutnya nanti kehabisan waktu.


Aruna dan ike berangkat menggunakan Kereta api Dari kota tua Jakarta menuju Kota Depok. Perjalanan yang melelahkan lantaran mereka tak mendapat kursi penumpang. Tak hanya berdiri karna penumpang padat mereka juga harus berdesak desakan. Semakin sering kreta itu berhenti di stasiun semakin longgar juga lah gerbong kereta yang mereka tumpangi.


Hari sudah sore saat mereka tiba di kediaman paman Jesaya. Aruna langsung bergegas ke kamar kakak sepupu nya untuk berkemas sedangkan Ike bercerita dengan paman Jesaya dan bibi seni di ruang tamu.

__ADS_1


"Kau pulang saja nak, hari sudah hampir malam biar paman saja yang mengantar Aruna ke Ciputat " pinta Paman Jesaya


" Apakah tidak merepotkan mu paman? "


" Tidak, nanti sehabis makan malam, paman akan mengantarnya"


"Makan lah dulu sebelum pulang nak" perintah bibi seni pada ike.


Soal makan tak usah di suruh 2 kali. Ike tersenyum lebar dan bergegas mengambil makanan di dapur.


Ike meninggalkan Aruna di rumah mewah paman Jesaya dan kembali ke Keluarga kecil nya.


Paman Jesaya mengantar Aruna dengan sepeda motor matic nya sehingga tas milik Gadis itu bisa di letak di depan.


Angin malam menemani mereka sepanjang perjalanan.


Tok.. Tok. Tok Aruna mengetuk pintu kayu itu dari luar. Langsung saja di buka oleh bibi Sumi istri paman Era.


Jesaya membantu Aruna mengangkat tas miliknya.


Aruna berkeliling hendak menyalim semua orang penghuni rumah itu mulai dari paman Era yang sedang berdiri dan bibi Sumi.


Sampai ke hadapan neneknya.


"Siapa yang mengantarmu? "


" Paman Jesaya nek" Aruna menyodorkan telapak tangan nya hendak bersalam.

__ADS_1


Mendengar Putra kesayangan nya yang direpotkan wajah Nenek tua itu berubah tidak senang


"Merepotkan saja " ucap nya lirih sembari menerima tangan Aruna.


Belum lagi punggung tangan nya menyentuh kening Aruna, ia menariknya saat itu juga dan membuang pandangan nya dari Wajah Aruna


Mata Aruna berkaca kaca saat itu juga. Tangan nya gemetar. Tak henti henti kelopak matanya lagi lagi harus memeras cairan bening itu. Perasaan nya lagi lagi tidak enak.


Ia bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dengan perasaan sangat kacau.


Entah lah saat itu Aruna Benar benar kacau.


Tak ada senyuman yang terpancar dari wajahnya. Yang ia rasakan hanya ingin secepatnya keluar dari situasi itu.


Disisi lain Maranatha yang selalu berusaha membunuh perasaan nya terhadap Aruna.


Namun ia masih sering melirik Akun pribadi Milik Aruna kala ia merindukan Sosok gadis itu.


.


.


Terimakasih masih mengikuti kisah Aruna dan Maranatha ya teman teman sekalian..


Mohon like komen dan masukan nya.


Salam manis.

__ADS_1


. Author.


__ADS_2