
.
.
Hari demi hari Aruna lewati dengan beban berat di pundak nya. Tak ada hari yang indah dalam perjalanan nya.
Pagi berangkat kerja, sore pulang kerja. Sampai di kost kost an hanya melamun di balkon lantai 3 gedung itu.
Tiada malam tanpa air mata bagi Aruna. Tak henti henti persoalan Ike menghantuinya.
Bagaimana cara menjelaskan nya?
Bagaimana bila orang tua tunggal nya menolak Adi dan Ninta?
Bagaimana bila Ike akan di usir?
Bagaimana bila sebelum Mereka menjelaskan Ibunya akan mendengar dari orang lain?
Yang paling menghantui Aruna adalah bagaimana bila keluarga besar dari mendiang ayahnya tau. Sejak ayah Aruna meninggal dan ibunya menikah lagi dengan pria lain dan melahirkan kedua saudarinya itu tidak ada 1 orang pun dari keluarga itu yang peduli terhadap mereka bahkan setelah rumah tangga ibunya itu hancur lagi.
__ADS_1
Tak ada yang peduli apa mereka punya biaya sekolah. Apa mereka masih punya beras untuk di masak besok. Apa mereka punya pakaian untuk di gunakan besok padahal latar belakang keluarga ayahnya termasuk menengah ke atas.
Ayah Aruna memiliki 2 orang saudara dan 4 orang saudari kandung. Tapi sampai Aruna kini bekerja bisa di hitung dengan jari berapa kali keluarga itu mengunjungi nya. Tidak lebih hanya untuk memastikan mereka masih hidup dan bernafas saja.
Keluarga besar ayah Aruna enggan membantu dalam hal materi dengan alasan takut yang terbantu malah saudari tirinya.
Tapi mereka ber 4 berhasil di besarkan dan di sekolahkan oleh wanita yang sangat di benci keluarga ayahnya itu.
Sekarang bagaimana bila mereka mengetahui hal yang menimpa Ike. Sudah bisa di tebak orang yang paling di salahkan dan di pojokkan adalah wanita malang itu sendiri.
Pasti akan banyak cibiran yang menyakitkan hati dari bibi dan paman nya. Sudah pasti dan sudah di jamin.
Hingga malam itu tiba. Saat Aruna sedang duduk menggantungkan kakinya di balkon menatap ke bawah dengan tatapan kosong. Tiba tiba dering ponsel nya memecahkan keheningan malam itu
"Hallo mak, " sapa Aruna karna yang menelepon itu adalah ibunya.
" Katakan apa yang terjadi, apa yang berusaha kalian tutupi dariku" suara dari ujung sana terdengar sangat menyedihkan dan menyayat hati mengingat ibunya adalah sosok yang kasar dalam tutur kata dan luar biasa cerewet maka nada bicara nya saat itu sudah bisa menggambarkan hancurnya perasaan nya.
"Apa yang terjadi? " Aruna balik bertanya berusaha menutupi perasaannya.
__ADS_1
" Tadi siang Ike menelepon ku, Dia bilang ingin bicara serius dengan ku tapi saat itu aku sedang bekerja di kebun kopi jadi kami sepakat menunggu nanti sore. Tapi sampai saat ini dia tak menelepon ku bahkan mengabaikan semua panggilan ku. Mengapa Dia begini? Apa yang tidak aku ketahui, apa aku berbuat kesalahan? Apa dia kira aku akan meminta uang?
Tolong katakan padanya untuk mengangkat telepon ku, aku tidak meminta uang pada nya" jelas wanita paruh baya itu hampir menangis
Dannnn... Bbbaaarrrr hati Aruna bagai kaca jatuh ke batu hancur tak berbentuk.
Tangisan nya pecah hingga tersedu sedu bahkan bibirnya tak sanggup berucap.
Mendengar putri nya menangis wanita di ujung telepon itu juga jadi ikut menangis
Hikkkkss hikkkss hikkss
"Ku mohon mak, tenang lah dulu. " Aruna berusaha mengambil nafas untuk bercerita.
" Sebenarnya Ike sudah punya anak mak. Saat aku gelisah menunggu nya di Depok, dia sedang berjuang untuk melahirkan putrinya" suara Aruna memudar dalam isakkan nya.
"Hhaah? Punya anak katamu? Terakhir kami bertemu di Ciputat dia tidak mengatakan apa pun, dia baik baik saja bagaimana sekarang punya anak? Tidak mungkin itu" ibunya sedikit meleceh karna tak percaya.
Mendengar reaksi itu Aruna semakin terluka hingga tangan nya bergetar kepala nya terasa panas seolah hendak meletus.
__ADS_1