
.
.
Aruna tak menyangka akan menginap jadi tak ada persiapan apa pun. Bahkan peralatan mandi pun.
Sebenarnya dia risih bila harus tidur dengan seragam kerja hitam putih nya. Tapi apa mau di kata, semua serba mendadak dan di luar dugaan.
Aruna duduk di ujung ranjang menatap pantulan dirinya di kaca. Kala itu Maranatha sedang mandi.
Aruna menatap wajah nya sendiri dengan pandangan kosong. Pikiran nya melayang.
Apa yang di lakukan Maranatha tadi padanya sangat manis dan lembut saat dia menolak lelaki itu bahkan tak memaksa nya. Berbeda dengan saat ia melakukannya dengan Indra. Semua serba terpaksa, belum lagi mood nya bagus kalo Indra meminta tak bisa di tolak. Itu membuat nya bosan dan kesal.
"Apa yang kau lamunkan sayang? " tiba tiba suara Maranatha terdengar berdiri di ujung kasur sebelah sini mengacau lamunan nya.
" Ah.. Tidak ada bang" Aruna salah tingkah.
"Apa kau terkejut? Kalau kau belum siap kita akan coba lain kali." Maranatha tersenyum dari belakang Aruna. Mereka beradu pandang lewat pantulan kaca. Aruna menyelipkan rambutnya ke kuping yang sebenarnya tidak ada yang terjatuh, ia terlihat malu. Wajahnya memerah dan menunduk.
Maranatha merangkak ke atas ranjang dan mengatur posisi menyandar di kepala ranjang dan meluruskan kakinya menatap ke arah Aruna.
"Ayo beristirahat lah, besok kau bekerja kan? Ajak Maranatha
__ADS_1
"Ah.. Aku akan cuci muka bang" balas Aruna bergegas masuk kamar mandi tak menunggu jawaban Maranatha. Pria itu terkekeh melihat wanita nya salah tingkah.
"Pakai saja alat mandi punya ku sayang " teriak Maranatha menggoda Aruna dari ranjang.
Di dalam kamar mandi Aruna mengaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia bingung bila ia mandi, apa yang akan ia kenakan?
" Haduhh bagaimana ini? Masa iya aku tidur dengan seragam? Tapi kan ngga lucu aku tidur tak mengunakan busana? " gumam Aruna tak tau harus berbuat apa.
Aruna membersihkan diri nya dan keluar dari kamar mandi dengan seragam nya seperti tadi.
Dengan rasa canggung ia mengantungkan Kembali handuk yang dia gunakan tadi.
" Kemarilah, istirahat " ajak Maranatha yang sudah rebahan di ranjang.
Setelah ia mengatur posisi rebahan yang nyaman Aruna menoleh wajahnya nya pada Maranatha "Selamat tidur" ucap nya tersenyum sembari membalikkan badan nya membelakangi Maranatha. Ia berusaha memejamkan matanya untuk beristirahat.
Maranatha berguling mendekati tubuh Aruna dan melingkarkan tangan nya di pinggang Aruna dari luar selimut. Mata gadis itu melotot kaget jantung nya kembali berdebar kencang tak bersuara.
"Kenapa begitu jauh? Aku masih merindukanmu Aruna. Aku ingin memeluk mu sampai pagi" bisik Maranatha di telinga nya, langsung saja matanya terpejam menikmati geli dari bisikan tersebut.
"Apa kau masi perawan sayang? " tanya Maranatha lancang.
" Kalau iya kenapa? Kalau tidak kenapa? " bibir Aruna mulai bersuara.
__ADS_1
" Kalau iya, aku lelaki yang beruntung. Kalau tidak juga aku sangat beruntung mendapatkan mu! Sahut Maranatha mencium pipi Aruna.
Aruna tersenyum mendengar nya. "Sayang nya sudah tidak"
"Aku masih beruntung mendapatkan mu" bisik Maranatha berusaha menarik lengan Aruna untuk berbalik badan menghadap padanya. Saat mereka sudah berhadapan Bibir itu menempel dengan hangat dan saling melu*at. Lama mereka saling berbalas lidah, Maranatha beranjak pelan menindih tubuh Aruna tak melepaskan bibirnya.
Tangan Aruna menempel di dada pria itu, matanya terpejam perasaan nya hanyut terbawa suasana. Sedangkan tangan Maranatha mulai membuka kancing kemeja Aruna saru per satu.
Tiba giliran kancing ke 3 tangan Aruna menahan nya dan melepaskan ciuman mereka. "Jangan" bisik nya hampir tak terdengar karna nafas nya terburu.
Maranatha menghentikan aksi tangan nya dan kembali ******* bibir sexy yang mebuatnya candu, Maranatha mencumbu leher Aruna hinga meninggalkan bekas merah disana.
Aruna semakin bergairah dibuatnya, tak pernah nafsunya di pancing sampai segitunya.
Bahasa tubuhnya tak bisa berbohong ia juga menginginkan itu, desahan desahan kecil mulai keluar dari bibir Aruna saat Maranatha bermain di area belakang telinga nya.
Tubuhnya bergetar mendapat serangan fajar, tangan Maranatha mulai meremas remas dada sekal milik aruna dari luar kemeja, wajah Maranatha mulai turun ingin mencumbu belahan dada mulus itu.
"Sampai sini aja ya" bisik Aruna menunjukkan dadanya. Senyum Maranatha melebar melihat goyahnya pertahanan pujaan nya yang malu malu kucing. Ia hanya mengangguk dan segera melucuti kancing kemeja putih itu, lanjut tangan nya membantu membuka tangtop biru dongker yang di kenakan Aruna saat itu. Tak lupa ia melepaskan pengait bra nya sambil memciumi bibir Aruna dengan lembut..
.
.
__ADS_1