
.
.
Sepanjang hari itu Maranatha sangat semangat menjalani pekerjaan nya yang super banyak dan menguras kalori, tidak beristirahat semalaman full tidak membuat matanya mengantuk.. Senyuman berseri seri terlihat di wajahnya.
Om.. Sadar usia om.
Disisi lain Aruna juga bekerja dengan perasaan berbeda dari yang sebelumnya. Seperti baru punya tujuan hidup. Saat itu Aruna belum berambisi memiliki Maranatha. Yang dia tau dia hanya nyaman berdekatan dengan Pria beristri itu.
Setelah kejadian yang manis itu mereka jadi lebih akrab, jarak yang semula ada kian memudar. Rasa canggung juga sudah hilang. Ketergantungan komunikasi mulai terasa, setiap ada kesempatan dan waktu luang mereka menghabiskannya untuk bertelepon.
Aruna mulai stalking akun pribadi Maranatha. Satu per satu postingan itu di lihat Aruna dengan Seksama, sampai ke komentarnya semua di baca pelan oleh Aruna.
Hanya ada satu dua photo kebersamaan Maranatha dan Elmi. Dia juga tertarik dan mulai mengkepoi akun Elmi, ya.. Wanita yang beruntung pikirnya. Hidupnya glamour tak kekurangan.
Elmi juga terlihat jarang mempost kebersamaan mereka.
Tanpa di minta setiap saat Maranatha memberi kabar akan aktivitas nya. Aruna mengikuti alurnya dan mengingatkan segala kebutuhan pria itu supaya tidak ada yang terlupa.
Mulai dari hal kecil sampai ke hal besar.
Jangan lupa makan, banyak minum air putih, hati hati berkendara, bla bla bla udah kek cinta monyet orang ini lah.
Tanpa Aruna sadari, perhatian perhatian kecilnya itu sangat berarti untuk seorang Maranatha.
Sama seperti ucapan ucapan kecil Maranatha berdampak positif bagi seorang Aruna.
Mereka benar benar saling mengisi hal yang tidak mereka miliki.
Off minggu ini mereka ingin bertemu lagi.
__ADS_1
Tak banyak tempat yang bisa mereka kunjungi untuk kondisi seperti ini.
Aruna seorang gadis, Maranatha lelaki beristri. Apalagi belakangan ini lagi booming istilah "main tubang" atau apa lah sejenisnya.
Mereka pasti menjadi pusat perhatian. Belum lagi status Maranatha sebagai pemimpin dan luasnya pergaulan nya. Sangat beresiko bila orang lain melihat mereka berkeliaran.
Jadi mereka memutuskan untuk masuk ke penginapan kelas menengah.
Saat di mobil pun Maranatha tampak tidak sabar lagi melepas rindu. Berkali-kali ia mer**as paha besar Aruna. Gadis itu hanya tersenyum diperlakukan demikian.
Selesai urusan dengan pihak penginapan. Mereka segera mengunci pintu dan langsung berpelukan erat. "Aku sangat merindukanmu" lirih Maranatha
"Me too" Aruna mengencangkan perlukan nya di tubuh pria itu. Perut Maranatha yang sedikit buncit membuat nya nyaman saat di peluk.
Maranatha melepaskan pelukan nya lantas melahap bibir Aruna rakus. Aruna mengikuti irama ciuman itu dan melingkarkan lenganya di leher Maranatha.
Tangan Maranatha mulai liar meraba raba, menjelajahi setiap inci tubuh Aruna.
Tangan Aruna mulai memegangi pipi dan kepala Maranatha tak melepaskan perpaduan bibir mereka.
Matanya merem melek menikmati permainan jemari Maranatha di dadanya
Maranatha menuntun Aruna mundur ke sisi ranjang dan mulai melucuti pakaian nya satu per satu. Hingga tak tersisa sehelai pun.
Sesekali ia melu*at bibir Aruna dan merebahkan gadis itu supaya ia leluasa memberi tanda hak milik di setiap inci tubuh itu.
Desahan Aruna tak tertahan lagi. Tubuhnya menggeliat bagai cacing kepanasan mendapati serangan Maranatha.
"Aarrggghhh " desir nya saat Maranatha menggigit pelan klis**ris nya. Jemarinya menjambak rambut cepak Maranatha.
Merasa puas mempermainkan desa*an Aruna. Maranatha bangkit dan rebahan di sisi Aruna. Ia memegangi punya nya dan memberi kode pada Aruna untuk mempermainkan nya balik.
__ADS_1
Dengan Asmara yang terbakar gadis itu bangkit dan memulai permainan lidah disana.
Sesuai dengan bulu tangannya yang lebat. Gadis ini juga pantang di pancing.
Maranatha menatap Gadis yang asik bermain tongkat coklat miliknya dengan gemas, seperti buaya kelaparan.
"Oowwhh.. Kemari sayang.. Aku tidak tahan lagi " pinta Maranatha menarik lengan Aruna dan langsung menimpanya.
Dengan ciuman mesra si tongkat coklat ludes tak terlihat lagi. " Oowh... Ahhh.. " desah Aruna sesekali mengigit bibir bawahnya.
Maranatha mengayun dengan baik, keringat bercucuran di tubuh mereka. Pandangan Maranatha tak pernah meninggalkan Aruna.
Tak terhitung lagi jumlah memar memerah di bukit kenyal Aruna akibat ulah Maranatha.
"Apa kau sudah siap baby,, arrrhhhgg,, kita bisa bersamaan" teriak Maranatha mempercepat ayunan nya.
Aruna mengerang panjang. Sebelum akhirnya terkulai lemas di bawah Maranatha.
"huh.. Huhh. Huh.. " nafas mereka tersedak sedak kemudian bertatap mata mereka tertawa malu bersama.
.
.
Itu siang hari lo ya..
Aduhh gerah om..
Jangan lupa like, komen dan vote nya ya teman teman.
Terimakasih
__ADS_1