
Karna Aruna memiliki jiwa sedikit tomboy dan memang lebih nyaman baginya berpakaian selayaknya lelaki jadi dirinya tidak punya koleksi rok, Aruna setiap hari menggunakan dress nya yg seadanya secara bergantian..
Kebetulan hari ini Dia menggunakan dres perpaduan warna hijau dan biru dengan rambut kucir 1 kebelakang, membuat nya terlihat keibuan,
Bagian dadanya tampak sedikit lebih besar daripada aslinya karna menggunakan bra dengan kawat, model dress nya di bagian dada sih biasa saja, namun dress yg hanya sepanjang atas lutut itu nyaris memperlihatkan kedua paha mulusnya yg padat dan sexy
Walaupun usianya masih belum genap 20 tahun dengan postur tubuh sedikit berisi membuat orang lain sering mengira usianya di atas 24 tahun.
Orang lain memang sering salah menebak usianya.
Aruna mondar-mandir kesana kemari membantu Debora mengerjakan pekerjaannya, sedangkan 2 orang rekannya sudah berpamitan untuk pulang duluan karna yang memegang mesin memang hanya Debora Dan Aruna saja.
__ADS_1
Sesekali Aruna ikut terkekeh kecil saat Maranatha saling melontarkan candaan dengan Debora.
Tanpa menghentikan pekerjaannya, kadang Aruna menyahuti pertanyaan yang di layangkan Tuan hitam manis itu padanya.
Dia terlihat sibuk, kadang dia mondar-mandir memegang kertas, kadang dia jongkok mengeluarkan isi dari steling yg di susun mengelilingi 2 buah mesin photocopy dan berhasil membentuk ruangan kecil.
Tentu saja sesekali Maranatha dan Aruna saling menatap satu sama lain.
Tak lama kemudian, masuk lagi seorang lelaki berbadan hampir sama dengan Maranatha hanya sedikit lebih gemuk dan berisi melewati pintu belakang yang sebelumnya dilewati oleh Tuan Maranatha, Rupanya mereka sudah berjanji untuk bertemu disana dan pulang bersama nantinya.
Lembar demi lembar di susun sesuai halaman dan urutan nya.
__ADS_1
Trap..Trap..Trap.. Suara Hekter meja mengisi ruangan yang sudah tampak sepi itu.
Satu.. Dua..Tiga.. Dan selanjutnya sampai semuanya selesai di jilid oleh Debora.
Saat selesai meletakkan jilitan yang terakhir, Debora langsung kembali duduk dan meminta Aruna memotong pinggiran hasil jilitan yg sudah berbentuk buku itu dengan mesin potong yang berada di percetakan belakang.
Karna Aruna memang menikmati pekerjaannya saat di tugaskan di bagian belakang, membuatnya mampu mengoprasikan beberapa mesin yang ada di sana, salah satu mesin yang bisa dia gunakan dengan baik adalah mesin potong kertas yang berukuran kira kira 3 x 10 meter dengan berat kurang lebih 1 ton.
Mesin itu sederhana dengan tombol seadanya memudahkan Aruna untuk mampu mengoprasikan nya dengan lihai. Bahkan Dia kerap mengantikan rekan kerjanya menggunakan mesin itu bila ada yang tidak masuk atau sedang beristirahat.
Aruna satu satunya wanita yang mau bermain dengan alat berbahaya itu, Dia juga tak begitu bergantung pada lelaki untuk hal angkat mengangkat barang, ketidakhadiran lelaki di keluarga nya membuat dia terlatih melakukan semuanya sendiri.
__ADS_1
"oke"jawab Aruna singkat sembari mengangkat tumpukan buku yang harus ia rapikan itu dan berjalan meninggalkan mereka lewat pintu belakang, sesampainya di sana langsung Aruna menyalahkan mesin besar itu sampai terdengar suara seperti gemuruh.
Bam,,, bam,,, begitu suara yang di keluarkan oleh mesin itu saat pisau besar nya terjatuh dan mengikis ujung tumpukan buku yang sudah Aruna susun di bawahnya, karna mesin itu besar jadi 3 x putaran saja sudah membuat buku itu terlihat rapi dan enak di pandang.