
.
.
Tak ada kata hiburan yang sanggup Aruna ucapkan untuk meringankan perasaan ibunya
Dia hanya menangis tak henti henti.
"Aku kan menelepon nya sekarang dan meminta dia untuk menghubungi mu saat ini juga mak. Tenang lah dulu " bujuk Aruna menghela nafasnya.
Ibunya bahkan tak memberi jawaban dan memutuskan sambungan telepon itu begitu saja.
" Hallo.. Hiks hiks... " suara Aruna sedikit lirih hampir kehilangan nafas menyapa Ike
" Kau kenapa? " tanya Ike heran dan sedikit santai
" Kenapa katamu? Ibu sudah tau semuanya dan kau hanya tanya kenapa dengan ku??
Harusnya aku yang bertanya kenapa dengan mu.!!
Kau bilang ingin menjelaskan langsung bertatap muka, tapi mengapa kau membuat hati nya semakin bertanya tanya. Kau bahkan bilang ingin bicara serius dengannya tapi kau mengabaikan nya hingga malam!! Apa yang kau pikirkan??
Sebulan sudah setelah aku pulang, berapa lama lagi kau ingin menyimpannya??
Apa kau tau dia bilang apa barusan?? Apa kau ingin tau?? Hikss Hikss
Bilang pada Ike untuk mengangkat telepon ku, aku bukan ingin meminta uang padanya. Itu yang dia ucapkan apa kau puas?? Kau sudah puas membuat nya mengemis hanya untuk mendengar suaramu??? Hah?? " tak henti henti Aruna membentak Ike
__ADS_1
" Iya tadi aku ingin menjelaskan padanya saat Ninta tidur tapi Sore nya sampai sekarang Ninta sangat rewel badan nya sedikit hangat jadi aku hanya terfokus padanya.
"Hubungi dia sekarang juga. Jangan membuat nya semakin terpuruk. Berbicara lah sebaik mungkin jangan sampai kau membuat nya tidak ingin hidup lagi. Kau dan aku sudah mampu mencari nafkah, menjadi tukang cuci piring pun kita sudah sanggup setidaknya untuk diri sendiri. Tapi kau pikir bagaimana nasib Sherli Dan Uni bila ibu tiada lagi. " ketus Aruna dan tuuut telepon itu terputus.
Malam itu adalah malam panjang bagi Aruna.
Tak henti henti air matanya berderai hingga kelopak mata itu terlihat lembam dan merah.
Dadanya sesak. Kekecewaan terlihat jelas di wajahnya yang berantakan.
Saat 1 kekecewaan dia tangisi, saat itu juga kekecewaan yang lain akan muncul dan menumpuk bahkan kekecewaan yang sudah lama ia lupakan juga akan kembali menyerang nya.
Itulah yang membuat nya selalu rendah diri.
Apakah kalian percaya penyakit psikologi itu ada dan nyata?
Tidak punya percaya diri. Tidak mampu berbaur dengan orang lain. Penyendiri, psimis, pendiam dan tertutup. Ya.. Itulah yang dialami Aruna sejak dulu.
Setelah lelah menangis Aruna kembali ke kamar dan berusaha untuk memejamkan matanya alhasil air mata nya kembali mengalir bagai mata air yang punya stok banyak tapi kali ini tidak bersuara takut membangunkan teman yang lain.
Tak ingin pekerjaannya terganggu Aruna berusaha terlihat fresh dan baik baik saja, karna pekerjaannya berurusan langsung dengan custumer. Ia tidak ingin mengecewakan custumer.
Ia menutup sebam di matanya dengan polesan make up..
Saat jam brek tiba, entah apa yang membuatnya ingin sekali menghubungi Maranatha. Biasanya ia akan bolak balik bertanya dalam hati kala ingin menghubungi pria itu
Telpon.. Tidak.. Telpon... Tidak.. Begitu biasanya debat hatinya.
__ADS_1
Namun siang itu hatinya penuh keyakinan untuk menelepon Maranatha.
Tuuut. Tuuut
"Hallo"
"Hallo bang bagaimana kabar mu? " tanya nya dengan senyuman puas lantaran panggilan nya di respon cepat.
" Kabar baik adeku, bagaimana dengan mu? " suara Maranatha juga menandakan senang
" Kapan abang ada waktu ke Medan? Kemari lah aku ingin sekali bercerita padamu" sambung Aruna to the point pada tujuannya dengan suara harapan.
"Hah dimedan? Kapan dirimu kembali?? Mengapa tak memberi kabar,? Siapa yang menjemput mu?" tanya Maranatha terkejut pujaan nya pulang tak berberita.
" Hampir sebulan lah bang"
"Hahh..,?? Sebulan tapi kau baru mengatakan nya padaku hari ini?"
"hehehe"
"Ya sudah aku akan datang besok. Kau punya waktu? "
" Kebetulan besok jadwal ku off bang,, ku tunggu kabar mu ya" balas Aruna senang tanpa tau apa yang akan terjadi dan apa yang sedang ia lakukan.
.
.
__ADS_1