
.
.
Hari yang di janjikan telah tiba. Aruna sengaja tidak menyetel alarm untuk bangun pagi lantaran hari itu adalah jadwal off nya.
Gadis itu masih terlihat nyenyak dalam tidur nya walaupun jam sudah menunjukkan pukul 10:00.
Di Ujung sana Maranatha masih memutar otak nya memikirkan pertemuan nya dengan Aruna. Ia sudah memikirkan nya sejak semalam membentuk janji.
Dia seorang lelaki normal, dan dia sadar akan rasanya pada gadis yang sudah berharap dengan janji pertemuan mereka.
Yang ada di benak Maranatha adalah bagaimana bila Dia tak kuasa menahan diri saat di samping Aruna nanti. Dia paham betul bagaimana dirinya.
Soal penolakan Maranatha tidak sangsi sedikit pun pada kemampuannya yang menjadi beban nya adalah posisi dan situasi nya saat ini walaupun tidak harmonis tetap saja dia berstatuskan seorang suami.
Maranatha memang sosok lelaki yang selalu berpikir jauh sebelum bertindak. Bila hari ini belum mendapatkan keputusan ia akan memikirkan nya lagi besok sampai hatinya benar benar yakin terhadap tindakannya.
Belum juga mendapat jawaban yang akurat dari hati nya, Maranatha membatalkan janji nya dengan Aruna agar bisa memikirkan nya 1 malam lagi. Tentu saja yang di dalihkan adalah pekerjaan nya
Ya.. Gadis itu tampak tidak curiga sama sekali. Dia paham pria itu adalah orang sibuk jadi Aruna tak mempermasalahkan nya.
Karna pertemuan batal. Aruna memutuskan untuk menghabiskan jadwal off nya untuk berenang.
__ADS_1
Malam harinya sebelum istirahat Maranatha mengirim pesan pada Aruna.
"Besok aku akan datang "
" Aku pulang malam besok bang jam 22:30" balas Aruna
"Ya tidak masalah aku akan menunggu mu"
"Hmm.. Baiklah " balas Aruna mulai berfikir apa yang bisa di kerjakan malam hari. Soalnya Aruna berencana mengajak Maranatha untuk makan es krim di taman mall dekat kost nya agar nyaman bercerita. Tak sedikit pun gadis itu berfikir untuk hal lain.
Esoknya Aruna bekerja dengan perasaan yang berbeda. Saat jam brek dia mendapat pesan
"Aku sudah setengah perjalanan menuju Medan. Menunggu kau pulang aku akan ke doorsmere dulu"
Senyum melebar di wajah Aruna saat itu juga segera ia balas "Oke"
Ya... Jam kerja sudah berakhir, segera Aruna mengecek pesan masuk. Benar saja sudah 3 pesan yang menunggu untuk di balas dari siapa lagi kalau bukan Maranatha si hitam manis.
"Sayang aku sudah tiba"
"Saat kau keluar nanti beri kabar, aku menunggu mu di kedai kopi sebelah pos parkiran ya"
"Sayang, aku merindukanmu "
__ADS_1
Deg.. Deg.. Deg.. Jantung Aruna berdetak membuat nya lupa diri. Senyuman yang sudah lama tak terpancar di wajah nya mampu memberi bukti bahwa ia sedang bahagia. Padahal yang mengirimnya adalah pria yang pantas jadi ayah untuk nya. Dan Lagi pula itu baru pesan lo ya..
Ternyata benar ya bahagia itu sederhana..
Begitu pintu karyawan terbuka Aruna orang pertama yang keluar dan berjalan tergesa gesa seperti nya sangat buru buru.
Saat berjalan segera ia menelepon Maranatha
"Hallo Abang dimana? aku sudah keluar " tanya Aruna melirik kesana kemari mencari Maranatha.
" Aku akan keluar tenda, apa kau melihat aku melambai? " balas Maranatha lagi tampak dia sedang melambai di sebrang jalan.
Setelah mereka berjumpa mata telpon itu di akhir.
Hati Aruna luar biasa deg deg kan tapi juga bahagia melihat Maranatha menyebrang sedikit berlari.
Benar saja Maranatha terlihat tak kuasa ingin memeluk Aruna saat itu juga. Namun matanya memperhatikan sekeliling nya masih sangat ramai karyawan yang berjalan akhirnya ia mengurungkan niat nya tak ingin Wanita nya itu di padang rendah oleh orang lain. Jadi dia hanya mengenggam tangan kanan Aruna dengan Erat sekali tampak dia sangat rindu. Dan Aruna sendiri menikmati nya sambil tersenyum.
"Abang parkir dimana? " mulai Aruna karna Maranatha hanya fokus menatap nya dan itu membuatnya sedikit gugup.
" Oh.. Di sana" Jawab Maranatha menunjuk ke arah mobil hitam yang parkir dekat mereka.
Mereka berjalan menuju mobil itu dan langsung saja mobil bergerak.
__ADS_1
.
.