
.
.
Malam itu Aruna terjaga menemani Ninta.
Ninta tidak rewel tapi matanya terbuka lebar walaupun jam sudah menunjukkan tengah malam.
Sesekali Ninta tertawa menerima gelitikan dari bibinya.
Insting keibuan Aruna keluar saat bersama Ninta.
Aruna memang sangat suka dengan anak kecil bahkan untuk memandikan dan memakaikan pakaian nya juga Aruna tak kerepotan.
Adi dan Ike tidur dengan nyenyak.
Entah jam berapa Ia mulai tertidur Aruna pun tak sadar.
Aruna terbangun sekitar pukul 07:00 pagi, Tapi entah jam berapa Adi terbangun ia bahkan sudah menyeduh kopi hitam dan duduk di depan meja hias.
Aruna memiringkan tubuhnya menatap ke arah Ninta yang ternyata juga sudah bangun.
"Wau.. Kau bangun pagi sekali sayang" sapa Aruna mencubit pelan hidung Ninta
"Iya, dia memang begitu dek, tapi lihatlah ibunya bahkan tidur tidak bergerak seperti karbau" ucap Adi menatap ke arah Ike yang masih terlelap.
"kau bahkan lebih telaten dalam mengurus bayi, kau lebih cocok menjadi ibu daripada dia" tambah Adi lagi terlihat kesal.
"Kau harus menasihati nya pelan pelan bang," Aruna juga melirik ke arah Ike
__ADS_1
.
Segera Aruna menguncang tubuk kakaknya
"Udah siang hei.. Bangun lah. Ninta sudah haus bangunlah"
Ike mengucek matanya dengan tangan sambil meregangkan badannya.
"Good morning" sapa ike mulai duduk
"apa kalian sudah lama terbangun?
Hei gadis kecil ku, kau sudah haus sayang? " ike langsung saja mencium pipi Ninta.
" Mandilah, setelah kau siap aku akan memandikan Ninta dan bersiap
"Aruna ingin liat liat ke monas, apa kau ikut sayang? " tanya Ike pada suaminya sembari memberi asi pada Ninta.
" Kalian saja ya, aku akan membereskan barang barang kita "
.
Setelah Aruna keluar dari kamar mandi, Ike memandikan Ninta, tak terdengar suara tangisan bayi itu sepertinya dia sangat menikmati air hangat. Dia hanya mengoceh sesekali tertawa.
Mereka berangkat menuju monas dengan taxi dan turun tepat di gerbang utama.
Sebelum mereka masuk mereka memutuskan untuk membeli minuman kedai yang berjejer dekat gerbang itu.
Sebelum mereka menghabiskan minuman itu ponsel milik Aruna berdering
__ADS_1
"Paman Era" itulah no pemanggil yang tampak di layar ponsel itu.
"Hallo paman"
"Apa kalian masi di jakarta? "
" iya paman, kami baru tiba di monas"
"Begini Una, barusan paman di hubungi oleh sahabat paman yang kemaren sempat paman tanyai soal pekerjaan untuk mu"
"Paman juga sudah betanya pada Ibumu barusan dia setuju untuk kau kembali ke Medan.
Sekarang bagaimana dengan mu nak,? Paman hanya tidak ingin kau berlama lama tak bekerja disini paman mengerti perasaan mu. Bila kau bersedia, hari ini kau akan terbang dan besok mulai bekerja " jelas paman Era
" Hari ini? Aduh paman, itu terlalu terburu buru bahkan barang barang ku masih ada di Depok. Bagaimana aku mengambilnya?" tanya Aruna
.
Terlintas di benak Aruna bahwa inilah jalan yang Tuhan berikan untuk membuat ibunya segera mengetahui persoalan Ike.
"Aku kemari untuk mengetahui Keberadaan Ninta, dan aku akan pulang membawa kenyataan dan jawaban atas pertanyaan kami belakangan ini terhadap perubahan sikap Ike" gumam gadis itu tak menutup telepon nya.
"Bagaimana kalau kau akan terbang besok? Lantas bekerja lusa? Apa kau siap? " tanya Paman Era lagi
" kalau ibu juga sudah setuju, aku akan menurut saja paman, " jawab Aruna
" Baiklah akan paman jelaskan pada sahabat paman. Sekarang bersiap lah untuk ke Depok untuk mengemas barang mu, ike pasti sudah tau jalannya. Kalian naik kereta api saja supaya lebih cepat. Setelah itu minta ike mengantarmu ke mari dan kau akan berangkat dari sini besok" jelas Paman Era dari ujung sana.
"Baik paman" tuuuut panggilan itu di akhiri.
__ADS_1
.
.