
.
.
Setelah mereka bercerita lumayan lama di koridor sepi itu.
"Ayo bersihkan dirimu dulu, setelah itu kita akan keluar untuk makan malam dan berkeliling sebentar ke kota tua" Ike mulai bangkit dari duduknya dan segera di susul oleh Aruna yang tak menyahut tapi mengikutinya dari belakang.
.
"Letakkan Ninta disini lalu mandilah, aku akan memberinya asi sebelum kita pergi" pinta Ike menepuk kasur tepat di depan nya.
Sedangkan Adi ayahnya Ninta hanya duduk bermain handphone di depan lemari hias kamar itu.
.
Aruna sempat melamun di bawah pancuran shower yang mengeluarkan air hangat itu. Air matanya bersatu dengan aliran air kran itu membasahi seluruh tubuhnya.
Aruna mulai menggosok seluruh lekuk tubuhnya tanpa expresi, pikiran nya melayang entah kemana.
Aruna selesai bersiap begitu juga dengan Ike dan Adi.
" Biar aku saja yang menggendong nya" ucap Aruna meminta kain gendong yang tergantung di bahu Ike.
Mereka berjalan menuruni anak tangga hingga ke lobby penginapan itu, Ninta sangat nyaman di pelukan Aruna, Dia tidak rewel sama sekali.
Sebelum sampai di tempat makan malam Ninta sudah tertidur dengan nyenyak nya.
.
Setelah menghabiskan makan malam masing masing mereka bergegas menuju kota tua.
Mereka melewati jalan yang di penuhi pedagang jajanan.
" Apa yang ingin kau makan? , kau akan bosan duduk disana tanpa jajanan" tanya Ike pada Aruna yang berjalan dibelakang nya.
__ADS_1
"Terserah apa saja" balas Aruna melihat lihat sekelilingnya.
.
Kota tua malam itu sangat ramai, orang duduk bertumpuk tumpuk membentuk kelompok.
Pengamen mondar mandir kesana kemari membawa alat musik seadanya.
" Mari duduk disini saja" ajak Ike mulai melepas alas kakinya dan disusul oleh Adi dan Aruna.
Adi tidak banyak bicara saat itu, ia hanya mengikuti 2 wanita itu.
.
" Apa kau akan ikut dengan kami ke Pemalang? "
Tanya ike pada Aruna.
" Tidak"
" Aku harus kembali me Depok dulu, barang barang ku masih disana, kau memberi kabar saat aku sudah di Ciputat jadi aku tidak membawa semuanya saat itu "
" oo begitu "
" Kapan kalian akan kembali? "
" besok sore aku akan mengantarkan mu kembali ke Ciputat dan lusa pagi kami akan pulang "
" Berapa lama lagi kalian akan menyimpan ini? " Mata Aruna menatap Ike dan Adi bergantian.
" Semua keluarga ku sudah tau dek, hanya saja kakakmu sangat sulit untuk jujur pada ibumu. Aku sudah membujuk nya beberapa kali untuk pulang, tapi tetap saja ia menolak " Adi mulai bersuara.
" Apa kalian sudah memikirkan kemungkinan terburuk nya saat menemui ibu? "
" apa maksud mu,? Tanya ike heran
__ADS_1
"Apa kau pikir dia hanya akan diam dan menerima semuanya dengan mudah?? Kau harus tetap memikirkan kemungkinan terburuk untuk berjaga jaga. Jadi saat plan A gagal masih ada plan B.
Kalau dia menerima nya dengan mudah itu hal bagus. Tapi apa yang kalian lakukan bila ia menolak?" jelas Aruna
.
"Tidak, dia tidak akan menolak " jawab Ike Yakin.
" Kau begitu yakin. Bagaimana kalau dia menyuruh mu untuk memilih? Apa kau akan meninggalkan Ninta dan ayahnya? "
" Tentu tidak"
"Lalu bagaimana bila ia mengusir kalian dan tidak menerima kalian? "
" Kami akan pergi dan hidup bersama hingga ia mau menerima kami" Ike melirik Adi yang hanya terdiam sambari mencerna bahasan istri dan adik iparnya itu.
"Dalam situasi ini jangan membayangkan yang enak nya saja, persiapkan batin kalian untuk semua kemungkinan terburuk sekali pun"
"Iya" balas ike singkat.
.
"Apa pun yang akan terjadi kau tidak akan melepaskan mereka kan bang? " Aruna menatap tajam ke arah Adi
" Aku akan perjuangkan mereka dek! "
" Ya.. Ku mohon selesaikan secepatnya "
.
.
Setelah bunyi alarm yang menandakan kota tua akan tutup, mereka kembali ke penginapan untuk beristirahat karna besok pagi Aruna ingin melihat lihat sebentar ke Monas.
.
__ADS_1