
Disisi lain tampak Debora dan Maranatha menunggu penuh cemas walau tak mereka ungkapkan tetap saja terlihat dari mata mereka.
Bak pucuk di cinta ulam pun tiba mata mereka serentak menoleh ke arah pintu utama yang di masuki oleh Aruna dengan pakaian basah walaupun tidak keseluruhan, tapi tetap saja dari ujung rambut hingga separuh badan nya basah oleh air hujan.
Tak langsung masuk begitu saja, Aruna terhenti di bibir pintu dan berusaha membersihkan sisa sisa air di badan nya, dengan kantong plastik tetap kokoh ia pegangi 1 tangan.
"oalah basah pakaian mu dek" ucap Maranatha tak beranjak dari duduknya,
"Apa kau ketakutan saat petir nya bergemuruh? "
Sambung Debora lagi penasaran,
"Oh sedikit" jawab Aruna singkat sambil tersenyum sedikit penuh kelegaan.
Setelah menyerahkan permintaan tuan Maranatha lengkap dengan kembalian nya, Maranatha menawarkan untuk mengantar pulang karna jam kerja memang sudah habis sesaat sebelum dirinya kembali. Dengan tidak enak hati Aruna menolak untuk kedua kalinya karna tidak mau cari masalah dengan orang tua nya yang memiliki mulut setajam silet sekaligus yg setia menjemput walaupun tengah malam.
__ADS_1
Berlalu lah Maranatha meninggalkan ke 4 wanita yang sedang membereskan tas masing-masing dan bergegas pulang karna hujan juga sudah mulai berhenti.
Kesekian kalinya Maranatha berkunjung tapi tidak melakukan transaksi dan tidak meminta dibelikan sesuatu, dia berjalan penuh percaya diri dengan Android yg dipegang nya 1 tangan mendekati Aruna, langkah nya terhenti tepat di depan steling kerja Aruna, tanpa basa basi
"Apa nama akun Facebook milikmu dek" tanyanya seolah sangat yakin bahwa gadis itu memilikinya.
Senyuman Aruna melebar dengan cepat dengan pipi yang merona "Aruna Adiwitya pak" jawab Aruna malu malu
"Sudah ku add ya" sambung Maranatha lagi tak memalingkan pandangan nya dari layar ponselnya dan berlalu begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Aruna.
Saat malam tiba setelah makan malam Aruna merebahkan tubuhnya yang sedikit lelah di tempat tidur nya yang sederhana namun memberinya kenyamanan, teringat olehnya kejadian siang tadi langsung saja ia membuka aplikasi Facebook miliknya dan mulai mencari permintaan pertemanan yang masuk, "konfirmasi" klik nya dengan cepat tanpa ragu apalagi pikiran aneh aneh.
"Ehemmm"
"Hacim"
__ADS_1
"Udah makan dek? "
" Udah bang" ucap Aruna mulai mengubah pangilan nya lantaran dari awal juga Maranatha minta di panggil abang saja.
"Baguslah, masak apa dirimu? Balasnya lagi masih di kolom komentar
"Daun ubi tumbuk dengan rimbang bang"
"Pasti enak ya"
"Bisa jadi bang" balas Aruna dan tak mendapat respon lagi.
Balas membalas komentar si postingan masing masing menjadi sering mereka lakukan, Aruna hanya merasa mendapat sosok abang dari segi perlakuan, sosok ayah dari segi usia tanpa ada maksud dan tujuan lain terhadap Maranatha yang sudah jelas memiliki keluarga itu.
Namun siapa sangka sebaliknya Maranatha sudah menaruh rasa yang berbeda pada Aruna bahkan saat pertama x menatapnya walaupun belum menyapa nya.
__ADS_1
Dia seolah menatap kembaran ibunya yang sudah tiada, dari ujung rambut sampai ujung kaki sangat mendekati, bahkan pembawaan nya saat berprilaku dan bertutur bahasa sangat mengingatkan nya pada mendiang ibunya itulah yang membuatnya semakin penasaran kepada gadis itu.
Hanya saja belum ada rasa ingin memiliki saat itu karna dia juga sadar posisinya.