Dunia Di Belahan Lain

Dunia Di Belahan Lain
Part 5


__ADS_3

Rutinitas tetap berjalan seperti biasanya, Debora sesekali bercerita tentang kisah mereka saat sebelum menikah dengan Elisa, tentu saja berkaitan dengan si hitam manis Maranatha.


Sebentar sebentar mereka tertawa, sebentar lagi terlihat serius, ya begitulah wanita saat mengibah.


Namun anehnya 4 hari sudah berlalu tanpa kunjungan pria yang sedang mereka gosipkan itu.


Sampai di hari kedatangannya itu tiba.


Tap.. Tap... Tap.. Suara langkah kaki terdengar dari pria gagah dengan perut sedikit menonjol itu memasuki ruangan lewat pintu belakang, tampaknya dia baru selesai dengan berkasnya dari percetakan belakang itu.


Dengan beberapa lembar kertas di tangannya lelaki dengan 3 anak itu langsung saja duduk di kursi yang di buat khusus untuk pelanggan tepat di hadapan Debora.


" tolong copy kan dek, rangkap 2 saja " ucap Maranatha dengan raut wajah sedikit kelelahan menyodorkan berkas dari tangan nya kepada Debora, langsung saja Debora menerimanya hanya dengan senyuman tak bersuara.


" bisakah kau membantu membelikan sesuatu dek? " sambung Maranatha lagi memalingkan wajahnya menatap Aruna yang tampak sedikit santai karna hari itu memang keadaan toko sepi lagipula jam kerja tak lama lagi akan berakhir.


Mendengar Maranatha menyapa dirinya, Aruna mendekat ke arah steling " membeli apa pak?" sahutnya,


" kakakmu minta dibelikan ikan pari basah" sambung Maranatha lagi menyebutkan istrinya seolah sudah di kenal oleh Aruna.


"tolong ya dek" tambah nya lagi serta merogoh saku celana yang ia kenakan. "jgn lupa bumbunya sekalian ya dekku" ucapnya lagi dengan posisi tangan menyodorkan sejumlah uang kertas pada Aruna.


Setelah menerima uang yang di beri oleh Maranatha, tanpa suara Aruna menatap Debora seolah meminta ijin pada seniornya itu.

__ADS_1


Debora tersenyum dan mengangguk tanda menyetujui permintaan yang tak di ucapkan Aruna.


Aruna bergegas keluar dari ruangan itu, hampir saja ia lupa menanyakan berapa banyak yang harus ia beli..


Ia membalikkan badan dan bertanya


"berapa kilo pak? "


" sekilo aja dek, bumbu nya jangan lupa ya. "


" oke"


Cuaca sore itu memang sedang mendung dan sedikit dingin.


Dengan perasaan sedikit was was ia berjalan berusaha cepat karna takut keburu hujan.


Apalagi dia sangat takut dengan yang namanya petir. Sering dia di tertawakan oleh rekan kerja nya karna gerakan spontan saat tiba tiba mendengar suara petir. Dia jongkok dengan tangan yang menutup kedua telinga dan mata yang terpejam bahkan beberapa saat setelah suara itu lenyap dia masih bertahan dengan posisinya.


Sambil menggenggam uang di telapak tangan nya Aruna bertanya pada seorang pedagang pertama yang ia dapati


"Buk, ada ikan pari basah? "


" habis" jawab pedagang itu cuek.

__ADS_1


Ia melanjutkan langkah nya menuju kios selanjutnya


" Buk ada ikan pari basah? "


" mau berapa kilo? " kembali bertanya pada Aruna


" sekilo aja buk, potong ya " tambah nya.


Transaksi terjadi, sesaat setelah selesai Aruna kembali melangkah menuju kios bumbu dengan langkah yang sedikit susah lantaran jalan di tengah pasar itu memang becek.


Langsung saja ia memesan bumbu itu, benar saja sebelum bumbu pesanan nya selesai di racik si penjual, hujan turun dengan derasnya sesekali memperlihatkan kilauan yang disusul suara setelahnya,


Kepanikan terpancar di wajahnya saat itu juga,


Tak mau terjebak lama di sana karna hari juga akan semakin gelap, Aruna memaksakan kakinya untuk melangkah dengan perasaan takut melawan phobianya itu.


Berkali kali ia tiba tiba berhenti dari larinya dan terpaku menutup telinga dengan 1 tangan dengan mata terpejam karna mendengar suara petir yang bergerumuh.


Tak bersuara namun ketakutan terpancar di wajah nya.


"sedikit lagi, sedikit lagi


Ayolah, sedikit lagi, ku mohon ayolah" ucapnya dalam hati menyemangati diri sendiri.

__ADS_1


__ADS_2