
.
.
"bagaimana bila aku benar benar menyayangi dan menginginkan mu lebih dari yang kau bayangkan? " lirih Aruna tak melepaskan diri dari dada bidang Maranatha yang langsung bersentuhan dengan kulitnya, pasalnya mereka baru saja selesai memadu cinta.
Maranatha setengah terduduk dan bersandar di kepala ranjang sedangkan Aruna meletakkan kepalanya di dada Maranatha dan melingkarkan lengan nya di perut Maranatha yang berisi dan sedikit membusung ke atas.
Setelah ibu Aruna pulang, mereka sudah bisa kembali bertemu dan melepas rindu.
"hei.. Itu yang ku tunggu,, apa kau belum mencintai ku??
Apa yang kita lakukan barusan bukan perbuatan yang pantas di lakukan dengan sembarangan orang. Kau paham? " Maranatha sedikit membesarkan bola matanya mendengar pertanyaan Aruna.
" Bila kau tak mencintaiku, lantas mengapa mau mengulang nya sampai aku sudah lupa ini yang keberapa? " sambungnya lagi mulai bergeser dan meraih pipi Aruna.
Diremasnya pipi yang sedikit chuby itu dan menatap matanya.
" Apa kau pikir aku hanya bermain main dengan mu? " dengan serius mata Maranatha mengunci pergerakan Aruna.
" Ehm.. Tidak, bukan begitu. Hanya saja... " kalimat nya terhenti oleh bibir Maranatha yang mel*mat bibirnya pelan.
Di tutup Aruna matanya menikmati kecupan itu.
Telapak tangan nya melapis telapak tangan Maranatha di pipinya sendiri.
Mata Maranatha mengamati tajam wajah Aruna dalam menyambut serangan dadakan nya. Dilihatnya dan di tunggu nya kelopak mata itu hingga terbuka kembali.
"Aku Mencintaimu Aruna " bisik Maranatha di sela sela ciuman itu.
__ADS_1
" Eumhh" desah Aruna mengangguk pelan.
"apa lagi yang kau ragukan? " tanya Maranatha melepas kecupan nya.
" istri dan anak anak mu" Aruna mulai tertunduk.
"Aku akan memperjuangkan mu. Apa kau tidak bersedia menjadi istri ku walaupun yang ke dua?"
"Oke buatlah aku mau jadi istri kedua mu. Apa anak anak mu akan bersedia menerima ku?
Apa istri mu juga mau berbagi dengan ku? "
Tanya Aruna dengan tatapan tajam.
" Yang aku butuhkan saat ini adalah komitmen mu Aruna. Bila kita sudah memiliki komitmen untuk berjuang bersama. Apa yang kita hadapi nanti akan terasa mudah. Soal anak anak aku yang akan memberi pengertian. Mungkin belum saat ini tapi pasti mereka akan mengerti.
Soal Elmi aku tidak mau ambil pusing.
Kalau dia mau berbagi ya silahkan, kalau dia juga tidak mau berbagi ya silahkan. Yang jelas kau harus jadi istriku " jelas Maranatha membujuk Aruna.
" Soal kak Elmi mungkin aku bisa memberikan 1001 teori pembenaran diri untuk membenarkan posisiku, tapi apa yang harus aku katakan bila suatu hari yang menyerangku adalah anak anak mu? " sambung Aruna cemas
" Hanya soal waktu saja, hubungan ini tak mungkin kita sembunyi kan terus menerus. Apa yang akan kita katakan pada mereka? " imbuh nya lagi
"Lihat aku!" wajah Aruna terangkat oleh kedua tangan Maranatha
"Apa kau mencintaiku.?" tanya Maranatha dijawab Dengan anggukan oleh Aruna.
"Apa kau mau berkorban demi aku? "
__ADS_1
karna walau bagaimana pun kondisi tubuh Aruna didapati Maranatha ia tetap seorang gadis. Dan menjadi istri ke dua itu adalah pengorbanan besar menurut Maranatha.
Aruna membalas dengan anggukan.
" Kalau mau, mari berjuang bersama untuk hubungan kita. Perjuangkan rasa cinta mu padaku dan ku perjuangkan posisi mu di hidupku hingga kita bisa bersama. "
" Aku mengerti " jawab Aruna ingin memeluk tubuh Maranatha.
Tapi terhenti karna kedua bahunya di tahan oleh Maranatha.
" Kalau kau mengerti, maka.... Bertanggung jawab lah atas benda ini" lirik Maranatha ke arah bawah perutnya tampak sesuatu yang tegab berdiri.
"Whoaoaa" regek Aruna dengan muka merah padam baru ia sadari sedari tadi mereka berbalas kata tanpa busana.
"Siapa suruh kau tak mengenakan apa apa di depan ku sayang,, kau ingin mengodaku ya.. Kemari dan rasakan lah" goda Maranatha menarik leher Aruna pelan.
"Dasar pria mesum,, woaaa" Aruna hendak mengelak namun gagal.
Bibir tebal nya di ***** lembut oleh Maranatha.
Dada sekal nya tak luput dari jemari tangan Maranatha.
Kembali mereka hanyut dalam kemesraan dan kehangatan cinta.
"Jangan memberikan nya pada lelaki lain selain aku, kau paham? Semua ini milik ku" lirih Maranatha tak menghentikan kegiatannya
"Eumhhh.. Oouhh.. Iiiyya, aku pa paham" jawab Aruna yang tersedak sedak oleh tubuh Maranatha, di atasnya.
Desahan Aruna memenuhi ruangan itu sampai akhirnya mereka terlelap kelelahan..
__ADS_1
.
.