Dunia Di Belahan Lain

Dunia Di Belahan Lain
Part 31


__ADS_3

.


.


Disisi lain, setelah mengetahui kebenaran anak sulung nya ibu Aruna langsung berkekad untuk terbang mengunjungi Ike.


Sebelum berangkat Ibu Aruna memintanya untuk pulang saat ada waktu untuk melihat ke 2 adik nya yang tinggal di rumah.


Jadilah off kali ini Aruna berniat untuk pulang ke rumah nya dikarnakan hari ini dia pulang sore, ia ingin langsung berangkat dengan bus jalan malam.


"Kau mau kemana" tanya win melihat Aruna mengemasi barang barang nya dengan ransel.


"Pulang, besok kan off" jawab Aruna tak menghentikan aktivitas nya.


Sedangkan Ria hanya sibuk dengan video call nya.


Sehabis mandi wanita itu memang selalu ber vc ria dengan kekasihnya.


"Boleh aku ikut? " tanya Win menatap Aruna.


" Jangan, nanti kau tidak tahan"


"Kenapa? "


" Disana sangat dingin"


"Apa rumahmu jauh dari Berastagi? "

__ADS_1


" paling setengah jam dari sana"


"Ayolah aku mau ikut, lagi pula besok aku tidak tau apa yang harus ku lakukan di rumah"


Jadwal mereka memang sama.


Win langsung bergegas meraih ransel nya dan mengisi dengan perlengkapan untuk berangkat


Sebenarnya Aruna sedikit ragu mengajak Teman nya itu, lantaran Win dan Ria kelihatan nya orang berada di didukung juga dengan gaya hidup dan gaya bicara mereka.


Melihat 2 teman nya bersiap, Ria bangkit dari golek nya.


"Kalian mau kemana? Tanyanya mulai mencarger ponselnya, ya,,, kalau ponsel tidak lowbet mungkin sampai pagi pun dia betah dengan aktivitas nya.


"Kami mau pulang ke kampung Aruna, sekalian cuci mata" jawab Win menggoyangkan alisnya naik turun.


" Selamat menikmati kamar besar ini seorang diri" tawa Win langsung pecah setelah mengucapkan kalimat itu.


"ho.. Ho.. Ho.. Jangan harap kalian bisa pergi tanpa ku..! " ria bergegas membereskan pakaian nya buru buru takut di tinggal 2 teman nya.


" Cepatlah kalau kalian yakin ingin berangkat, nanti kita ketinggalan bus" suara Aruna tidak begitu bersemangat khawatir teman nya itu akan mengeluh disana.


Setibanya di Desa yang di tuju, mereka turun dari kendaraan umum yang mereka tumpangi.


Butuh waktu 5 menit untuk sampai di rumah Orang tua Aruna.


Sepanjang perjalanan Mereka tak banyak bicara karna udara sangat dingin hingga menembus jaket yang mereka kenakan.

__ADS_1


Kreek suara pintu depan di buka dari luar, tampak lah ke 2 adik Aruna Sedang asik menonton televisi. Aruna mempersilahkan Win dan Ria masuk.


Tak salah lagi, mereka saling betatap mata melihat seisi rumah itu.


Rumah itu memang sangat sederhana, dinding kayu yang sepertinya sudah berumur masih kokoh menjadi dinding yang melindungi mereka dari derpaan angin.


Atap yang mulai rapuh akan terlihat memprihatinkan bagi kalangan menengah ke atas. Tapi bagi mereka yang sudah biasa dengan kesederhanaan itu sudah lebih dari cukup.


Aruna mempersiapkan ambal dan sprei untuk kedua teman nya tidur. Ya alakadarnya saja.


Semangat yang berkobar sebelum berangkat sudah tak terlihat lagi malam itu.


Aruna hanya berusaha santai memperlakukan tamu yang tak lain adalah rekan kerja sekaligus teman sekamarnya itu.


Saat pagi tiba, Maranatha meminta gadis nya itu menemui nya ke kota yang tak jauh dari rumah Aruna.


"Ajak saja mereka, kalian bisa ke salon dekat percetakan lama. Aku ada urusan disana setelah selesai aku akan menyusul " pinta Maranatha lewat telepon.


" Ya sudah kalau begitu " jawab Aruna sibuk dengan wajan nya, dia memang sedang memasak.


Saat makan bersama Aruna mengutarakan rencana untuk ke salon tapi tidak memberitahukan dengan siapa mereka pergi.


Win dan Ria hanya mengangguk menandakan setuju.


.


.

__ADS_1


__ADS_2