Dunia Di Belahan Lain

Dunia Di Belahan Lain
Part 12


__ADS_3

Sejak Aruna mengatakan rencana kepergian nya pada Maranatha, bayangan Aruna selalu berdiam diri di kepala Maranatha


Bagaimana bisa di statusnya seperti sekarang ini dia malah jatuh hati pada gadis yang hampir sebaya dengan anak sulungnya vhani.


Bila di utarakan, apakah Aruna juga mau membalas rasanya??


Apa Aruna tidak akan menertawakannya?


Pikiran nya kacau, tak pernah ia rasakan terbebani hanya karna wanita, bahkan istri nya sekalipun. Karna Maranatha memang tak mau ambil pusing soal wanita. Namun berbeda rasanya terhadap gadis yang menurut nya mirip bahkan sampai seperti photocopy dengan ibunya itu.


Aruna benar benar membuatnya seperti orang gila.


Senin pagi,


Setibanya di bandara, Aruna langsung cek in karna ia berangkat berdua dengan nenek nya yang kebetulan juga ingin mengunjugi anak ke 3 nya di kota Depok. Aruna akan menginap di sana dan menunggu di jemput oleh kak Ike ke sana.


Mereka duduk di ruang tunggu, Aruna memberi kabar pada Maranatha lewat pesan singkat. Tak mendapat balasan malah dering pangilan masuk ke ponsel Aruna karna Maranatha menelepon nya

__ADS_1


"hallo" dengan semangat Aruna menyapa


"kami sudah di ruang tunggu bang" sambungnya lagi


"iya adekku,, semangat ya sayang. Berdoa lah saat akan berangkat. Turun dari pesawat nanti beri kabar padaku ya" nada suara Maranatha pasrah melepas kepergian gadisnya itu.


Aruna menghirup nafas dalam dan melepaskannya dari mulut


"baiklah bang, abang juga jaga kesehatan ya" balas Aruna dengan penuh keyakinan


Aruna dan nenek nya berjalan pelan memasuki badan pesawat. Saat cek in Aruna memang sengaja meminta kursi dekat jendela supaya lebih menikmati perjalanan. Matanya memandang jauh menembus awan, pikiran nya kosong, ia hanya melamun sepanjang perjalanan.


2 jam 10 menit berlalu akhirnya pesawat itu mendarat di pulau jawa. Sambil berjalan menunggu antrian untuk turun dari badan pesawat Aruna mengaktifkan kembali ponsel mililnya dan langsung menghubungi Maranatha, entah apa yang ada di pikiran nya ia merasa seolah di tunggu oleh pria itu. Penuh percaya diri ia memberi kabar


"kami sudah tiba di bandara bang, mau turun dari pesawat, " mulai Aruna


" kemana tujuan mu selanjutnya dek? "

__ADS_1


" aku akan ikut dengan nenek ke Depok tempat paman yang ke 3 bang, mungkin beberapa hari ini nanti Kak Ike akan menjemput ku kesana" jawab Aruna tak menghentikan langkah nya mengikuti neneknya di depan.


"Baiklah kalo begitu dek, jgn lupa sering kasi kabar ya" pinta nya seolah anak ABG saja.


Setibanya di kediaman Paman Jesaya dan bibi Seni, Aruna langsung membersihkan diri dan mengganti pakaian nya. Malam harinya dia memberi kabar pada Ike dan meminta mengatur waktu untuk menjemput nya.


Aruna tampak santai di rumah mewah milik pamannya itu, kebetulan paman Jesaya adalah seorang dosen, jadi sangat jarang berada di rumah sedangkan bibi seni membuka kios pakaian di pasar yang tak jauh dari rumah mereka.


Anak sulung paman Jesaya adalah Eliana, dia disibukkan aktivitas kuliahnya dan Michael adiknya duduk di bangku SMP.


Semua pekerjaan rumah saat itu juga di ambil alih oleh Aruna, mulai dari membersihkan rumah besar itu, menyetrika pakaian sampai memasak untuk keluarga itu. Aruna memang sudah biasa mengerjakan itu semua. Sesekali ia mengantar Adik sepupunya Michael ke sekolah, bila ia bosan ia akan menyusul bibi Seni ke pasar untuk liat liat.


Begitulah hari hari Aruna Di sana.


.


.

__ADS_1


__ADS_2